Mengapa Muslim tak selalu merayakan Idulfitri di hari yang sama meski tinggal di satu negara?
- Written by Zuleyha Keskin, Associate Professor of Islamic Studies, Charles Sturt University
Ada dua perayaan besar yang menjadi momentum istimewa bagi umat Muslim seluruh dunia pada setiap tahun: Idulfitri yang menandai berakhirnya Ramadan, serta Iduladha yang pelaksanaannya berkaitan erat dengan ibadah Haji[1], ziarah tahunan ke Mekkah.
Bagi lebih dari satu miliar umat Muslim global, idul (yang berarti “festival” atau “perayaan” dalam bahasa Arab) adalah waktu untuk bersuka cita. Namun, di sejumlah negara, termasuk Australia dan Indonesia, umat Muslim tidak selalu merayakan Idulfitri atau Iduladha pada hari yang serentak. Berikut alasannya:
Maju 10 hingga 12 hari setiap tahun
Selain perbedaan antarkelompok, tanggal Idulfitri dan Iduladha secara juga bergeser setiap tahun. Hal ini terjadi karena Islam menggunakan kalender lunar (Kamariah) yang berbasis pada siklus bulan—berbeda dengan kalender Gregorian (Masehi) yang mengikuti matahari.
Alhasil, tanggal pada kalender Islam jatuh 10–12 hari lebih awal setiap tahunnya. Ini berarti tanggal perayaan kedua Idul tersebut juga bergerak maju sekitar 11 hari setiap tahun dalam penanggalan masehi.
Dalam penanggalan Islam, Idulfitri jatuh pada tanggal 1 Syawal (bulan ke-10), yang dirayakan tepat setelah bulan Ramadan usai. Sementara Iduladha jatuh pada tanggal 10 Zulhijah (bulan ke-12), yang bertepatan dengan pelaksanaan ibadah Haji.
Perbedaan di tingkat lokal
Karena Islam mengikuti kalender lunar (Kamariah), penentuan awal setiap bulan dalam kalender Islam—termasuk tanggal kedua hari raya Idul—bergantung pada terlihatnya hilal atau bulan sabit muda[4] yang muncul tepat setelah fase bulan baru, yaitu fase ketika bulan tidak terlihat sama sekali.
Namun, terdapat berbagai metode untuk melakukan hal ini, serta perbedaan interpretasi di kalangan ulama mengenai metode mana yang terbaik. Variasi inilah yang menjadi alasan mengapa satu kelompok dalam masyarakat mungkin merayakan Lebaran pada hari Minggu, sementara kelompok lainnya baru merayakannya pada hari Senin.
Sebagian umat Muslim meyakini bahwa setiap negara harus bergantung pada hasil pemantauan hilal lokal di wilayah masing-masing.
Artinya, jika bulan sabit muda terlihat di negara tetangga tetapi tidak tampak di Australia (misalnya karena tertutup awan), maka Australia harus merayakan Idulfitri sehari setelah negara tetangganya. Organisasi Moonsighting Australia[5] mengikuti metode ini. Mereka hanya mengumumkan Idulfitri jika hilal telah terlihat secara lokal.
Namun, pihak lain berpendapat bahwa jika hilal telah terlihat di bagian dunia mana pun, maka hasil tersebut harus diterima oleh seluruh umat Muslim[6] sebagai awal bulan baru dalam kalender Islam. Sejumlah umat Muslim di Australia memilih pendekatan “pemantauan hilal global” dengan mengikuti pengumuman Idulfitri dari Arab Saudi, meskipun hilal tidak terlihat di wilayah lokal mereka.
Selain persoalan lokasi hilal terlihat, terdapat pula perbedaan pandangan mengenai cara memantaunya. Banyak ulama meyakini bahwa hilal harus dilihat dengan mata telanjang, sebagaimana yang dipraktikkan pada masa Nabi Muhammad.
Namun, sejumlah negara Muslim, seperti Turki dan sebagian wilayah Eropa, menggunakan perhitungan astronomi (hisab) untuk memprediksi kemunculan bulan baru. Metode ini memungkinkan mereka menetapkan tanggal Idulfitri maupun Iduladha jauh hari sebelumnya[8], bahkan hingga hitungan bulan atau tahun.
Pengaruh latar belakang budaya dan organisasi
Di negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim, penetapan hari Idulfitri dan Iduladha umumnya dilakukan oleh pemerintah.
Sebagai contoh, di Arab Saudi, Mahkamah Agung[9] secara resmi mengumumkan tanggal tersebut berdasarkan laporan pemantauan hilal. Keputusan ini menetapkan waktu salat Id dan hari libur nasional bagi seluruh negeri, sehingga perayaannya serentak di seluruh negara.
