Asian Spectator

Men's Weekly

.

‘Slow science’ lebih cocok untuk riset bidang sosial humaniora di Indonesia

  • Written by Putu Sukma Kurniawan, Staf Pengajar Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Ganesha

● ‘Slow science’ perlu diterapkan untuk melawan tren “menyampah” (‘junkification’) dalam riset dan publikasi ilmiah.

● Riset sosial humaniora membutuhkan waktu lama untuk membangun kepercayaan subjek dan mengungkap realitas.

● Kebijakan negara perlu lebih menghargai dampak sosial, skema riset multitahun, serta luaran penelitian nontradisional.

Permasalahan etika akademis[1] yang semakin banyak dalam riset dan publikasi ilmiah membuat perbincangan mengenai slow science[2] atau sains yang tak tergesa, kembali mengemuka.

Pada penghujung 2025 lalu, publik ramai memperbincangkan aktivitas menyampah (junkification) dalam riset dan publikasi[3]—menerbitkan artikel jurnal secara cepat, asal-asalan dan tanpa kualitas memadai.

Read more: 4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah[4]

‘Slow science’ lebih cocok untuk riset bidang sosial humaniora di Indonesia
Spiral penurunan akibat ‘junkification’ Rhodes dan Linnenluecke (2025)[5]

Sebaliknya, konsep slow science[6] adalah pendekatan dalam riset dan publikasi yang memberikan cukup waktu bagi peneliti untuk memahami fenomena riset dan menyusun pembahasan secara lebih mendalam.

Pendekatan ini lebih menekankan kualitas dan ketelitian riset daripada fast science (sains yang tergesa)[7] yang berorientasi pada publikasi sesegera mungkin demi mengejar kenaikan jabatan atau insentif keuangan.

Sebenarnya, asal dilakukan secara akurat dan beretika, fast science[8] sah saja dan tetap dibutuhkan. Misalnya ketika terjadi pandemi atau bencana alam yang memerlukan hasil-hasil penelitian sebagai solusi taktis atau dasar pengambilan kebijakan.

Namun, dalam konteks riset sosial dan humaniora (soshum), pendekatan sains yang tak tergesa lebih tepat untuk digunakan. Sebab, fenomena sosial itu kompleks dan tidak bisa dipahami dengan pendekatan instan.

Slow science’ dapat memberi ruang observasi bagi peneliti sekaligus memperdalam analisisnya, sehingga penelitian tidak hanya mereproduksi temuan lama tanpa menawarkan pemahaman atau perspektif baru[9].

Karakter riset sosial humaniora: Membutuhkan waktu

Penelitian di tahun 2025[10] menunjukkan bahwa riset ilmu-ilmu sosial di Indonesia telah terjebak pada logika publish or perish—terbitkan saja untuk menggugurkan kewajiban.

Tekanan ini terjadi karena sistem yang mengekor logika internasionalisasi: terutama terkait peringkat institusi dan publikasi internasional.

Read more: Riset ungkap Ilmu Komunikasi di Indonesia statis, bahkan setelah 20 tahun lebih era Reformasi dan meluasnya kebebasan akademik[11]

Internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia[12], salah satunya menuntut publikasi di jurnal-jurnal internasional yang berbahasa Inggris.

Akibat mengejar internasionalisasi, pengukuran kuantitas publikasi internasional kemudian menjadi syarat kenaikan jabatan akademis. Dampaknya, banyak peneliti sosial di Indonesia mengejar “asal publikasi internasional”, dan terjerumus jurnal predatoris.[13][14]

Padahal, paradigma keilmuan dan metodologi riset dalam bidang STEM (sains, teknologi, rekayasa, dan matematika), berbeda dengan soshum[15].

Kami berpandangan bahwa sebisa mungkin riset ilmu sosial perlu mendeteksi apa yang disebut sebagai mekanisme generatif (generative mechanism)[16], atau gambaran penyebab utama dari realitas yang diamati, sekalipun ia tersembunyi di dasar gunung es.

