Asian Spectator

Men's Weekly

.

Kenapa nilai zakat Indonesia masih rendah meski pembayaran zakat digital sudah di mana-mana?

  • Written by Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember

● Potensi zakat nasional tembus ratusan triliun.

● Dana sebesar itu bisa jadi dana segar pembangunan dan pengentasan kemiskinan nasional.

● Pembayaran online ternyata tak mendongkrak pertumbuhan realisasi zakat nasional.

Di zaman ini, umat Muslim tak lagi harus membayar zakat secara manual dengan datang masjid/lembaga zakat. Cukup dengan membuka aplikasi di smartphone, kini kita bisa menghitung, membayar, bahkan memilih program penyaluran zakat hanya dalam beberapa klik: Kapan saja, di mana saja.

Kemudahan ini tak lepas dari inisiatif para lembaga pengelola zakat dalam mengadopsi kanal digital[1] seperti aplikasi, marketplace, dan integrasi dengan platform pembayaran untuk mempermudah masyarakat menunaikan kewajibannya[2].

Kenapa nilai zakat Indonesia masih rendah meski pembayaran zakat digital sudah di mana-mana?
Proses penyerahan zakat atau ijab qobul pun bisa dilakukan secara online. StockLab/Shutterstock.com[3]

Sayangnya, digitalisasi pembayaran tak cukup mendongkrak nilai penghimpunan dana zakat masyarakat secara nasional. Angkanya hanya tumbuh dari Rp31,2 triliun[4] menjadi Rp39,5 triliun[5] sepanjang 2023 - 2024 dari potensi sebesar Rp327 triliun.

Read more: Kasus dugaan ‘fraud’ Dana Syariah Indonesia coreng reputasi keuangan syariah nasional[6]

Ada selisih yang amat besar antara potensi dan jumlah zakat yang berhasil dihimpun. Padahal, upaya peningkatan penerimaan zakat cukup krusial karena bisa berperan sebagai sumber pendanaan alternatif pengentasan kemiskinan nasional[7].

Akuntabilitas buruk karena maraknya maling duit umat

Ironis ketika Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia[8], tapi realisasi zakatnya begitu rendah[9].

Realisasi tersebut cukup jomplang jika dibandingkan di Malaysia. Meski hanya setara Rp2,4 triliun, realisasi pengumpulan dana zakat di Selangor Malaysia ada di angka 85%[10] dari potensinya sebesar Rp2,8 triliun.

Dalam konteks donasi digital[11], keterbukaan informasi penggunaan dana menjadi penentu utama yang memengaruhi keputusan masyarakat untuk menyumbang.

Badan Amil Zakat Nasional sebenarnya memenuhi unsur transparansinya melalui laporan tahunan pengelolaan dana zakat. Tapi, persepsi soal transparansi tata kelola lembaga zakat[12] sebenarnya lebih berperan. Maraknya berita korupsi dana umat[13] yang melibatkan Baznas mau tak mau memengaruhi persepsi masyarakat terhadap lembaga zakat.

Tahun lalu saja, ada setidaknya dua kasus korupsi dana umat petinggi Baznas yang muncul di permukaan. Dua kasus tersebut terjadi di Baznas Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan[14] dan Jawa Barat[15].

Parahnya lagi, pelaku kasus korupsi Baznas Enrekang juga terlibat kasus suap Kepala Kejaksaan Negeri setempat[16] untuk bermain sabun (bermain curang) dalam persidangan.

Selama rantai korupsi dan maling dana umat tidak diputus, maka masyarakat juga akan sulit mempercayai penyalur zakat.

Read more: Dari zakat sampai sukuk: Produk keuangan syariah berpotensi besar menyokong penanggulangan bencana[17]

Tuntutan untuk berikan layanan inovatif

Selain menjaga marwah transparansi dan akuntabilitasnya, lembaga penyalur zakat perlu melakukan pendekatan yang berorientasi kepada pembayar zakat.

Dalam kajian perilaku konsumen, keputusan seseorang menggunakan layanan digital biasanya dipengaruhi oleh dua faktor utama: kemudahan penggunaan dan manfaat yang dirasakan[18].

Beberapa tahun terakhir, nilai transaksi uang elektronik dan beragam pembayaran digital lainnya mencapai lebih dari Rp495 triliun[19]. Per 2025 saja, diperkirakan ada 130 juta pengguna baru dompet digital[20] di Indonesia.

Kenapa nilai zakat Indonesia masih rendah meski pembayaran zakat digital sudah di mana-mana?
Selain memiliki 722 lembaga penyalur zakat yang tersebar di seluruh negeri, masyarakat juga diberikan opsi pembayaran melalui kanal digital secara daring yang makin memberikan akses luas untuk mambayar zakat. Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia)

Mayoritas dari mereka adalah kaum muda atau individu berusia produktif. Jika dirinci, Generasi Z[21] (98% di antaranya berusia 16-24 tahun) merupakan kelompok yang paling aktif menggunakan internet dan layanan digital dan lebih memilih melakukan transaksi keuangan melalui aplikasi digital[22] dibandingkan metode konvensional.

