Hobi ‘takeaway’ kopi? Awas gelas sekali pakai lepaskan ribuan partikel mikroplastik
- Written by Xiangyu Liu, Research Fellow, School of Environment and Science and Australian Rivers Institute, Griffith University
Pukul 7.45 pagi. Kamu membeli kopi takeaway di kafe langganan, sembari menggenggam gelas hangat, menyeruput sedikit, lantas bergegas ke kantor.
Kamu mungkin menganggap gelas itu tidak berbahaya, hanya wadah praktis yang membungkus asupan kafein harian.
Tapi beda ceritanya kalau gelas tersebut terbuat dari plastik atau memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya. Besar kemungkinan gelas itu melepaskan langsung ribuan pecahan plastik berukuran sangat kecil ke dalam minumanmu.
Read more: Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir?[1]
Secara global, orang-orang di dunia menggunakan 500 miliar gelas minuman panas sekali pakai tiap tahun.
Dalam penelitian terbaru[2] yang dipublikasikan di Journal of Hazardous Materials: Plastics, saya dan beberapa rekan peneliti mengkaji bagaimana gelas-gelas ini bereaksi saat terpapar panas.
Hasilnya, kami menemukan panas merupakan faktor utama yang mendorong pelepasan mikroplastik. Bahan gelas juga sangat menentukan seberapa banyak partikel mikroplastik yang dilepaskan.
Apa itu mikroplastik?
Mikroplastik adalah pecahan kecil plastik berukuran sekitar 1 mikrometer hingga 5 milimeter. Bayangkan partikel debu hingga biji wijen, kira-kira dalam rentang itulah ukurannya.
Mikroplastik bisa terbentuk ketika benda plastik yang lebih besar terurai, atau terlepas langsung dari produk plastik saat digunakan. Partikel-partikel ini kemudian berakhir di lingkungan, masuk ke makanan kita, dan pada akhirnya ke dalam tubuh kita.
Sampai saat ini, kita belum memiliki bukti yang benar-benar pasti[3] tentang seberapa banyak mikroplastik yang bertahan di dalam tubuh manusia.
Apalagi penelitian di bidang ini sangat rentan terhadap kontaminasi, sehingga sulit mengukur secara akurat partikel sekecil itu di jaringan tubuh manusia.
Para ilmuwan juga masih berupaya memahami[4] dampak mikroplastik terhadap kesehatan manusia dalam jangka panjang. Penelitian lebih lanjut sangat dibutuhkan. Namun, ada baiknya kita memahami muasal cemaran mikroplastik dalam kehidupan sehari-hari.
Read more: Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir?[5]
Suhu berperan penting
Saya dan rekan-rekan pertama-tama melakukan meta-analisis—yakni sintesis statistik dari berbagai penelitian yang sudah ada—dengan menganalisis data dari 30 studi yang sudah melalui proses telaah sejawat (peer-review).
Kami meninjau bagaimana plastik pada umumnya seperti polietilena dan polipropilena bereaksi dalam berbagai kondisi. Satu faktor yang paling menonjol dibandingkan yang lain adalah suhu.
Semakin tinggi suhu cairan di dalam wadah, umumnya semakin banyak mikroplastik yang dilepaskan.
Dalam studi-studi yang kami telaah, jumlah partikel yang dilaporkan berkisar antara ratusan hingga lebih dari 8 juta partikel per liter, tergantung pada jenis bahan dan desain penelitian.
Menariknya, “lama perendaman"—yakni berapa lama minuman berada di dalam gelas—tidak selalu menjadi faktor yang konsisten memengaruhi pelepasan mikroplastik. Hal ini menunjukkan bahwa durasi minuman di dalam gelas plastik, tidak seberpengaruh suhu awal cairan saat pertama kali terpapar plastik.
Menguji 400 gelas kopi
Untuk melihat bagaimana hal ini terjadi di dunia nyata, kami mengumpulkan 400 gelas kopi dari dua jenis utama di sekitar Brisbane, Australia.
