Angin segar dari TAFF Santa Marta: Ini 5 hasil dari konferensi dunia pertama tentang penghentian bahan bakar fosil
- Written by Wesley Morgan, Research Associate, Institute for Climate Risk and Response, UNSW Sydney
Hampir 60 negara—yang mewakili sekitar sepertiga ekonomi global—bertemu di kota pelabuhan Santa Marta, Kolombia, pekan lalu. Mereka menghadiri konferensi internasional pertama mengenai upaya peralihan dari energi fosil[1] (Transitioning Away from Fossil Fuels/TAFF).
Pertemuan ini dipuji sebagai langkah berani untuk mengurangi ketergantungan dunia pada bahan bakar fosil (seperti minyak bumi, batu bara, dan gas) menuju era energi bersih.
Sebanyak 57 negara, termasuk Australia, Kanada, Norwegia, dan Brasil bekerja sama menyusun rencana global untuk perlahan menghentikan penggunaan bahan bakar fosil. Perubahan bersejarah ini membawa kita semakin dekat pada berakhirnya era bahan bakar fosil. Sayangnya, pemerintah Indonesia absen dalam pertemuan ini.
Menteri Lingkungan Hidup Kolombia sekaligus ketua perundingan, Irene Vélez Torres, mengatakan[2]: “Kami memutuskan bahwa transisi meninggalkan bahan bakar fosil tidak lagi bisa sekadar menjadi slogan, tetapi harus menjadi upaya yang konkret, politis, dan kolektif.”
Berikut lima perkembangan utama dari Santa Marta.
1. Melampaui kebuntuan negosiasi
Pertemuan ini sukses digelar sebagai pelengkap bagi konferensi iklim tahunan (COP) PBB, bukan untuk menggantikannya.
Keputusan dalam konferensi iklim PBB dibuat berdasarkan konsensus. Hasil dari Perjanjian Paris 2015[3] memiliki legitimasi besar karena disepakati oleh hampir 200 negara.
Namun aturan konsensus ini punya kelemahan. Di antaranya memungkinkan beberapa produsen bahan bakar fosil (seperti Arab Saudi dan Rusia) menolak atau menghambat keputusan, sehingga upaya meninggalkan energi fosil bisa terhambat.
Konferensi di luar forum resmi PBB ini membawa angin segar yang sangat dibutuhkan dalam diplomasi iklim global. Tanpa hambatan dari negara-negara penghasil minyak (petrostate), negara-negara yang bersedia hadir bisa melakukan diskusi pragmatis mengenai langkah hukum, fiskal, dan ekonomi yang diperlukan untuk menghentikan bahan bakar fosil secara bertahap.
Hasil diskusi ini akan dibawa ke perundingan iklim PBB[4] atau COP31 yang akan digelar di Turki pada November nanti.
Contohnya, hasil diskusi akan mendorong seluruh negara di dunia memasukkan perkiraan jadwal mereka untuk menghentikan penggunaan bahan bakar fosil dalam rencana iklim nasional[5] masing-masing.
Read more: Riset: Strategi ‘kartel’ batu bara dan menyetop izin tambang baru bisa jadi jalan tengah percepat transisi energi[6]
2. Jalur keluar dari batu bara, minyak, dan gas
Kelompok kerja juga dibentuk di Santa Marta untuk membantu negara-negara menyusun rencana nasional dan regional guna beralih dari bahan bakar fosil—lengkap dengan target dan jadwal penghentian penggunaan batu bara, minyak, dan gas.
Prancis adalah salah satu negara yang meluncurkan peta jalan nasional[7] mereka di konferensi tersebut. Mereka berkomitmen menghentikan penggunaan batu bara pada 2030, minyak pada 2045, dan gas pada 2050.
Ekonomi terbesar kedua di Eropa itu berencana menutup pembangkit listrik tenaga batu bara terakhirnya tahun depan, sambil mengganti minyak dengan listrik untuk transportasi dan beralih dari gas ke pompa panas untuk pemanas rumah.
Prancis menargetkan dua dari tiga mobil baru mereka pada 2030 adalah mobil listrik[8] dan akan melarang pemasangan boiler gas[9] (alat pemanas air dan ruangan berbahan gas) di rumah baru mulai tahun ini.
Perang AS - Iran yang masih berlangsung juga menjadi momentum yang mendorong[10] percepatan peralihan menuju energi terbarukan. Banyak negara semakin sadar bahwa posisi mereka bakal rentan jika terus bergantung pada impor bahan bakar fosil di tengah krisis energi terburuk dalam sejarah[11].
Negara-negara lain kini diperkirakan juga menyusun rencana untuk meninggalkan bahan bakar fosil dan membawanya ke konferensi-konferensi mendatang.
Read more: Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumi[13]
3. Panel sains untuk memandu transisi
Sebuah panel sains terbaru[14] juga diluncurkan di Santa Marta. Konferensi ini mempertemukan para ahli di bidang iklim, ekonomi, teknologi, dan hukum untuk memberi saran kepada pembuat kebijakan saat mereka menyusun rencana peralihan dari bahan bakar fosil.
Panel ini akan memetakan kebijakan, regulasi, dan skema pendanaan paling menjanjikan untuk mendukung transisi menuju energi bersih[15]. Panel ini dipimpin oleh Professor Johan Rockstrom[16] dari Potsdam Institute for Climate Impact Research.
