Dari nanas hingga rami, berlimpah potensi serat dan pewarna alami pakaian di Indonesia
- Written by Ahmad Satria Budiman, Lecturer in Textile Engineering, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta
● Industri fashion menyumbang emisi karbon dan pencemaran besar, terutama dari bahan sintetis dan proses kimia dalam produksinya.
● Serat alam seperti rami dan daun nanas serta pewarna alami (ecoprint) bisa jadi solusi tekstil berkelanjutan di Indonesia.
● Diperlukan integrasi dan dukungan teknologi untuk membangun ekosistem tekstil ramah lingkungan dari hulu ke hilir.
Sepotong baju yang tergantung di etalase toko atau yang kita pakai sehari-hari, sesungguhnya menyimpan jejak karbon yang panjang sejak awal proses pembuatannya. Mulai dari pemilihan bahan baku, pemintalan, pewarnaan, hingga penyempurnaan (finishing), semuanya menyumbang emisi[1].
Apalagi, sebagian pakaian modern saat ini terbuat dari serat sintetis seperti poliester, nilon, atau akrilik—yang berasal dari minyak bumi, yang membuatnya sulit terurai secara alami.
Menurut data United Nations Environment Programme (UNEP), industri fashion menyumbang sekitar 10% emisi karbon global[2] dan 20% limbah air dunia. Pakaian berbahan sintetis juga menjadi sumber pencemaran mikroplastik[3] di darat maupun laut.
Selain itu, pewarna berbasis logam berat dan bahan kimia berbahaya yang banyak digunakan dalam industri tekstil kerap mencemari sungai dan tanah[4]—umum terjadi di negara-negara berkembang.
Perputaran tren yang sangat cepat dalam industri fesyen—atau yang dikenal dengan istilah fast fashion—semakin memperparah timbunan limbah tekstil.
Solusi atas kompleksnya permasalahan limbah industri ini tentu tidak sederhana. Namun, langkah awal bisa dimulai dengan memilih bahan-bahan serat dan pewarna alami dalam proses produksi maupun konsumsi fesyen berkelanjutan.
Read more: 'Slow fashion': Cara tampil gaya tapi tetap bertanggung jawab[5]
Potensi serat alam alternatif di Indonesia
Indonesia sebenarnya memiliki potensi besar serat alam[6] yang bisa menjadi alternatif, seperti serat rami dan daun nanas. Keduanya tersedia melimpah sebagai hasil samping dari sektor pertanian.
Produksi nanas nasional misalnya, mencapai sekitar 3,15 juta ton[7] pada 2024, dan menghasilkan limbah daun nanas yang melimpah.
Setiap 1 ton nanas segar bisa menghasilkan sekitar 100 kg limbah daun nanas[8], sehingga ada potensi 315.000 ton limbah daun per tahun. Potensi ini tentunya bisa dimanfaatkan untuk mencetak cuan[9] dari industri tekstil berkelanjutan.
Riset menunjukkan[10], selain ramah lingkungan dan mudah terurai, serat-serat ini juga memiliki siklus tumbuh yang cepat—hanya sekitar 3 bulan, hemat air, dan minim penggunaan pestisida. Selama masa tumbuhnya, tanaman seperti rami juga mampu menyerap karbon dalam jumlah signifikan.
Sayangnya, pemanfaatan serat alam di Indonesia masih minim. Kendala utamanya antara lain keterbatasan teknologi pengolahan dan belum terbangunnya ekosistem industri yang mendukung produksi skala besar dengan kualitas yang stabil.
Pengolahan serat alam memerlukan penguatan teknologi seperti proses dekortikasi[11]—proses awal untuk memisahkan serat dari batang atau daun— dan degumming, yaitu tahapan lanjutan untuk menghilangkan zat-zat non-serat agar menghasilkan bahan lebih halus dan siap diproses menjadi kain.
Jika teknologi ini tersedia dengan baik dan mudah diakses, Indonesia dapat memproduksi serat lokal berkualitas tinggi yang mampu bersaing dengan bahan impor.