Artinya, jika menggunakan pendekatan kualitatif, peneliti memerlukan waktu yang cukup lama untuk membangun relasi dan kepercayaan dengan partisipan. Peneliti juga perlu memikirkan kembali data-data di lapangan yang diperoleh untuk dianalisa mendalam dan dihubungkan misalnya dengan permasalahan etis yang mungkin akan terjadi.

Kedalaman semacam ini tidak mungkin terwujud jika riset dilakukan secara buru-buru dan asal bisa terbit.

Mengapa ‘fast science’ perlu dihindari

Kami berpendapat bahwa fast science saat ini adalah sebuah logika yang diciptakan oleh sistem. Sistem riset saat ini mendorong peneliti untuk memproduksi karya ilmiah sebanyak mungkin dan secepat mungkin[17].

Sistem ini muncul karena beberapa hal, misalnya penilaian kinerja peneliti berbasis jumlah publikasi dan peringkat jurnal, sebagaimana juga terjadi dalam riset sosial di Indonesia[18].

Bagi peneliti sosial humaniora, ini memunculkan dilema apakah memilih menerbitkan hasil penelitian secara cepat agar bisa segera dikutip, atau memperdalam dan memperkuat analisis penelitian untuk kemudian mengembalikannya kepada komunitas yang diteliti?

Padahal, kita menyadari bahwa hasil riset dan publikasi sosial humaniora tidak mesti harus dinilai dari jumlah kutipan atau kuantitas produknya[19], tetapi bisa juga dari bagaimana hasil riset dan publikasi tersebut dapat meningkatkan kualitas kebijakan publik atau memunculkan perubahan sosial di masyarakat.

Jika kita terus berkutat pada jumlah produksi yang cepat, dampaknya akan meluas. Misalnya, peneliti tidak melibatkan suara-suara dari kelompok marginal[20] dan semakin menyisihkan mereka dari advokasi kebijakan publik.

Menjadikan ‘slow science’ sebagai alternatif

Sains yang tak tergesa dalam riset dan publikasi sosial humaniora bertujuan untuk memastikan bahwa riset dan publikasi tersebut bermakna dan bernilai[21], sehingga dapat menciptakan sebuah pengetahuan baru dan perubahan sosial.

Mempertimbangkan slow science di era sekarang dapat memberikan waktu bagi peneliti untuk melakukan introspeksi mengenai apa tujuan utama dalam meriset dan menerbitkan karya ilmiah.

Untuk mendukung sains yang tak tergesa, kita perlu menambahkan beberapa hal dalam sistem yang sudah ada sekarang.

Pertama, kami merekomendasikan agar riset dan publikasi sosial humaniora tidak dinilai dari ukuran jumlah saja, tetapi juga mempertimbangkan dampak sosial yang mungkin dapat dihasilkan. Ini untuk melengkapi kebijakan pendidikan tinggi saat ini yang masih berfokus pada pencapaian jumlah publikasi dan metrik kuantitatif lainnya[22].

Kedua, karena penilaian luaran dari riset sosial humaniora kita telah cukup sering didekati dengan pendekatan kuantitatif, kami mendorong agar prinsip seperti The Declaration on Research Assessment (DORA)[23] dapat lebih dikenalkan kepada akademisi di universitas untuk bisa melihat dari sudut pandang yang lain.

Ketiga, kami berharap ada lebih banyak skema riset multitahun untuk bidang sosial humaniora yang tidak berfokus pada luaran yang bersifat tradisional[24], tetapi juga dampak sosial atau pengetahuan baru yang mungkin dihasilkan.

Keempat, kami menyarankan agar pemerintah dapat lebih menghargai luaran-luaran riset dan publikasi sosial humaniora yang bersifat non-traditional research outputs (NTROs)[25] seperti portofolio karya atau pertunjukan seni.

Read more: Pengakuan karya seni dosen: Langkah awal untuk penilaian yang lebih adil[26]

Terakhir, kami mendorong peningkatan budaya akademis di universitas, misalnya memperkuat sistem mentoring dari profesor untuk membina dosen-dosen dalam riset dan melibatkan pemangku kepentingan terkait dalam riset sosial humaniora.

