Asian Spectator

Men's Weekly

.

Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit

  • Written by Dian Nurmansyah, Dosen dan Mahasiswa Program Doktor, Universitas Gadjah Mada

● Infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis picu strongyloidiasis yang menyebabkan gangguan pencernaan, hingga kematian.

● Selain strongyloidiasis, peneliti menemukan kasus cacingan lain di Kalimantan Selatan.

● Kondisi sosial dan lingkungan setempat memperbesar risiko masyarakat terkena cacingan.

Cacingan bukanlah masalah sepele[1]. Tanpa disadari, infeksi cacing parasit tertentu bisa merusak organ tubuh anak maupun dewasa, bahkan berisiko memicu kematian[2].

Salah satu yang berbahaya adalah infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis yang menyebabkan strongyloidiasis[3]. Meski sering kali tidak menimbulkan gejala, dalam beberapa kasus[4] jenis penyakit infeksi parasit ini bisa menyebabkan penyintas mengalami sakit perut, diare, sesak napas, dan muntah.

Saat jumlah cacing S. stercoralis dalam tubuh makin banyak dan tidak terkendali, hiperinfeksi[5] bisa terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti malabsorbsi (gangguan penyerapan nutrisi di usus), pneumonia (radang paru), hingga meningitis (radang selaput otak dan saraf tulang belakang).

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) Amerika Serikat, mengatakan bahwa 90% kasus hiperinfeksi strongyloidiasis[6] bisa berujung kematian.

Hingga tahun 2021[7], strongyloidiasis telah menyerang lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia. Sayangnya, kasus cacingan ini belum tercatat dengan baik di Indonesia. Namun, penelitian kami tahun 2024[8] menemukan empat kasus strongyloidiasis pada orang usia 40-70 tahun di Kalimantan Selatan (Kalsel)—setelah laporan terakhir pada periode 1970-an.

Kondisi sosial dan lingkungan berpengaruh

Kondisi alam Kalimantan Selatan[9]—yang dikelilingi sungai, didominasi rawa, tanah gembur, serta curah hujan dan kelembapan tinggi—sangat ideal bagi pertumbuhan cacing seperti S. stercoralis.

Kami menyelidiki kasus cacingan di kawasan ini dengan meneliti tinja 244 warga berusia 5-80 tahun di Desa Tambak Danau, Kalsel.

Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit
Kondisi lahan persawahan di Kalimantan Selatan yang berair, bertekstur tanah gembur, dan sedikit berlempung jadi lingkungan yang baik bagi perkembangan ‘Strongyoides stercoralis’. Authors provided.

Selain mendapati kasus infeksi cacing gelang S. stercoralis, kami menemukan sembilan warga terinfeksi cacing gelang Ascaris lumbricoides, empat orang terinfeksi cacing tambang, dan satu orang terinfeksi cacing cambuk Trichuris trichiura.

Infeksi keempat cacing parasit tersebut bisa membahayakan kesehatan, terutama kelompok rentan dengan kekebalan rendah, seperti anak-anak dan lansia.

Infeksi Ascaris lumbricoides, misalnya, menyebabkan kakak-adik balita asal Seluma, Bengkulu mengalami cacingan parah hingga sesak napas[10]. Kasus serupa bahkan memicu kematian seorang balita di Sukabumi, Jawa Barat pada Agustus 2025 lalu.

Read more: Cacingan picu kematian balita di Sukabumi: Birokrasi rumit, anak miskin terabaikan[11]

Risiko cacingan di Desa Tambak Danau dan perdesaan Kalsel sangat tinggi karena sebagian besar warga bekerja sebagai petani yang sering bersentuhan langsung dengan tanah lembap.

Kebiasaan menginjak tanah tanpa alas kaki, misalnya, bisa meningkatkan risiko menyentuh cacing S. stercoralis. Ketika permukaan kulit kaki menyentuh cacing, filariform (larva cacing penyebab infeksi) akan menembus lapisan kulit.

Penampakan cacing ‘Strongyloides stercoralis’ melalui mikroskop.
Penampakan cacing ‘Strongyloides stercoralis’ melalui mikroskop. Authors Provided.

Larva kemudian bergerak melalui aliran darah, memasuki paru-paru, melewati kerongkongan hingga ke dalam mulut, lalu tertelan masuk ke dalam perut.

Selanjutnya, larva cacing memasuki usus halus hingga tumbuh dewasa, bertelur, dan melahirkan larva baru yang menginfeksi tubuh kembali (autoinfeksi). Cacing pun dapat bertahan hidup dan terus menginfeksi inangnya selama beberapa dekade[12].

Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa keempat warga yang mengalami strongyloidiasis[13] berprofesi sebagai petani yang terbiasa bertelanjang kaki ketika ke sawah. Mereka juga mengalami gejala yang mirip selama lebih dari sebulan, seperti sering merasakan sakit perut, kulit gatal, kembung, mudah lelah, mengeluarkan tinja lembek, serta kesemutan di kaki dan leher.

Siklus hidup dan jalur infeksi ‘Strongyloides stercoralis’.
Siklus hidup dan jalur infeksi ‘Strongyloides stercoralis’. Arsip jurnal / Clinical Infectious Diseases[14]

BAB sembarangan perbesar risiko penularan

Penemuan kasus cacingan di Desa Tambak Danau menjadi alarm yang harus diwaspadai oleh pemerintah setempat. Dengan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat lokal, bukan tidak mungkin kasus serupa terjadi di wilayah lain.

Terlebih, masyarakat di beberapa wilayah Kalsel umumnya memiliki rumah di atas aliran sungai. Kebiasaan buang air besar[15] (BAB) di ruang terbuka ataupun lanting (jamban apung) turut memperbesar risiko terinfeksi cacing yang mengontaminasi air, seperti cacing pipih Schistosoma.

Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit
Rumah masyarakat umumnya berbentuk panggung berada di atas daerah aliran sungai sehingga meningkatkan risiko penularan infeksi cacing. Authors provided.

Sementara itu, tinja dari orang yang terinfeksi cacing di tanah lembap seperti strongyloidiasis, bisa mengandung larva yang terbawa air, hingga mencemari tanah di pinggiran sungai. Siklus penularan pun bisa berulang, dengan cacing berkembangbiak, kemudian terinjak, dan kembali menginfeksi manusia lainnya.

Sejak 2016[16], pemerintah setempat sebenarnya telah berupaya meningkatkan layanan sanitasi dengan membuat instalasi pengolahan air limbah, membangun toilet dan tangki septik umum, serta membongkar jamban apung di wilayah bantaran sungai.

Tujuannya, untuk membuat sistem pengolahan limbah terpadu lewat jamban sehat, sehingga kotoran tidak bocor ke sungai dan rawa. Namun, pendekatan ini ternyata tidak cukup untuk membendung kasus cacingan.

Mengubah kebiasaan masyarakat

Pemerintah berperan sangat krusial dalam memastikan layanan sanitasi yang baik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Namun, pencegahan penyakit infeksi memerlukan kerja sama semua pihak, termasuk masyarakat sendiri dalam mengubah pola hidup mereka.

Misalnya dalam mengubah kebiasaan BAB sembarangan, penelitian tahun 2019 di Simeulue Barat, Aceh[17], mengungkapkan bahwa pengetahuan masyarakat, kepemilikan jamban sehat, peran kepala keluarga, serta tenaga kesehatan sangat berpengaruh.

Read more: Isu terlupakan dalam setahun Prabowo: Sanitasi buruk lebih memicu 'stunting'[18]

Selain membangun infrastruktur jamban sehat, pemerintah bisa memberikan secara gratis sepatu bot dan sarung tangan kepada para petani agar bisa bekerja lebih aman.

Gencarkan pula program pemeriksaan “jemput bola”, dengan tenaga kesehatan puskesmas mendatangi secara langsung kawasan rawan cacingan. Pastikan stok alat pemeriksaan infeksi cacingan tersedia, seperti tes darah, kultur darah, antigen, dan pemeriksaan feses.

Warga yang terkena cacingan juga perlu mendapatkan pengobatan gratis, misalnya ivermectin[19] yang berfungsi membunuh cacing S. stercoralis dewasa. Tenaga kesehatan juga perlu mengedukasi secara langsung kepala keluarga sehingga kebiasaan pola hidup sehat dari rumah bisa terwujud.

Sementara itu, akademisi dan peneliti perlu terus memetakan sebaran penyakit, sehingga bisa memahami karakteristik cacing parasit dengan baik.

Keja sama lintas sektor ini diharapkan bisa mencegah penularan kasus infeksi cacing di masa mendatang.

References

  1. ^ masalah sepele (www.tiktok.com)
  2. ^ memicu kematian (theconversation.com)
  3. ^ strongyloidiasis (www.cdc.gov)
  4. ^ dalam beberapa kasus (www.sciencedirect.com)
  5. ^ hiperinfeksi (www.cdc.gov)
  6. ^ 90% kasus hiperinfeksi strongyloidiasis (www.cdc.gov)
  7. ^ Hingga tahun 2021 (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
  8. ^ penelitian kami tahun 2024 (narraj.org)
  9. ^ Kondisi alam Kalimantan Selatan (www.researchgate.net)
  10. ^ cacingan parah hingga sesak napas (www.kompas.id)
  11. ^ Cacingan picu kematian balita di Sukabumi: Birokrasi rumit, anak miskin terabaikan (theconversation.com)
  12. ^ selama beberapa dekade (www.mdpi.com)
  13. ^ keempat warga yang mengalami strongyloidiasis (narraj.org)
  14. ^ Arsip jurnal / Clinical Infectious Diseases (academic.oup.com)
  15. ^ Kebiasaan buang air besar (www.cambridge.org)
  16. ^ Sejak 2016 (diskominfomc.kalselprov.go.id)
  17. ^ penelitian tahun 2019 di Simeulue Barat, Aceh (www.jkc.puskadokesa.com)
  18. ^ Isu terlupakan dalam setahun Prabowo: Sanitasi buruk lebih memicu 'stunting' (theconversation.com)
  19. ^ ivermectin (www.cdc.gov)

Authors: Dian Nurmansyah, Dosen dan Mahasiswa Program Doktor, Universitas Gadjah Mada

Read more https://theconversation.com/ancaman-cacingan-strongyloidiasis-di-kalimantan-selatan-kebiasaan-warga-bisa-picu-penyakit-272715

Magazine

Ancaman cacingan strongyloidiasis di Kalimantan Selatan: Kebiasaan warga bisa picu penyakit

● Infeksi cacing gelang Strongyloides stercoralis picu strongyloidiasis yang menyebabkan gangguan pencernaan, hingga kematian.● Selain strongyloidiasis, peneliti menemukan kasus cacingan l...

Bagaimana agar dana iklim global benar-benar mengalir sampai ke tapak

● Ada kesenjangan besar dalam pendanaan iklim Indonesia.● Mayoritas pendanaan iklim berasal dari luar APBN, tapi penyalurannya juga belum optimal.● Akses dan realisasi pendanaan ke t...

Hampir separuh masyarakat Indonesia tak mampu beli makanan sehat: Koreksi untuk sistem pangan kita

● Separuh warga Indonesia kesulitan membeli pangan sehat karena akses terbatas dan harga tinggi.● Sektor pertanian berfokus pada komoditas ekspor, bukan pangan sehari-hari.● Keterga...