Bagaimana agar dana iklim global benar-benar mengalir sampai ke tapak
- Written by Abimanyu Arya Atmaja Abdullah, Asisten Riset, Universitas Gadjah Mada
● Ada kesenjangan besar dalam pendanaan iklim Indonesia.
● Mayoritas pendanaan iklim berasal dari luar APBN, tapi penyalurannya juga belum optimal.
● Akses dan realisasi pendanaan ke tingkat lokal masih sangat lemah.
Indonesia menghadapi kesenjangan besar dalam pendanaan untuk menghadapi krisis iklim. Pendanaan ini biasanya digunakan untuk mendukung upaya adaptasi dan mitigasi perubahan iklim, seperti mengurangi emisi gas rumah kaca melalui pengembangan sumber energi terbarukan, atau mengurangi dampak lingkungan melalui penanaman mangrove.
Berdasarkan kajian Climate Policy Initiative (CPI)[1], Indonesia membutuhkan setidaknya US$285 miliar (setara Rp4.830 triliun) untuk memenuhi target kontribusi nasional untuk mengurangi emisi gas rumah kaca (NDC) pada 2030.
Sementara itu, pemerintah hanya mampu mengalokasikan anggaran[2] US$96,9 miliar (setara Rp1.642 triliun) atau sekitar 34% dari total kebutuhan tersebut. Sementara kontribusi lembaga keuangan baru mencapai US$41,67 miliar (Rp706 triliun) atau sekitar 15%. Artinya, masih ada celah sebesar 51% yang harus segera dipenuhi.
Untuk mengisi gap pendanaan ini, Indonesia amat memerlukan pendanaan yang bersumber dari luar kas negara, seperti investasi swasta dan dukungan internasional.
Selain itu, pengelolaan dana iklim dari sumber-sumber tersebut masih menghadapi tantangan, khususnya dalam meningkatkan kapasitas penyerapan dan memastikan dampaknya tersalurkan secara efektif hingga ke tingkat tapak.
Siapa yang mendanai?
Kajian Climate Policy Initiative (CPI)[3] sepanjang periode 2015-2021 menunjukkan, proporsi investasi antara publik dan swasta yang terkumpul dari sektor finansial hampir seimbang.
Lembaga keuangan publik (public finance institutions) berkontribusi sekitar US$20,9 miliar (setara Rp351 triliun) dan didominasi oleh lembaga pembangunan. Mayoritas di antaranya berupa pinjaman berbunga dan pinjaman lunak.
References
- ^ Climate Policy Initiative (CPI) (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ mengalokasikan anggaran (unfccc.int)
- ^ Climate Policy Initiative (CPI) (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ rasio pencairannya baru mencapai 40% (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ sektor energi (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ 19 proposal (gggi.org)
- ^ 19 proyek GCF (climateprojectexplorer.org)
- ^ 4% dari total proyek yang disetujui (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ COP 30 di Brasil mencerminkan krisis tata kelola iklim global (theconversation.com)
- ^ Salah satu kendala (www.climatepolicyinitiative.org)
- ^ kecil (hingga US$50 juta) dan mikro (hingga US$ 10 juta) (fiskal.kemenkeu.go.id)
- ^ lembaga internasional (www.greenclimate.fund)
- ^ Bagaimana dunia seharusnya memahami dana 'loss and damage': Pelajaran dari pesisir Jakarta (theconversation.com)
- ^ jembatan antara donor dan komunitas (doi.org)
- ^ Gembar-gembor aksi iklim Indonesia berbanding terbalik dengan nasib pahit pekerja informalnya (theconversation.com)
- ^ langkah berikut (www.greenclimate.fund)
Authors: Abimanyu Arya Atmaja Abdullah, Asisten Riset, Universitas Gadjah Mada