Sayangnya, pengembangan teknologi pengolahan serat alam ini masih menghadapi berbagai kendala, terutama ekonomi. Biaya produksinya tinggi, terutama untuk peralatan industri dan bahan baku, membuat teknologi ini kurang kompetitif dibanding impor serat sintetis atau kapas.
Sementara itu, insentif pemerintah, seperti subsidi atau program skala besar, juga minim.
Warna dari alam: Potensi ecoprint
Ecoprint adalah teknik yang memanfaatkan zat warna alami dari daun dan bunga, lalu diaplikasikan langsung ke permukaan kain. Hasilnya tak hanya unik dan artistik, tetapi juga lebih aman bagi lingkungan.
Metode yang digunakan[12] bisa melalui teknik kukus (steaming) atau teknik pukul (pounding), tergantung bahan yang digunakan dan efek visual yang diinginkan.
Sayangnya, ecoprint masih sering dianggap sebagai produk kerajinan semata dengan daya tahan warna[13] yang kerap diragukan.
Padahal, dengan pendekatan riset yang tepat, ecoprint bisa dikembangkan menjadi produk tekstil fungsional dengan daya tahan warna yang cukup kompetitif dibadingkan produk-produk saat ini[14].
Membangun ekosistem tekstil berkelanjutan
Industri pengembangan serat alam dan ecoprint di Indonesia sebenarnya sudah mulai tumbuh[15], tapi cenderung berjalan sendiri-sendiri alias belum terhubung secara ekosistem. Padahal, keduanya punya potensi besar jika diselaraskan dalam rantai industri yang terintegrasi dari hulu ke hilir.
Bayangkan jika kain yang dibuat dari serat rami atau daun nanas hasil olahan lokal, lalu diwarnai dengan teknik ecoprint yang sudah terstandarisasi. Produk semacam ini akan jauh lebih ramah lingkungan, baik dari segi tampilan maupun proses produksinya.
Model integrasi ini membuka peluang besar untuk mendorong inovasi dan kolaborasi riset, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan industri tekstil berbasis sumber daya lokal. Industri seperti ini dapat menjadi lebih mandiri dan mengurangi ketergantungan pada bahan baku impor.
Keberlanjutan tekstil bukan hanya soal mengikuti tren, tetapi tentang membentuk industri yang lebih inovatif, lebih manusiawi, dan lebih ramah lingkungan untuk masa depan.
Sebagai konsumen, kita mungkin merasa kecil di tengah perkembangan pesat industri ini. Meski begitu, perubahan bisa dimulai dari langkah sederhana, seperti memilih bahan yang lebih ramah lingkungan, mendukung produk dari serat alam, dan menggunakan pewarna alami seperti ecoprint.
Langkah kecil ini barangkali belum mampu mengubah industri secara drastis. Namun, setiap keputusan yang kita ambil hari ini akan membentuk wajah industri tekstil di masa depan.
References
- ^ emisi (unfccc.int)
- ^ emisi karbon global (www.unep.org)
- ^ pencemaran mikroplastik (earth.org)
- ^ mencemari sungai dan tanah (pisrt.org)
- ^ 'Slow fashion': Cara tampil gaya tapi tetap bertanggung jawab (theconversation.com)
- ^ serat alam (journal.ipb.ac.id)
- ^ 3,15 juta ton (lestari.kompas.com)
- ^ 100 kg limbah daun nanas (kumparan.com)
- ^ cuan (finance.detik.com)
- ^ Riset menunjukkan (doi.org)
- ^ dekortikasi (cals.ncsu.edu)
- ^ Metode yang digunakan (journal.unilak.ac.id)
- ^ daya tahan warna (jse.serambimekkah.id)
- ^ daya tahan warna yang cukup kompetitif dibadingkan produk-produk saat ini (www.semanticscholar.org)
- ^ mulai tumbuh (finance.detik.com)
Authors: Ahmad Satria Budiman, Lecturer in Textile Engineering, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta




