Asian Spectator

Men's Weekly

.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens

  • Written by Nurul Amalia, Peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Monash University

● Media ‘online’ di Indonesia kurang memanfaatkan ruang interaksi dengan audiens.

● Fungsi tradisional masih mendominasi ruang redaksi, belum mengembangkan hubungan langsung dengan audiens.

● Bisnis media perlu membangun hubungan bermakna dengan audiensnya.

Cara orang mengonsumsi informasi di era digital telah banyak berubah[1] dan ini ikut mengubah wajah media online di Indonesia. Sayangnya, banyak media masih menjalankan pola bisnis lama[2], seolah-olah masih berada di era media cetak.

Akibatnya, potensi besar media digital—seperti jangkauan luas dan fleksibilitas platform—belum dimanfaatkan secara maksimal untuk menopang keberlanjutan bisnis media.

Sebagai contoh, salah satu keunggulan media online adalah kemampuannya membuka ruang interaksi langsung[3] dengan pembaca. Interaksi ini tidak hanya sebatas kolom komentar atau tombol berbagi berita, tetapi juga memberi kesempatan bagi pembaca dan pihak terkait untuk terlibat dalam proses pembuatan berita.

Namun, peluang ini belum banyak dimanfaatkan oleh media online di Indonesia. Kebanyakan media masih sebatas menggunakan data pembaca sebagai bahan ide konten[4], tanpa benar-benar melibatkan audiens dalam penulisan atau pengembangan berita.

Menurut survei, media siber belum bisa memberikan peluang interaksi efektif dengan audiens.
Seorang perempuan sedang membaca berita daring di ponsel pintarnya. Ryan Suryanata/Shutterstock[5]

Hasil survei[6] Monash Data and Democracy Research Hub (MDDRH) dan Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) pada 16 Juni – 2 Juli 2025 terhadap 220 media anggota AMSI yang tersebar di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa pelibatan stakeholder di luar redaksi untuk urusan pembuatan konten masih sangat terbatas.

Minimnya pelibatan audiens

Survei ini[7] melibatkan 36 media besar, 13 media menengah-besar, 49 media menengah-kecil, dan 122 media kecil.

Pada media-media besar, keterlibatan ini berada pada rentang 2,8% - 22,2%. Sementara pada media sedang besar berada pada rentang media sedang – besar 0% – 15,4%; media sedang–kecil 0% – 2,04%; dan media kecil 0% – 4,9%.

Artinya, sekalipun institusi media yang lebih besar memiliki kapasitas dan jejaring yang memungkinkan kolaborasi lintas-aktor, tapi praktik tersebut belum menjadi praktik utama.

Umumnya, audiens hanya terlibat untuk proses distribusi media. Kurangnya pelibatan pembaca dalam hal pembuatan konten ini membuat engagement terhadap media siber[8] menjadi kurang maksimal. Pada akhirnya, audiens juga enggan membagikan berita yang ada karena tidak relevan dengan pengalaman mereka.

Survei ini juga menunjukkan bahwa baru 20,45% media yang memproduksi dan mendistribusikan konten melalui podcast, serta hanya 12,72% yang memanfaatkan aplikasi mobile.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens
Seberapa sering perusahaan media Anda mengumpulkan umpan balik dari audiens/‘subscribers’ untuk membantu mengarahkan pengembangan atau pembuatan berita/konten baru?

Padahal, aplikasi mobile memiliki sejumlah keunggulan[9], seperti distribusi konten secara langsung tanpa bergantung pada algoritma mesin pencari maupun media sosial.

Fitur push notification atau pengiriman pesan singkat secara langsung ke perangkat audiens dan personal alert (notifikasi pribadi) juga mampu meningkatkan engagement pembaca, sekaligus membuat monetisasi lebih stabil melalui pemasangan iklan langsung dan penyediaan data pengguna yang lebih detail.

Tantangan inovasi teknologi

Survei kami juga memperlihatkan inovasi dan adaptasi teknologi media Indonesia cenderung terjadi di bagian hilir, yaitu distribusi dan interaksi dengan audiens.

Belum terlihat adanya diferensiasi model bisnis secara signifikan dalam proses inti produksi, pengembangan produk, dan pemanfaatan data. Akibatnya, bisnis media cenderung melemah, daya tahan pendapatan rapuh, dan ruang redaksi rentan terdampak saat algoritma berubah.

Secara detail, di sisi value adding (penambahan nilai) dan main partners (mitra utama), sekitar 75% media terlihat relatif cakap berjejaring untuk memperkuat reputasi dan bisnis. Namun, untuk distribusi konten, hanya 62,73% yang memiliki mitra. Alhasil, jangkauan dan akuisisi audiens belum optimal.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens
Mitra media siber dalam distribusi konten.

Di ruang redaksi, struktur peran masih didominasi fungsi tradisional (role of creators), seperti jurnalis dan editor. Peran baru seperti creator-led atau kreator konten hanya bertumbuh di kisaran 9 hingga 36%.

Mayoritas atau 58,18% media juga belum mengembangkan “kreator unggulan”. Kreator unggulan adalah kreator konten yang memiliki pengaruh signifikan di publik karena memiliki popularitas yang lebih baik dibandingkan jurnalis atau kreator lainnya.

Budaya eksperimen pun masih lemah. Sebanyak 60,91% media tidak mendorong eksperimen (kurang dari tiga kali setahun), dan 36,36% tidak menggunakan data sebagai basis pengujian. Alhasil, pengambilan keputusan kerap tidak berbasis bukti.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens
Budaya eksperimen konten pada media siber.