Karena itu, pembayaran zakat melalui aplikasi terasa lebih sesuai dengan gaya hidup mereka. Tidak ada salahnya aplikasi atau kanal digital pembayar turut dilengkapi dengan kalkulator zakat, pengingat pembayaran, serta pilihan program penyaluran dana. Tujuannya agar proses berzakat menjadi lebih sederhana dan mudah diakses.

Read more: Potensi zakat ratusan triliun rupiah, peluang sumber pendanaan inovatif untuk perlindungan sosial[23]

Inovasi digital juga perlu memenuhi unsur transparansi dan akuntabilitas. Publik akan mengapresiasi jika ada laporan distribusi dana atau program pemberdayaan yang didukung oleh zakat mereka.

Masa depan zakat di era generasi digital

Tak zakat, aktivitas keagamaan lainnya pun bertransformasi mengikuti perkembangan zaman. Misalnya gim (Roblox[24]), kini bahkan bisa menjadi media dakwah yang cukup populer.

Karena itu, transformasi digital menunjukkan bahwa praktik filantropi Islam akan terus beradaptasi dengan perubahan teknologi dan perilaku masyarakat. Lebih dari itu, digitalisasi dapat memperkuat hubungan antara pembayar zakat dan program pemberdayaan sosial yang didukung oleh zakat.

Zakat tidak hanya berupa pemindahan manfaat dari si mampu untuk yang tidak mampu. Lebih jauh, zakat[25] bisa mengurangi tingkat kemiskinan hingga 10% dan meningkatkan produktivitas masyarakat sebesar 15% jika penyalurannya tepat sasaran.

Jika dikelola dengan baik, digitalisasi zakat tidak hanya mempermudah masyarakat dalam beribadah, tetapi juga berpotensi meningkatkan penghimpunan zakat secara signifikan. Di Malaysia, sumber dana zakat bahkan menyasar aset kripto[26].

Read more: Belajar agama di Roblox: Inovasi dakwah yang mengaburkan realitas beragama[27]

References

  1. ^ mengadopsi kanal digital (www.puskasbaznas.com)
  2. ^ menunaikan kewajibannya (baznas.go.id)
  3. ^ StockLab/Shutterstock.com (www.shutterstock.com)
  4. ^ Rp31,2 triliun (baznas.go.id)
  5. ^ Rp39,5 triliun (baznas.go.id)
  6. ^ Kasus dugaan ‘fraud’ Dana Syariah Indonesia coreng reputasi keuangan syariah nasional (theconversation.com)
  7. ^ sumber pendanaan alternatif pengentasan kemiskinan nasional (baznas.go.id)
  8. ^ berpenduduk muslim terbesar di dunia (baznas.go.id)
  9. ^ begitu rendah (baznas.go.id)
  10. ^ angka 85% (fakta.com)
  11. ^ donasi digital (doi.org)
  12. ^ tata kelola lembaga zakat (doi.org)
  13. ^ berita korupsi dana umat (jaring.id)
  14. ^ Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan (story.kejaksaan.go.id)
  15. ^ Jawa Barat (ti.or.id)
  16. ^ Kepala Kejaksaan Negeri setempat (story.kejaksaan.go.id)
  17. ^ Dari zakat sampai sukuk: Produk keuangan syariah berpotensi besar menyokong penanggulangan bencana (theconversation.com)
  18. ^ kemudahan penggunaan dan manfaat yang dirasakan (www.jstor.org)
  19. ^ Rp495 triliun (ekonomi.bisnis.com)
  20. ^ 130 juta pengguna baru dompet digital (marketresearchindonesia.com)
  21. ^ Generasi Z (datareportal.com)
  22. ^ aplikasi digital (www.deloitte.com)
  23. ^ Potensi zakat ratusan triliun rupiah, peluang sumber pendanaan inovatif untuk perlindungan sosial (theconversation.com)
  24. ^ Roblox (theconversation.com)
  25. ^ zakat (www.youtube.com)
  26. ^ menyasar aset kripto (www.cnbcindonesia.com)
  27. ^ Belajar agama di Roblox: Inovasi dakwah yang mengaburkan realitas beragama (theconversation.com)

Authors: Lusiana Ulfa Hardinawati, Dosen Perilaku Konsumen Muslim, Universitas Jember

Read more https://theconversation.com/kenapa-nilai-zakat-indonesia-masih-rendah-meski-pembayaran-zakat-digital-sudah-di-mana-mana-278304

Magazine

Kenapa nilai zakat Indonesia masih rendah meski pembayaran zakat digital sudah di mana-mana?

● Potensi zakat nasional tembus ratusan triliun.● Dana sebesar itu bisa jadi dana segar pembangunan dan pengentasan kemiskinan nasional.● Pembayaran online ternyata tak mendongkrak p...

‘Lebaran blues’ dan rasa kehilangan: Bagaimana momen hari raya bisa memicu duka

Tampak belakang seorang perempuan mengenakan pakaian salat duduk di kursi roda pada perayaan Idulfitri.Creativa Images/Shutterstock● Bagi mereka yang sedang berduka, hari raya dapat membuat rasa...

The silver lining in Europe’s deforestation law delay: A chance to build fairer supply chains

When you reach for a “palm-oil-free” label at the supermarket, you likely feel you’re doing your part to save orangutans and protect biodiversity. However, the reality behind that la...