Kami mengumpulkan gelas plastik berbahan polietilena. Gelas kertas berlapis plastik ini tampak seperti kertas biasa, tetapi memiliki lapisan plastik tipis di bagian dalamnya.
Kami mengujinya pada suhu 5°C (suhu kopi dingin) dan 60°C (suhu kopi panas). Kedua jenis gelas sama-sama melepaskan mikroplastik, tetapi hasilnya menunjukkan dua hal berbeda.
Pertama, bahan sangat menentukan. Gelas kertas berlapis plastik melepaskan lebih sedikit mikroplastik dibandingkan gelas yang sepenuhnya terbuat dari plastik, baik pada suhu dingin maupun panas.
Kedua, panas memicu peningkatan pelepasan mikroplastik yang signifikan. Pada gelas plastik murni, peralihan dari air dingin ke air panas meningkatkan pelepasan mikroplastik sekitar 33%.
Jika seseorang meminum 300 mililiter kopi (seukuran cangkir kecil biasa) per hari dari gelas plastik berbahan polietilena, maka ia berpotensi menelan sekitar 363 ribu partikel mikroplastik setiap tahun.
Lalu, mengapa panas begitu berpengaruh?
Dengan menggunakan pencitraan resolusi tinggi, kami memeriksa dinding bagian dalam gelas dan menemukan bahwa gelas plastik murni memiliki permukaan yang jauh lebih kasar ketimbang gelas kertas yang dilapisi plastik.
Tekstur yang lebih kasar membuat partikel lebih mudah terlepas. Panas mempercepat proses tersebut dengan melunakkan plastik serta menyebabkan pemuaian dan penyusutan, sehingga menciptakan lebih banyak ketidakteraturan pada permukaan yang pada akhirnya terpecah lalu masuk ke dalam minuman kita.
Read more: Plastik biodegradabel: Solusi atau ilusi ramah lingkungan?[6]
Mengelola risiko
Kamu tidak harus sepenuhnya meninggalkan kebiasaan membeli kopi takeaway di pagi hari, tetapi kamu bisa mengganti wadahnya untuk mengurangi risiko.
Untuk minuman panas, gunakan gelas pakai ulang berbahan stainless steel, keramik, atau kaca, karena bahan-bahan ini tidak melepaskan mikroplastik.
Jika kamu terpaksa menggunakan gelas sekali pakai, hasil penelitian kami menunjukkan bahwa gelas kertas berlapis plastik umumnya melepaskan lebih sedikit partikel dibandingkan gelas plastik murni—meskipun keduanya tidak sepenuhnya bebas mikroplastik.
Terakhir, karena panas adalah faktor utama pemicu pelepasan plastik, hindari menuangkan cairan yang benar-benar mendidih langsung ke dalam wadah berlapis plastik.
Minta barista menyiapkan kopi dengan suhu sedikit lebih rendah sebelum dituangkan ke gelas, sehingga menurunkan tekanan fisik pada lapisan plastik dan mengurangi paparan mikroplastik secara keseluruhan.
Dengan memahami bagaimana suhu dan pilihan bahan saling berinteraksi, kita bisa merancang produk yang lebih baik sekaligus membuat pilihan yang lebih bijak untuk asupan kafein harian kita.
Professor Chengrong Chen berkontribusi dalam artikel ini.
References
- ^ Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir? (theconversation.com)
- ^ penelitian terbaru (doi.org)
- ^ kita belum memiliki bukti yang benar-benar pasti (www.theguardian.com)
- ^ masih berupaya memahami (doi.org)
- ^ Ada mikroplastik dalam teh celup, haruskah kita khawatir? (theconversation.com)
- ^ Plastik biodegradabel: Solusi atau ilusi ramah lingkungan? (theconversation.com)
Authors: Xiangyu Liu, Research Fellow, School of Environment and Science and Australian Rivers Institute, Griffith University