Perubahan dari 2021

Membandingkan survei terbaru[10] dengan survei media AMSI pada 2021[11], kami mengamati adanya tiga pergeseran.

Pertama, dalam hal modal awal pendirian media (market entry barriers). Pada 2021, 60% dari 18 media siber di Jakarta mengaku membutuhkan modal lebih dari Rp1 miliar.

Namun, dalam survei ini, hanya 26,36% dari 220 media atau hampir 60 media yang membutuhkan modal awal lebih dari Rp500 juta. Perubahan ini memperlihatkan adanya pergeseran struktur biaya dalam industri media. Kebutuhan modal besar tidak lagi menjadi syarat utama untuk mendirikan media, sehingga memungkinkan munculnya lebih banyak pemain baru dengan sumber daya terbatas.

Meski demikian, media juga mengakui adanya kompetisi baru (competition) dengan segmen nonmedia seperti content creator di media sosial.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens
Ragam kompetisi dalam segmen pasar yang berbeda.

Kedua, jika pada 2021 belum ada media siber yang mendiseminasikan konten melalui TikTok, kini 133 dari 220 media siber atau 60,45% telah menjadikan TikTok sebagai platform untuk menyebarkan hasil jurnalistik. Jumlah media pemilik akun YouTube pun bertambah dari 7,3% media Jakarta dan 39,6% media luar Jakarta, menjadi 50% di seluruh Indonesia.

Ketiga, perubahan dalam sumber pemasukan utama (revenue source). Sebelumnya pada 2021, ada 37,9% media Jakarta dan 29,6% media luar Jakarta memperoleh pendapatan utama dari iklan swasta.

Hal ini berbeda dengan kondisi 2025, ketika rata-rata pemasukan media dari iklan pemerintah mencapai 45,85%. Media siber hari ini lebih banyak mendapatkan pemasukan dari iklan (adsense), dari 14,3% media Jakarta dan 10,7% media luar Jakarta pada 2021, menjadi di atas 40% di setiap kategori ukuran media.

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens
Pemasang iklan di media siber Indonesia.

Media siber juga memperluas diversifikasi sumber pendapatan dari bisnis nonmedia. Jika media secara global memperoleh 23,8% pendapatan dari bisnis nonmedia (WAN IFRA 2024-2025), di Indonesia, keuntungan dari bisnis nonmedia sedikit lebih tinggi di angka 27,7%.

Bisnis event organizer, agensi pembuatan konten, serta konsultan riset dan survei populer menjadi andalan media-media siber Indonesia.

Perlu transformasi nilai

Perubahan yang dibutuhkan dalam bisnis media tidak cukup hanya dengan hadir di berbagai platform digital. Media perlu membangun hubungan langsung dan bermakna dengan audiensnya. Tanpa pembenahan di sisi awal—seperti pengelolaan data, pengembangan produk, dan proses kreatif—digitalisasi justru hanya memindahkan masalah.

Biaya distribusi memang bisa turun, tetapi risikonya meningkat: pembaca sulit dipertahankan, dan kemampuan media untuk membiayai jurnalisme berkualitas semakin melemah.

Prodita Sabarini, CEO/Publisher The Conversation Indonesia, dan Adryan Kusumawardhana, Research affiliate dari Monash Data and Democracy Research Hub, turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

References

  1. ^ telah banyak berubah (ejournal.unitomo.ac.id)
  2. ^ pola bisnis lama (garuda.kemdiktisaintek.go.id)
  3. ^ membuka ruang interaksi langsung (jurnal.pnj.ac.id)
  4. ^ menggunakan data pembaca sebagai bahan ide konten (jurnal.pnj.ac.id)
  5. ^ Ryan Suryanata/Shutterstock (www.shutterstock.com)
  6. ^ Hasil survei (amsi.or.id)
  7. ^ Survei ini (amsi.or.id)
  8. ^ engagement terhadap media siber (kc.umn.ac.id)
  9. ^ sejumlah keunggulan (ejournal.amertamedia.co.id)
  10. ^ survei terbaru (drive.google.com)
  11. ^ pada 2021 (amsi.or.id)

Authors: Nurul Amalia, Peneliti Monash Data & Democracy Research Hub, Monash University

Read more https://theconversation.com/survei-masih-gunakan-logika-media-cetak-media-siber-belum-maksimalkan-interaksi-dengan-audiens-273015

Magazine

Bahaya normalisasi doksing: Warganet bisa kebablasan jadi ‘hakim’ moral

(Kenary820/Shutterstock)● Warganet kerap melakukan ‘doxing’ dan merasa berhak menghukum orang yang menurut mereka bersalah.● Doksing merupakan pelanggaran privasi dan termasuk ...

Setop bilang ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ ke ChatGPT bisa selamatkan Bumi? Faktanya tak sesederhana itu

Serene Lee/Getty ImagesSebagian orang di internet percaya kalau berhenti mengucapkan “tolong” dan “terima kasih” kepada ChatGPT bisa berkontribusi menyelamatkan Bumi. Gagasan i...

Survei: Masih gunakan logika media cetak, media siber belum maksimalkan interaksi dengan audiens

shutterstock(IgraDesign/Shutterstock)● Media ‘online’ di Indonesia kurang memanfaatkan ruang interaksi dengan audiens.● Fungsi tradisional masih mendominasi ruang redaksi, belu...