Asian Spectator

Times Advertising

Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?

  • Written by Madeleine Orr, Assistant Professor, Sport Ecology, University of Toronto

Kamu tidak salah jika merasa belakangan makin banyak orang menggandrungi olahraga lari (secara fisik maupun digital). Selama 2023[1]-2025[2], lari jadi aktivitas yang paling banyak diunggah di aplikasi olahraga Strava.

Lari merupakan salah satu bentuk aktivitas fisik yang paling mudah dilakukan, secara mandiri maupun bersama teman. Selain cuma butuh perlengkapan minimal[3], lari tidak bergantung pada fasilitas pelatihan khusus[4]. Kita hanya perlu mengikat tali sepatu dan mulai berlari.

Namun, praktik lari yang tampak sederhana ini ternyata berkaitan erat dengan dinamika lingkungan yang kompleks. Peningkatan suhu global[5] dan polusi udara membuat aktivitas lari memberatkan fisik sekaligus membahayakan. Belum lagi, sebagian perangkat digital yang diandalkan banyak pelari juga membawa dampak lingkungan[6] tersendiri.

Laporan Tren Strava tahun 2023[7] mengungkap sebanyak 75% pelari menyatakan panas ekstrem memengaruhi rencana mereka berolahraga.

Sementara itu, kualitas udara yang buruk berdampak pada 27% atlet lainnya. Saat ini kita menghadapi kenyataan bahwa peningkatan suhu bumi membuat aktivitas lari kian sulit diakses dan kurang aman untuk dilakukan.

Tantangan lainnya adalah pengaruh para runfluencer[8] (influencer di bidang lari), tren fesyen lari[9], hingga kemunculan berbagai produk yang diklaim dapat membantu pelari menghadapi cuaca panas[10]. Semua ini menunjukkan ironi yang rumit antara budaya lari, perubahan iklim, dan budaya konsumsi kita.

Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?
Hobi dapat menghadirkan kegembiraan, kesejahteraan, sekaligus ketenangan di tengah hiruk-pikuk keseharian kita. Namun sayangnya masih banyak dari kita yang belum memilikinya. Jika kamu sudah siap mengganti kebiasaan menatap layar dengan menyulam, atau meninggalkan budaya kerja berlebih demi berkebun, The Hobby Starter Kit[11] (sebuah seri terbaru dari Quarter Life[12]) hadir untuk membantumu memulainya. Bahaya cuaca panas Berlari di tengah cuaca panas dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan akibat panas berlebih, termasuk heat stroke[13] dan gagal ginjal akut[14]. Hal ini terjadi karena kegagalan sistem pendinginan tubuh dan dehidrasi akibat stres panas selama berolahraga. Bagi mereka yang berambisi memecahkan rekor pribadi, suhu panas justru menurunkan performa lari[15]. Analisis data balapan Strava[16] menunjukkan rata-rata waktu finis di New York City Marathon tahun 2022 melambat 12 menit. Pada tahun 2022, suhu mencapai 23°C dengan kelembapan tinggi, dibandingkan tahun 2021 ketika suhu berada di kisaran 13°C. Ini baru sebagian kecil dari risiko berlari di musim panas. Selain paparan panas ekstrem, keamanan berlari di musim panas juga terancam oleh kabut asap dan buruknya kualitas udara[17]. Ilustrasi sekelompok pelari.
Ilustrasi sekelompok pelari. THE CANADIAN PRESS/Yader Guzman

Pengaruh runfluencer

Tidak hanya krisis iklim yang memengaruhi rutinitas lari harian kita. Pergeseran tren budaya lari juga mengubah bagaimana cara kita berlari[18].

Saat para pelari mencoba beradaptasi dengan suhu yang kian panas, buruknya kualitas udara, serta musim panas yang dipenuhi kabut asap, tekanan untuk membeli produk baru, melacak data, dan melakukan optimasi justru semakin meningkat.

Tak sedikit dari kita mungkin telah menyadari munculnya iklan tertarget dan konten bersponsor dari para runfluencer. Mereka kerap mempromosikan produk serta aplikasi lari terbaru, salah satunya adalah Runna. Aplikasi olahraga asal Inggris ini dikenal lewat program latihan personal dan fitur pengatur kecepatan berbasis kecerdasan buatan (AI).

Sejak tahun 2022, keberadaan Runna di dunia digital melonjak secara signifikan hingga akhirnya diakuisisi Strava April tahun lalu[19].

Aplikasi seperti ini memang dapat membantu memberikan struktur latihan dan persiapan kompetisi. Namun, teknologi tersebut juga menuai kritik dari para ahli yang menaruh perhatian pada intensitas program latihan berbasis kecerdasan buatan (AI)[20] yang tak jarang menyebabkan cedera karena memforsir beban latihan.

Pihak Runna berkilah mereka tidak menggunakan AI untuk membuat rencana latihan, melainkan untuk memantau kemajuan pelari sepanjang program tersebut berlangsung.

Meski efisien dan personal, aplikasi seperti ini merupakan bagian dari infrastruktur digital yang memiliki dampak lingkungan tersendiri. Penggunaan pelacak GPS, pengunggahan data secara terus-menerus, penyimpanan berbasis cloud, hingga analisis berbasis AI, semuanya bergantung pada pusat data yang sangat boros energi[21].