Di Indonesia, pemerintah melalui Kementerian Agama juga menggelar sidang isbat untuk menetapkan hari Idulfitri.[10]
Namun, beberapa organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam di Indonesia memiliki metode dan standar masing-masing dalam penetapan awal bulan Hijriyah. Muhammadiyah, contohnya, tahun ini mengikuti parameter Kalender Global yang mensyaratkan munculnya hilal di belahan bumi mana pun[11].
Hal serupa juga terjadi di Australia. Muslim yang berasal dari latar belakang budaya yang beragam memegang pandangan yang berbeda-beda mengenai cara memantau hilal.
Sebagian mungkin mengikuti pengumuman Idulfitri dari negara asal mereka. Sementara yang lainnya bergantung pada pengumuman lokal, atau pada tanggal yang ditetapkan oleh lembaga tinggi seperti Dewan Imam Nasional Australia (ANIC).[12]
Laporan tahun 2023 yang diterbitkan oleh ISRA Academy[13] menyurvei lebih dari 5.500 Muslim di Australia untuk memahami bagaimana mereka menentukan tanggal Idulfitri.
Temuan tersebut mengungkapkan perbedaan signifikan di berbagai komunitas. Responden dari komunitas Arab terbagi hampir merata, antara pengikut pengumuman masjid lokal (28,5%) dan Dewan Imam Nasional Australia (28,0%). Ada persentase responden yang sedikit lebih rendah (23,9%) mengikuti Moonsighting Australia. Hanya 0,6% yang mengikuti keputusan negara asal mereka.
Sementara itu, di komunitas Turki, sebanyak 16,1% responden mengikuti keputusan negara asal mereka. Proporsi responden terbesar (28,5%) mengandalkan masjid lokal atau organisasi Islam.
Namun, mengingat masjid-masjid Turki cenderung mengikuti institusi keagamaan negara Turki, Diyanet[14], sebagian besar warga Turki di Australia (44,6%) pada akhirnya menyelaraskan diri dengan keputusan Idulfitri dari Turki.
Dari kelompok lainnya, sebanyak 18,8% mengikuti Moonsighting Australia dan 14,6% mengikuti dewan imam nasional.
Adapun di komunitas Muslim Afrika, sebanyak 48,4% mengikuti Moonsighting Australia, sementara 32,8% mengandalkan masjid lokal, dan 11,7% mengikuti dewan imam.
Perayaan Idulfitri terus berevolusi
Meskipun perbedaan perayaan Idulfitri terlihat memicu perpecahan dan fragmentasi, fenomena ini juga memiliki aspek positifnya.
Ini menunjukkan bahwa umat Muslim Australia secara aktif mencari informasi dari berbagai otoritas keagamaan. Fenomena ini mencerminkan tingginya keterlibatan publik dalam keputusan keagamaan—alih-alih sekadar mengikuti.
Kuatnya pengaruh organisasi seperti Dewan Imam Nasional Australia (ANIC) dan Moonsighting Australia juga mengindikasikan bahwa lembaga keagamaan lokal telah menjadi sumber panduan yang tepercaya.
Lebih jauh lagi, tingginya persentase umat Muslim yang kini mengikuti Moonsighting Australia menandakan adanya tren menuju penentuan Idulfitri yang lebih terlokalisasi.
Tren ini kemungkinan besar akan semakin menguat seiring munculnya generasi ketiga dan keempat Muslim Australia yang memiliki ikatan lebih longgar dengan negara asal leluhur mereka.
Hanya waktu yang akan menjawab apakah Muslim pada akhirnya akan merayakan Idulfitri secara serentak. Untuk saat ini, yang terpenting adalah terus menavigasi perbedaan-perbedaan yang ada dengan sikap saling memahami dan menghormati.
References
- ^ Haji (theconversation.com)
- ^ Wikimedia (en.wikipedia.org)
- ^ CC BY-SA (creativecommons.org)
- ^ bulan sabit muda (www.rmg.co.uk)
- ^ Organisasi Moonsighting Australia (moonsightingaustralia.info)
- ^ harus diterima oleh seluruh umat Muslim (www.hizb-australia.org)
- ^ Metropolitan Museum of Art (www.metmuseum.org)
- ^ jauh hari sebelumnya (www.officeholidays.com)
- ^ Mahkamah Agung (www.spa.gov.sa)
- ^ sidang isbat untuk menetapkan hari Idulfitri. (kemenag.go.id)
- ^ parameter Kalender Global yang mensyaratkan munculnya hilal di belahan bumi mana pun (suaramuhammadiyah.id)
- ^ Dewan Imam Nasional Australia (ANIC). (www.anic.org.au)
- ^ ISRA Academy (www.isra.org.au)
- ^ Diyanet (www.state.gov)
- ^ Dean Lewins/AAP (ph-prod-cdn.aap.com.au)
Authors: Zuleyha Keskin, Associate Professor of Islamic Studies, Charles Sturt University





