Kenapa momen Lebaran seakan tidak afdal tanpa baju baru?
- Written by Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember
● Seluruh umat muslim bersuka cita di hari lebaran.
● Suka cita tersebut salah satunya diekspresikan dengan membeli baju baru khusus Lebaran.
● Sayangnya banyak yang tak menyadari ada jebakan pasar yang mendorong masyarakat berbelanja impulsif.
Ada banyak kebiasaan yang telah melebur menjadi tradisi masyarakat Indonesia di bulan puasa. Tradisi-tradisi tersebut antara lain jajan takjil, berkumpul buka bersama, hingga mudik.
Menjelang Idulfitri, ada satu tradisi tak tertulis lain yang sepertinya tidak boleh dilewati yaitu membeli baju baru.
Pada momen ini memang banyak orang yang mendapat tambahan penghasilan dari tunjangan hari raya[1] (THR). Dan pastinya banyak di antara kita yang menempatkan belanja baju baru Idulfitri sebagai pos prioritas utama.
Belum lama ini, kita disajikan konten viral mengenai tingginya antusias masyarakat untuk membeli pakaian islami Shellasaukia[2] hingga rela mengantre berjam-jam. Pun dengan, Pasar Tanah Abang[3] di Jakarta yang menggeliat didatangi warga di pekan terakhir Ramadan ini.
Padahal, THR seharusnya bisa menjadi penguat kondisi keuangan rumah tangga yang berkepanjangan. Salah-salah, begitu Lebaran usai yang tersisa kadang bukan rasa lega, melainkan beban finansial yang kembali terasa.
Pertanyaannya, mengapa tradisi baju lebaran ini begitu kuat di Indonesia?
Read more: Mengapa banyak orang merasa harus ‘tampil sukses’ saat lebaran?[4]
Salah persepsi tentang makna Lebaran
Setelah menjalani puasa Ramadan sebagai bulan pengendalian diri, kesabaran, dan pemurnian spiritual, banyak orang memaknai hari raya sebagai momen “kembali baru”. Begitu Lebaran tiba, kita akan bertemu banyak orang untuk saling memaafkan satu sama lain kepada orang tua, kerabat, dan relasi lainnya.
Pakaian yang kita kenakan itulah jadi salah satu representasi visual utama dari pembaruan diri yang perlu mengkedepankan makna bersih, segar, rapi, dan siap merayakan momen kemenangan.
Di sinilah tradisi baju baru Lebaran menjadi menarik. Ia tampak personal, tetapi sebenarnya sangat kental akan dorongan sosial. Dan tidak sedikit orang yang menganggap beli baju baru merupakan kewajiban tradisi bukan semata karena pakaian lama sudah tidak layak.
Read more: Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal?[6]
Dari perspektif perilaku konsumen[7], membeli baju Lebaran lebih tepat dipahami sebagai keputusan konsumsi yang dibentuk oleh makna simbolik, pengaruh sosial, dan dorongan pasar yang berada dipersimpangan antara nilai agama, budaya keluarga, tekanan sosial, dan strategi pasar.
Seseorang mungkin merasa membeli baju baru adalah ekspresi kebahagiaan yang wajar. Namun orang lain bisa merasa terpaksa membeli karena takut dianggap kurang pantas, tidak kompak dengan keluarga, atau standar untuk tampil di ruang sosial[8] dan media sosial[9] untuk era saat ini.
Di sinilah relevansi perspektif Muslim menjadi penting. Islam tidak melarang tampil baik saat hari raya, tetapi juga menekankan prinsip keseimbangan dan larangan berlebih-lebihan.
Inti persoalannya bukan pada baru atau tidak barunya pakaian, melainkan pada niat, proporsi, dan dampaknya bagi kondisi keuangan serta prioritas rumah tangga. Membeli baju baru bisa menjadi bentuk syukur dan kebahagiaan, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran utama kesempurnaan Idulfitri.
Diperparah oleh algoritma dagang
Beli baju lebaran juga memberi manfaat banyak pihak. Berkatnya, roda perekonomian berakselerasi terutama pedagang pakaian, UMKM fesyen, dan ritel musiman.
Laju konsumsi masyarakat terhadap baju baru juga tetap diyakini positif pada tahun ini. Selain Pasar Tanah Abang, lokasi belanja baju lebaran tradisional lain seperti di Jalan Kepatihan Bandung[10] juga terpantau ramai seperti tahun-tahun sebelumnya.