Kami meyakini bahwa sains yang tak tergesa dapat memperkuat kolaborasi akademis karena melibatkan banyak pihak dan memperkuat diskursus di publik karena berfokus pada penciptaan pengetahuan baru dan pengembalian manfaat riset untuk komunitas.

Read more: Studi media dan komunikasi di Indonesia stagnan: perlu pendekatan baru[27]

References

  1. ^ Permasalahan etika akademis (theconversation.com)
  2. ^ slow science (slowscience.be)
  3. ^ aktivitas menyampah (junkification) dalam riset dan publikasi (doi.org)
  4. ^ 4 masalah yang kerap dihadapi dosen Indonesia ketika menulis artikel ilmiah (theconversation.com)
  5. ^ Rhodes dan Linnenluecke (2025) (journals.sagepub.com)
  6. ^ slow science (theconversation.com)
  7. ^ daripada fast science (sains yang tergesa) (www.scientificamerican.com)
  8. ^ fast science (issues.org)
  9. ^ penelitian tidak hanya mereproduksi temuan lama tanpa menawarkan pemahaman atau perspektif baru (www.sciencedirect.com)
  10. ^ Penelitian di tahun 2025 (ses.library.usyd.edu.au)
  11. ^ Riset ungkap Ilmu Komunikasi di Indonesia statis, bahkan setelah 20 tahun lebih era Reformasi dan meluasnya kebebasan akademik (theconversation.com)
  12. ^ Internasionalisasi pendidikan tinggi di Indonesia (theconversation.com)
  13. ^ syarat kenaikan jabatan akademis (theconversation.com)
  14. ^ terjerumus jurnal predatoris. (theconversation.com)
  15. ^ STEM (sains, teknologi, rekayasa, dan matematika), berbeda dengan soshum (conbio.onlinelibrary.wiley.com)
  16. ^ mekanisme generatif (generative mechanism) (journals.sagepub.com)
  17. ^ karya ilmiah sebanyak mungkin dan secepat mungkin (theconversation.com)
  18. ^ sebagaimana juga terjadi dalam riset sosial di Indonesia (doi.org)
  19. ^ tidak mesti harus dinilai dari jumlah kutipan atau kuantitas produknya (academic.oup.com)
  20. ^ peneliti tidak melibatkan suara-suara dari kelompok marginal (doi.org)
  21. ^ bermakna dan bernilai (doi.org)
  22. ^ jumlah publikasi dan metrik kuantitatif lainnya (syarahilefendi.medium.com)
  23. ^ The Declaration on Research Assessment (DORA) (sfdora.org)
  24. ^ luaran yang bersifat tradisional (www.arc.gov.au)
  25. ^ non-traditional research outputs (NTROs) (libguides.mq.edu.au)
  26. ^ Pengakuan karya seni dosen: Langkah awal untuk penilaian yang lebih adil (theconversation.com)
  27. ^ Studi media dan komunikasi di Indonesia stagnan: perlu pendekatan baru (theconversation.com)

Authors: Putu Sukma Kurniawan, Staf Pengajar Program Studi Akuntansi, Universitas Pendidikan Ganesha

Read more https://theconversation.com/slow-science-lebih-cocok-untuk-riset-bidang-sosial-humaniora-di-indonesia-274539

Magazine

‘Slow science’ lebih cocok untuk riset bidang sosial humaniora di Indonesia

● ‘Slow science’ perlu diterapkan untuk melawan tren “menyampah” (‘junkification’) dalam riset dan publikasi ilmiah.● Riset sosial humaniora membutuhkan...

Blunder Dewan Perdamaian cerminan diplomasi nirkaidah ala Prabowo

Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah kepala negara lainnya duduk bersama usai menandatangani Board of Peace (BoP) Charter yang diinisiasi oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump di Davos, Swiss, ...

Bahaya normalisasi doksing: Warganet bisa kebablasan jadi ‘hakim’ moral

(Kenary820/Shutterstock)● Warganet kerap melakukan ‘doxing’ dan merasa berhak menghukum orang yang menurut mereka bersalah.● Doksing merupakan pelanggaran privasi dan termasuk ...