Asian Spectator

Men's Weekly

.

Bisakah rumah flat Menteng jadi tren dan alternatif kepemilikan properti bersama tahun ini?

  • Written by Rusli Cahyadi, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN dan Pengajar paruh waktu Departemen Antropologi FISIP UI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

● Konsep rumah flat Menteng perlu mendapat perhatian pemerintah sebagai alternatif penyediaan perumahan masyarakat.

● Hal ini bisa mendukung penerapan penyediaan rumah berbasis komunitas yang gagal sebelumnya.

● Suksesi ini tergantung pada political willingness pemerintah.

Rumah flat Menteng[1] (RFM), sebuah hunian kolektif empat lantai di kawasan elite Jakarta dan dibangun oleh enam hingga tujuh keluarga melalui koperasi warga, sempat menghebohkan jagat maya akhir tahun lalu.

Mereka[2] menciptakan ruang tinggal yang dikelola bersama tanpa membeli tanah, tanpa subsidi pemerintah, dan tanpa profit pengembang. Tanah tetap dimiliki salah satu penghuni, tapi disewakan kepada koperasi dengan nilai Rp90 juta per tahun. Uang sewa kemudian dibagi secara proporsional (sekitar Rp700 ribu hingga Rp1 juta per keluarga per tahun).

Biaya konstruksi dibagi sesuai luas unit (Rp350 juta–Rp1 miliar)–jauh lebih murah dibandingkan menyewa indekos di Menteng atau mencicil rumah di pinggiran Jakarta. Adanya RFM ini semakin memantik perubahan cara pandang penduduk terhadap akses rumah di kota.

Makna besarnya: Rumah flat Menteng bisa jadi tren baru kepemilikan rumah masyarakat. Kekuatan kota justru tumbuh dari interaksi, kedekatan, dan pengelolaan ruang oleh warga, bukan dari rencana besar atau angka investasi[3].

Selama puluhan tahun, kita diajari bahwa rumah harus dimiliki dan letaknya harus di perkotaan[4]. Alhasil, kita menerima doktrin bahwa rumah adalah aset[5] dan perkotaan[6] adalah pasar perumahan yang paling prestise.

Read more: Rumah flat: Solusi hunian yang lebih adil dari rumah subsidi?[7]

Kepemilikan rumah menjadi simbol kesuksesan. Sementara ruang kota dihitung[8] berdasarkan nilai komersial, bukan nilai hidup.

Akankah inovasi unik ini bisa diterapkan secara luas dan menjadi alternatif kepemilikan rumah masyarakat?

Konsep alternatif potensial

RFM menawarkan konsep bahwa warga bukan hanya penghuni, tapi perancang dan pengelola. Mereka memutuskan untuk hidup berdampingan, membentuk kelembagaan koperasi, dan berbagi pengelolaan ruang.

Berdasarkan konsep koperasi, suatu studi[9] menyebutkan bahwa kehidupan kota hanya akan berkelanjutan jika ditopang oleh keterampilan bekerja sama, bukan sekadar kebebasan memilih dalam pasar.

RFM memang belum menjawab krisis perumahan nasional seperti langkanya ketersediaan tanah di perkotaan[10]. RFM membuktikan bahwa bentuk hunian kolektif, partisipatif, dan nonspekulatif bukan utopia, asal ada dukungan struktural.

Bisakah rumah flat Menteng jadi tren dan alternatif kepemilikan properti bersama tahun ini?
Rasio ketimpangan kepimilikan rumah di Indonesia masih tergolong tinggi. Perlu adanya inovasi kebijakan baik dari sisi penyediaan dan pembiayaan rumah yang harganya stabil naik melebihi kenaikan gaji rata-rata penduduk. Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia) | Sumber: Badan Pusat Statistik

Sebenarnya, perkotaan juga memuat aset tanah negara[11] seperti kavling kosong, rumah tak berpenghuni, dan fasilitas sosial-umum[12] yang tak digunakan.

Read more: Waspada potensi gelembung properti nasional[13]

Jika pemerintah bersedia memfasilitasi akses lahan kepada koperasi warga dengan sewa simbolis dan jaminan hukum jangka panjang, maka model seperti RFM bisa diperbanyak.

Preseden mekanisme ini sudah ada. Beberapa kota di Eropa, seperti Amsterdam, Belanda[14] dan Zurich, Swiss[15], telah membentuk lembaga penyedia lahan jangka panjang untuk koperasi perumahan dengan dukungan penuh dari pemerintah kota.

Perlu komitmen penuh pemerintah

Dalam budaya urban kita, rumah tak sekadar tempat tinggal, tetapi simbol kesuksesan, stabilitas, bahkan kewargaan. Hal ini diwariskan oleh kebijakan negara selama puluhan tahun yang mempromosikan kepemilikan individu melalui KPR dan sertifikasi tanah.

Namun kini, saat harga tanah naik drastis dan ruang makin sempit, kita perlu berani membongkar asumsi bahwa satu-satunya bentuk jaminan masa depan adalah sertifikat atas nama pribadi. Model kolektif seperti RFM menawarkan cara hidup yang lebih adaptif terhadap kenyataan kota hari ini.