Di luar penggunaan aplikasi, para runfluencer juga memanfaatkan platform digital untuk membagikan standar estetika lari[22], mulai dari sepatu, tren mode lari terkini, hingga pakaian.

Hal tersebut pada akhirnya mendorong budaya yang menormalkan konsumsi berlebihan. Fenomena ini juga meningkatkan dampak lingkungan secara drastis[23]—yang membuat lari jadi terasa kurang menarik dan semakin tak terjangkau.

Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?
Budaya lari yang makin berbasis data, mulai terjerat dengan masalah emisi serta kebutuhan energi dari teknologi digital. (Getty Images/Unsplash+)

Menjaga keselamatan saat berlari

Jika bisa memilih, pilihlah jadwal latihan dan event lari saat udara tidak terlalu panas bersuhu 2-13°C. Langkah ini bijaksana ketimbang memaksakan diri yang penuh risiko.

Sebagai contoh, bulan Mei ini Indonesia diperkirakan akan memasuki musim kemarau dan beberapa wilayah akan menghadapi cuaca panas ekstrem[24]. Kamu bisa memantau perkembangan perkiraan cuaca untuk rencana berlatih dan race yang lebih aman bagi tubuh.

Selain itu, dengarkan sinyal dari tubuh sendiri, cari saran dari pelatih manusia, serta pilih perlengkapan yang tahan lama daripada sekadar mengikuti tren mode terbaru.

Hindari pula konsumsi berlebihan terhadap produk maupun program yang sebenarnya tidak diperlukan. Karena sejatinya kita tidak memerlukan banyak perlengkapan maupun aplikasi untuk berlari.

Wawasan ini penting sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya lari toksik yang menganggap bahwa hidup sehat berarti harus mencetak target baru, terus-menerus beli perlengkapan baru, dan pamer pencapaian di aplikasi olahraga. Ini sangat krusial di tengah kondisi perubahan iklim yang membuat olahraga ini semakin rentan.

Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

References

  1. ^ 2023 (stories.strava.com)
  2. ^ 2025 (press.strava.com)
  3. ^ butuh perlengkapan minimal (www.runproject.org)
  4. ^ tidak bergantung pada fasilitas pelatihan khusus (lonelygoat.com)
  5. ^ Peningkatan suhu global (www.climatecentral.org)
  6. ^ dampak lingkungan (www.unep.org)
  7. ^ Laporan Tren Strava tahun 2023 (press.strava.com)
  8. ^ runfluencer (www.dazeddigital.com)
  9. ^ tren fesyen lari (www.instagram.com)
  10. ^ membantu pelari menghadapi cuaca panas (www.reddit.com)
  11. ^ The Hobby Starter Kit (theconversation.com)
  12. ^ Quarter Life (theconversation.com)
  13. ^ gangguan kesehatan akibat panas berlebih, termasuk heat stroke (doi.org)
  14. ^ gagal ginjal akut (doi.org)
  15. ^ menurunkan performa lari (doi.org)
  16. ^ Analisis data balapan Strava (www.runnersworld.com)
  17. ^ kabut asap dan buruknya kualitas udara (doi.org)
  18. ^ cara kita berlari (www.advnture.com)
  19. ^ Strava April tahun lalu (www.runna.com)
  20. ^ intensitas program latihan berbasis kecerdasan buatan (AI) (www.womenshealthmag.com)
  21. ^ pusat data yang sangat boros energi (iee.psu.edu)
  22. ^ estetika lari (www.vogue.com.au)
  23. ^ meningkatkan dampak lingkungan secara drastis (www.unep.org)
  24. ^ menghadapi cuaca panas ekstrem (www.cnnindonesia.com)

Authors: Madeleine Orr, Assistant Professor, Sport Ecology, University of Toronto

Read more https://theconversation.com/bukan-sekadar-tren-bagaimana-perubahan-iklim-dan-pengaruh-runfluencer-mengancam-hobi-lari-kita-282152

Magazine

Bukan sekadar tren: Bagaimana perubahan iklim dan pengaruh ‘runfluencer’ mengancam hobi lari kita?

Peningkatan suhu global dan polusi udara membuat aktivitas lari di luar ruangan menjadi lebih berat sekaligus tidak aman. Selain itu, beberapa perangkat digital yang diandalkan banyak pelari membawa d...

Kapitalisme ketuanan: Mengapa ketimpangan tetap bertahan meski Indonesia sudah demokratis?

Para petani menggelar aksi duduk di jalan protokol di Jakarta untuk merayakan Hari Buruh.Ahmad Nurur/Shutterstock● Demokrasi tidak otomatis menghapus ketimpangan sosial.● Elite mempertahan...

Darurat krisis: Pemerintah perlu dan bisa memangkas anggaran MBG hingga Rp200 triliun

● Program BGN-MBG terus menuai polemik karena pelaksanaannya semrawut dan anggarannya terlalu besar.● Desakan untuk menghemat anggaran MBG meningkat melihat kondisi APBN yang sedang tertek...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink testsahabetslot gacoronwinsahabetbets10sahabetgalabetTaraftarium24padişahbetgalabet girişpokerklas girişagb99pokerklasCratosroyalbetbetasus girişcasibomzlibrarycasibomdizipalgrandpashabetmadridbetjojobetjojobetmeritkingjojobetcasibomcasibomatlasbet giriş