Menjelang Santa Marta, sekelompok peneliti global merilis laporan yang mencatumkah daftar 12 aksi tingkat tinggi[17] yang bisa dilakukan negara-negara untuk mendukung penghentian bahan bakar fosil.
4. Tuvalu tuan rumah berikutnya
Tuvalu akan menjadi tuan rumah konferensi penghentian bahan bakar fosil pada 2027.
Sebagai negara kepulauan dengan dataran rendah, masa depan Tuvalu amat terancam oleh kenaikan permukaan laut. Negara Pasifik ini telah memimpin diplomasi iklim global selama beberapa dekade.
“Jika kita ingin mengatasi perubahan iklim, kita harus mengatasi akar masalahnya, yang tak lain adalah industri bahan bakar fosil,” ujar Maina Talia[18], Menteri Perubahan Iklim Tuvalu.
Fakta bahwa sudah adanya rencana penyelenggaraan konferensi kedua sangat penting—yang menandakan bahwa acara ini bukan sekali lewat saja. Rangkaian konferensi berkelanjutan menandai lahirnya proses perundingan internasional baru dengan dukungan banyak negara—baik negara maju maupun negara berkembang.
Adapun konferensi TAFF di Santa Marta tahun ini diselenggarakan bersama Belanda[19] dan tahun depan akan diselenggarakan oleh Tuvalu bersama Irlandia[20].
5. Menuju perjanjian bahan bakar fosil
Saat ini, produsen bahan bakar fosil berencana mengebor lebih dari dua kali lipat[21] jumlah batu bara, minyak, dan gas pada 2030 dibandingkan jumlah yang seharusnya jika ingin mencapai target iklim dunia.
Tuvalu adalah bagian dari blok negara berkembang, termasuk dalam 11 negara Pasifik—yang menginginkan perjanjian baru[22] untuk menghentikan produksi bahan bakar fosil secara bertahap.
Perjanjian ini mesti mencakup tiga elemen[23]: menghentikan ekspansi bahan bakar fosil; mengurangi produksi yang sudah ada; serta mendukung transisi yang adil menuju energi bersih.
Perjanjian ini akan mirip dengan kesepakatan global sebelumnya yang bertujuan menghapus atau mengurangi hal-hal berbahaya, seperti perjanjian untuk melarang jenis senjata tertentu[24], pengentian penggunaan zat kimia berbahaya yang merusak ozon[25] atau pembuangan limbah berbahaya[26].
Diplomasi iklim kini berjalan dalam dua cara
Kita mungkin baru akan benar-benar memahami arti penting konferensi Santa Marta ketika melihatnya dari perspektif sejarah di masa depan.
Namun yang jelas, diplomasi iklim kini memiliki dua cara. André Corrêa do Lago, yang memimpin konferensi iklim COP30 di Brasil, menyebutnya sebagai “multilateralisme dua tingkat[27]”.
Cara pertama (Konferensi PBB), prosesnya lebih lambat karena semua negara harus sepakat atau berbasis konsensus. Namun mekanisme ini menjamin legitimasi, universalitas (diikuti banyak negara), dan menjadi penentu arah bersama.
Adapun cara kedua (seperti konferensi Santa Marta) bisa menghasilkan keputusan lebih cepat karena hanya diikuti negara-negara yang ingin segera beralih dari energi fosil. Sederhananya, jalur ini memungkinkan aksi lebih cepat untuk mengurangi atau menghentikan penggunaan bahan bakar fosil tanpa harus menunggu semua negara setuju.
References
- ^ dari energi fosil (transitionawayconference.com)
- ^ mengatakan (www.theguardian.com)
- ^ Perjanjian Paris 2015 (unfccc.int)
- ^ perundingan iklim PBB (www.government.nl)
- ^ rencana iklim nasional (unfccc.int)
- ^ Riset: Strategi ‘kartel’ batu bara dan menyetop izin tambang baru bisa jadi jalan tengah percepat transisi energi (theconversation.com)
- ^ peta jalan nasional (www.ecologie.gouv.fr)
- ^ listrik (www.france24.com)
- ^ boiler gas (www.lemonde.fr)
- ^ momentum yang mendorong (edition.cnn.com)
- ^ krisis energi terburuk dalam sejarah (www.reuters.com)
- ^ Abstract Aerial Art/Getty (www.gettyimages.com.au)
- ^ Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumi (theconversation.com)
- ^ panel sains terbaru (www.theguardian.com)
- ^ energi bersih (www.scientificamerican.com)
- ^ Professor Johan Rockstrom (www.pik-potsdam.de)
- ^ daftar 12 aksi tingkat tinggi (zenodo.org)
- ^ Maina Talia (apnews.com)
- ^ Belanda (www.government.nl)
- ^ Irlandia (www.gov.ie)
- ^ lebih dari dua kali lipat (productiongap.org)
- ^ perjanjian baru (www.fossilfueltreaty.org)
- ^ tiga elemen (doi.org)
- ^ perjanjian untuk melarang jenis senjata tertentu (disarmament.unoda.org)
- ^ pengentian penggunaan zat kimia berbahaya yang merusak ozon (ozone.unep.org)
- ^ pembuangan limbah berbahaya (www.basel.int)
- ^ multilateralisme dua tingkat (cop30.br)
Authors: Wesley Morgan, Research Associate, Institute for Climate Risk and Response, UNSW Sydney




