Mindfulness sebenarnya soal ‘mengingat’: latihan untuk kembali ke momen saat ini
- Written by Jeremy David Engels, Liberal Arts Endowed Professor of Communication, Penn State
Bagi banyak orang, Tahun Baru menghadirkan peluang untuk memulai hal baru.
Belakangan, semakin banyak orang menyambut tahun baru dengan resolusi untuk mempraktikkan mindfulness[1] sebagai salah satu tipe meditasi. Banyak yang meyakini bahwa praktik mindfulness akan membuat lebih rileks, mengurangi stres dan kecemasan, serta meredakan nyeri kronis[2].
Sebuah penelitian[3] bahkan mengungkapkan bahwa mindfulness dapat meningkatkan kualitas hidup secara umum.
Dalam 40 tahun terakhir, mindfulness sudah berkembang menjadi praktik meditasi yang populer di seluruh dunia[4]. Awalnya, latihan ini berakar pada tradisi Buddha untuk meredakan penderitaan.
Namun saat ini, praktik tersebut sudah dipisahkan dari konteks keagamaannya dan dibingkai sebagai pendekatan ilmiah modern[5] yang tidak terlalu mengaitkan[6] pada akar Budhhisme[7].
Berbagai penelitian di universitas menunjukkan manfaat[8] meditasi mindfulness. Belakangan, meditasi ini pun kerap dipraktikkan di sekolah[9], kantor pemerintahan[10], olahraga profesional[11], penjara[12], kepolisian[13], bahkan dunia militer[14].
Berbagai aplikasi populer seperti Headspace, Calm, dan Insight Timer juga memberikan kemudahan bagi siapapun untuk mengakses meditasi terpandu dengan mudah.
Perusahaan juga melihat adanya tren meditasi tersebut dan kerap menganjurkan[15] karyawan untuk mempraktikkan mindfulness agar lebih produktif dalam pekerjaan. Praktik mindfulness pun kini berubah menjadi sangat ramah bisnis hingga dijuluki sebagai “spiritualitas kapitalis”[16].
Saya merupakan seorang peneliti yang mempelajari mindfulness, komunikasi, dan etika[17]. Saya juga sudah lama menjadi pengajar meditasi.
Bagi siapapun yang tahun ini ingin mulai berlatih mindfulness, saya ingin mengajak untuk kembali mempraktikkan meditasi tersebut pada akar Budhhisnya. Hal ini dilakukan untuk menyoroti satu hal yang mungkin akan mengejutkan, bahwa mindfulness sebenarnya memiliki arti “mengingat”.
Menjaga diri tetap hadir saat ini
Seorang master Zen asal Vietnam yang juga biksu, penyair, dan aktivis perdamaian, yakni Thich Nhat Hanh[18], menyebutkan bahwa mindfulness adalah “inti”[19] dari ajaran Buddha.
Ia mendefinisikan mindfulness sebagai latihan untuk “menjaga kesadaran seseorang agar tetap hidup pada kenyataan yang terjadi saat ini”[20]. Masa lalu sudah berlalu dan masa depan belum terjadi. Hanya pada masa kini kita memiliki kendali dan kebebasan[21].
Dalam bahasa Pali Kuno, kata yang diterjemahkan sebagai “mindfulness” adalah “sati”[22]. Kata ini berkaitan erat dengan verba sarati[23], yang berarti “mengingat”.
Namun, “mengingat” di sini bukan berarti mengulang-ngulang masa lalu atau terjebak pada peristiwa yang sudah lewat. Sebaliknya, ia bermakna “mengingat untuk kembali pada momen sekarang”[24].
Peneliti Jenny Odell[25] menyebut bahwa “ekonomi perhatian”[26] pada budaya kita, telah mengubah perhatian individu menjadi komoditas yang bisa dibeli dan dijual.
Sebagian besar kehidupan modern dirancang untuk mengalihkan kita dari apa yang terjadi di sini dan saat ini. Hal ini amat benar, terutama dunia sosial media yang dalam bentuk terburuknya membanjiri kita dengan konten yang mengganggu dan membingungkan. Setiap hari, kita terus menerus digoda untuk hadir dan larut dalam layar.
Terkadang, hal yang paling sulit diingat[27] adalah untuk hadir pada momen saat ini. Karena itu, mindfulness merupakan latihan untuk “mengingat pulang” ke saat ini, ketika begitu banyak gangguan dan dorongan yang membuat kita lupa.