Yang membuat tekanan dorongan belanja baju baru Lebaran makin kuat adalah peran industri dan media sosial. Menjelang Ramadan, merek fesyen, pusat perbelanjaan, dan platform digital secara rutin meluncurkan kampanye bertema “Ramadan collection”, “Eid collection”, atau promosi baju keluarga seragam.
Konsumen akhirnya tidak hanya berhadapan dengan kebutuhan pribadi, tetapi juga dengan arus pesan dagang pasar dengan iming-iming ragam promo menarik. Penelitian mutakhir juga menunjukkan paparan konten promo dunia digital[11] dapat memicu perbandingan sosial, rasa ingin meniru, dan dorongan membeli produk yang tampak menonjol secara sosial.
Read more: Melawan taktik baru ‘pre-order’ produk Ramadan-Idulfitri dengan adab belanja khas Islam[12]
Banyak yang tidak menyadari bahwa tradisi baju lebaran ini kerap jadi jebakan belanja impulsif. Tentunya, hal ini tak lepas dari arena terpengaruh banyak hal seperti viralitas dan fear of missing out (FOMO)[13].
Pada akhirnya, baju baru lebaran dibeli bukan karena agama semata. Melainkan karena dorongan sebagai simbol pembaruan diri, sarana presentasi sosial, penanda kepatuhan pada tradisi, sekaligus objek yang diperkuat oleh industri fesyen dan media sosial.
Refleksikan ulang makna Lebaran
Memahami hal ini membantu kita melihat bahwa keputusan konsumsi saat hari raya tidak pernah benar-benar sederhana. Ia selalu membawa cerita tentang siapa kita, bagaimana kita ingin dilihat, dan nilai apa yang diam-diam kita anggap penting.
Ekonomi syariah tidak melarang konsumsi. Islam juga tidak menolak kegembiraan dalam merayakan hari besar. Namun, konsumsi dalam Islam selalu dibatasi oleh prinsip keseimbangan.
Masalahnya ketika pembelian dilakukan berlebihan, hanya karena diskon atau dorongan ingin mengikuti tren, maka yang bekerja bukan lagi kebutuhan, melainkan keinginan untuk tampil optimal di hadapan orang-orang.
Yang lebih miris lagi, pada setiap momen lebaran, masyarakat beramai-ramai menggadaikan barangnya untuk mencari pundi-pundi tambahan dengan menggadaikan barangnya hingga bahkan berhutang di pinjaman online[14].
Karena itu, inti persoalannya bukan pada baru atau tidak barunya pakaian, melainkan pada niat, proporsi, dan dampaknya bagi kondisi keuangan serta prioritas rumah tangga. Membeli baju baru bisa menjadi bentuk syukur dan kebahagiaan, tetapi tidak seharusnya menjadi ukuran utama kesempurnaan Idulfitri.
Read more: Tabungan masyarakat menurun, tren belanja naik. Haruskah kita khawatir?[15]
.
References
- ^ tunjangan hari raya (jdih.kemnaker.go.id)
- ^ Shellasaukia (ssgroup.id)
- ^ Pasar Tanah Abang (www.youtube.com)
- ^ Mengapa banyak orang merasa harus ‘tampil sukses’ saat lebaran? (theconversation.com)
- ^ Willy Sebastian/Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
- ^ Mengapa orang tetap mudik Lebaran meski harga tiket mahal? (theconversation.com)
- ^ perspektif perilaku konsumen (www.sciencedirect.com)
- ^ standar untuk tampil di ruang sosial (www.sciencedirect.com)
- ^ media sosial (www.sciencedirect.com)
- ^ Jalan Kepatihan Bandung (bandung.kompas.com)
- ^ dunia digital (www.sciencedirect.com)
- ^ Melawan taktik baru ‘pre-order’ produk Ramadan-Idulfitri dengan adab belanja khas Islam (theconversation.com)
- ^ viralitas dan fear of missing out (FOMO) (journal.unnes.ac.id)
- ^ berhutang di pinjaman online (infobanknews.com)
- ^ Tabungan masyarakat menurun, tren belanja naik. Haruskah kita khawatir? (theconversation.com)
Authors: Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember
Read more https://theconversation.com/kenapa-momen-lebaran-seakan-tidak-afdal-tanpa-baju-baru-278485