Bukankah negara sudah akrab dengan program subsidi rumah? Mengapa tidak disalurkan untuk mendukung upaya kolektif warga yang terbukti dapat diterapkan?

Bisakah rumah flat Menteng jadi tren dan alternatif kepemilikan properti bersama tahun ini?
Potret salah satu apartemen terbengkelai di kawasan Bekasi, Jawa Barat. Gigih Lazuardi Ibnur/ Shutterstock.com[16]

Krisis perumahan bukan sekadar kekurangan rumah, tetapi juga hilangnya akses warga terhadap akses kota yang melampaui logika supply (persediaan) semata. Ia harus menyentuh distribusi tanah, kepastian hak pakai (tanah dan bangunan) bersama, dan desain kelembagaan yang memberi tempat bagi warga untuk membentuk komunitas.

RFM bukan solusi universal. Tapi ia mengajukan satu arah: kota yang tak melulu dimiliki, tapi dirawat dan dibayangkan bersama. Bila negara berani membuka ruang bagi eksperimen seperti ini, bukan tak mungkin kita bisa membangun kota yang tak harus mengikuti logika pasar untuk bisa dihuni.

Ketika pasar gagal menyediakan hunian terjangkau, dan proyek formal negara kerap gagal menyentuh pusat kota, maka warga bisa mengambil inisiatif.

Namun, keberhasilan warga tidak seharusnya menjadi alasan bagi negara untuk absen.

Justru inisiatif-inisiatif kecil seperti RFM adalah pintu masuk bagi negara untuk merumuskan ulang strategi perumahan nasional: bukan dengan membangun lebih banyak rumah, tapi dengan membuka lebih banyak kemungkinan.

Read more: Rumah flat: Solusi hunian yang lebih adil dari rumah subsidi?[17]

Di Jakarta, konsep rumah susun berbasis komunitas[18] sempat diuji pada awal 2000-an, meski terkendala karena absennya kerangka hukum. Ini menunjukkan bahwa infrastruktur kelembagaan memang belum tersedia, tetapi kemauan politik dan eksperimen terfasilitasi adalah dua langkah awal yang sangat mungkin dilakukan.

Kerangka hukum seperti community land trust (Dana pertanahan berbasis komunitas) untuk mengurus dan menjaga akses tanah maupun perumahan warga belum tersedia di Indonesia. Tapi penyusunan bentuk baru hak pakai kolektif, regulasi koperasi perumahan, dan skema pembiayaan bersama bisa menjadi awal.

References

  1. ^ Rumah flat Menteng (www.bbc.com)
  2. ^ Mereka (www.bbc.com)
  3. ^ rencana besar atau angka investasi (archive.org)
  4. ^ perkotaan (www.mdpi.com)
  5. ^ aset (link.springer.com)
  6. ^ perkotaan (link.springer.com)
  7. ^ Rumah flat: Solusi hunian yang lebih adil dari rumah subsidi? (theconversation.com)
  8. ^ dihitung (www.miguelangelmartinez.net)
  9. ^ suatu studi (archive.org)
  10. ^ langkanya ketersediaan tanah di perkotaan (kumparan.com)
  11. ^ aset tanah negara (www.tempo.co)
  12. ^ fasilitas sosial-umum (jdih.pu.go.id)
  13. ^ Waspada potensi gelembung properti nasional (theconversation.com)
  14. ^ Amsterdam, Belanda (repository.ubn.ru.nl)
  15. ^ Zurich, Swiss (www.abz.ch)
  16. ^ Gigih Lazuardi Ibnur/ Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
  17. ^ Rumah flat: Solusi hunian yang lebih adil dari rumah subsidi? (theconversation.com)
  18. ^ konsep rumah susun berbasis komunitas (www.agrariansouth.org)

Authors: Rusli Cahyadi, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN dan Pengajar paruh waktu Departemen Antropologi FISIP UI, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)

Read more https://theconversation.com/bisakah-rumah-flat-menteng-jadi-tren-dan-alternatif-kepemilikan-properti-bersama-tahun-ini-263620

Magazine

Bisakah rumah flat Menteng jadi tren dan alternatif kepemilikan properti bersama tahun ini?

● Konsep rumah flat Menteng perlu mendapat perhatian pemerintah sebagai alternatif penyediaan perumahan masyarakat.● Hal ini bisa mendukung penerapan penyediaan rumah berbasis komunitas ya...

Demam durian di Cina: Dari buah tropis hingga jadi alat memuluskan diplomasi

Durian adalah buah tropis asal Asia Tenggara yang dikenal dengan aroma sangat kuat dan menyengat.passkphoto / ShutterstockDengan cita rasa yang khas dan reputasi yang kerap menuai perdebatan, durian b...

Rupiah di Titik Nadir: Tanda Bahaya atau Gejolak Sementara?

Rupiah di Titik Nadir: Tanda Bahaya atau Gejolak Sementara?Robert Lens/PexelsAwal tahun 2026 disambut dengan pertanyaan besar oleh banyak pihak. Bukan tanpa alasan, nilai tukar Rupiah terhadap Dolar A...