Mengingat alasan kita berlatih
Dalam tradisi Budhhis, mindfulness juga bermakna untuk mengingat kembali alasan awal kenapa kita melakukan meditasi itu sendiri.
Awalnya, mindfulness merupakan 1 dari 8 praktik yang Buddha ajarkan untuk menghadapi penderitaan. Delapan praktik tersebut saat ini dikenal sebagai jalan mulia berunsur delapan[28]. Hal yang termuat di dalamnya termasuk meliputi segala sesuatu yang benar mengenai cara pandang, pikiran, ucapan, tindakan, kesungguhan, konsentrasi, perhatian, serta penghidupan seseorang.
Meskipun mindfulness secara tradisional berada di urutan ketujuh, Nhat Hanh mengusulkan[30] agar praktik ini dapat ditempatkan di urutan pertama. Menurutnya, hal ini dikarenakan setiap langkah dalam jalan tersebut pertama-tama membutuhkan mindfulness.
Secara keseluruhan, kedelapan praktik ini dirancang untuk membantu seseorang menghadapi penderitaan, mengubahnya, serta menemukan kebahagiaan dalam hidup.
Menurut para guru Budhhis, alasan untuk melakukan latihan mindfulness adalah untuk mengatasi penderitaan dalam diri kita sendiri[31]. Tujuan dari mindfulness bukan untuk membuat kita sekadar lebih produktif di tempat kerja, pun untuk relaksasi semata.
Sebaliknya, mindfulness adalah upaya transformasi diri. Dengan menumbuhkan perhatian yang dalam, stabil, jujur, dan terbuka, kita bisa melihat secara mendalam penderitaan yang ada serta memahami apa penyebabnya.
Saat penyebab dan kondisi penderitaan tersebut kita sadari, barulah kita bisa memperbaikinya agar beban yang kita rasakan menjadi berkurang. Semakin sedikit menderita, semakin mudah bagi kita menghadapi momen saat ini. Semakin mudah juga bagi kita untuk menghadapi hidup sendiri tanpa menambahkan penderitaan lain di dunia.
Mungkin, dengan tekad yang cukup kita juga bisa ikut meringankan penderitaan di dunia[32].
Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.
References
- ^ mempraktikkan mindfulness (www.psychologytoday.com)
- ^ serta meredakan nyeri kronis (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ penelitian (theconversation.com)
- ^ mindfulness sudah berkembang menjadi praktik meditasi yang populer di seluruh dunia (global.oup.com)
- ^ pendekatan ilmiah modern (global.oup.com)
- ^ tidak terlalu mengaitkan (wisdomexperience.org)
- ^ pada akar Budhhisme (www.shambhala.com)
- ^ manfaat (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ sekolah (www.npr.org)
- ^ kantor pemerintahan (www.garrisoninstitute.org)
- ^ olahraga profesional (www.sciencenews.org)
- ^ penjara (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
- ^ kepolisian (cops.usdoj.gov)
- ^ militer (www.nytimes.com)
- ^ kerap menganjurkan (davidgelles.com)
- ^ “spiritualitas kapitalis” (www.youtube.com)
- ^ peneliti yang mempelajari mindfulness, komunikasi, dan etika (yogaprof.substack.com)
- ^ Thich Nhat Hanh (plumvillage.org)
- ^ “inti” (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ “menjaga kesadaran seseorang agar tetap hidup pada kenyataan yang terjadi saat ini” (www.parallax.org)
- ^ kita memiliki kendali dan kebebasan (theconversation.com)
- ^ kata yang diterjemahkan sebagai “mindfulness” adalah “sati” (doi.org)
- ^ sarati (www.windhorsepublications.com)
- ^ “mengingat untuk kembali pada momen sekarang” (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ Jenny Odell (www.jennyodell.com)
- ^ “ekonomi perhatian” (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ hal yang paling sulit diingat (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ jalan mulia berunsur delapan (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ Steve Cray/South China Morning Post via Getty Images (www.gettyimages.ch)
- ^ Nhat Hanh mengusulkan (www.parallax.org)
- ^ mengatasi penderitaan dalam diri kita sendiri (www.penguinrandomhouse.com)
- ^ meringankan penderitaan di dunia (plumvillage.org)
Authors: Jeremy David Engels, Liberal Arts Endowed Professor of Communication, Penn State





