Asian Spectator

Times Advertising

Tanggal kedaluwarsa produk kosmetik bukan akal-akalan ‘marketing’: Ada standar ilmiah di baliknya

  • Written by Azhoma Gumala, Lecturer, Departemen Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Andalas

● Tanggal kedaluwarsa menunjukkan batas waktu resmi sebuah produk masih dapat digunakan.

● Period after opening (PAO) menandakan batas waktu aman produk boleh digunakan sejak kemasannya dibuka pertama kali.

● Memahami batas tanggal kedaluwarsa dan PAO penting agar terhindar dari dampak kesehatan produk rusak.

Belum lama ini ramai dibahas di media sosial[1] soal expired date (tanggal kedaluwarsa) produk kecantikan hanyalah “akal-akalan marketing” agar konsumen terus membeli produk baru.

Seorang formulator produk kecantikan dalam video tersebut[2] mengatakan bahwa produk skincare masih bisa digunakan hingga 6-10 tahun setelah tanggal kedaluwarsa.

Sebagai konsumen, kita harus bijak menelaah pernyataan ini. Klaim itu menyepelekan penggunaan tanggal kedaluwarsa pada skincare yang sejatinya dibuat berdasarkan uji ilmiah.

Penggunaan batas tanggal kedaluwarsa ini penting untuk melindungi konsumen dari risiko gangguan kesehatan, seperti iritasi kulit akibat produk yang sudah expired.

Apa itu tanggal kedaluwarsa?

Semua produk (termasuk kosmetik) memiliki masa simpan. Masa simpan adalah periode ketika produk diharapkan dapat mempertahankan kualitasnya, asalkan konsumen menyimpannya sesuai petunjuk kemasan.

Tanggal kedaluwarsa menyatakan batas waktu resmi sebuah produk masih dapat digunakan. Tanggal ini ditetapkan berdasarkan uji stabilitas (pengujian kemampuan produk dalam mempertahankan kualitasnya dari waktu ke waktu sebelum rusak) yang ketat dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM[3]).

Artinya, setelah melewati tanggal tersebut, mutu dari produk tidak lagi dijamin. Tanggal kedaluwarsa merupakan masa simpan yang mengikat secara legal, antara pelaku usaha, pemerintah, dan konsumen.

Bagaimana tanggal kedaluwarsa ditetapkan?

Produsen menetapkan tanggal kedaluwarsa setelah melewati serangkaian uji stabilitas. Tes ini dilakukan pada suhu dan kondisi tertentu.

Uji stabilitas[4] dapat dilakukan secara real time (uji waktu nyata) maupun dipercepat.

1. Uji waktu nyata

Uji stabilitas secara real time artinya produk disimpan dalam kondisi ruangan normal selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Tujuannya untuk mengamati keawetannya dalam jangka panjang.

Stabilitas sebuah produk bisa dipengaruhi oleh sejumlah faktor utama, seperti suhu (panas dapat mempercepat kerusakan), kelembapan (tingginya kadar air mempercepat kerusakan), dan cahaya.

Selain itu, sifat dari produk terkait juga berpengaruh, misalnya kadar air, kecenderungannya menyerap uap air dari udara, hingga keasaman (pH).

Menurut Hukum Arrhenius, setiap kenaikan suhu 10°C, kerusakan produk akan meningkat 2-3 kali lebih cepat[5].

Contohnya, produk krim atau losion yang disimpan di dasbor mobil. Akibat panas, krim dapat terpisah menjadi dua lapisan, yaitu bagian minyak di atas dan air di bawah.

Tekstur losion juga berubah, kadang menggumpal atau berair menandakan produk sudah tidak stabil. Namun, jika tidak ada perubahan fisik yang dapat terlihat, bukan berarti perubahan secara kimia tidak terjadi.

Kandungan oktorilena dalam produk tabir surya, misalnya, dapat terurai lebih cepat pada suhu tinggi menjadi benzofenon yang membahayakan kesehatan, meski produk[6] tidak mengalami perubahan fisik kasat mata.

Risiko kontaminasi mikroorganisme[7] juga meningkat seiring waktu, terutama pada produk yang mengandung banyak air[8].

2. Uji dipercepat

Uji stabilitas juga bisa dipercepat[9] dengan meletakkan produk dalam kondisi ekstrem (seperti suhu sangat panas ataupun lembap). Tujuannya, agar peneliti bisa melihat reaksi kerusakan produk dalam kurun jauh lebih singkat.

Karena Indonesia memiliki iklim tropis yang basah, uji stabilitas di negara kita mengacu pada pedoman internasional[10] dari International Council for Harmonisation (ICH) yang dirancang khusus zona iklim lembap.

Beberapa industri kosmetik juga berpedoman kepada uji stabilitas obat dalam melaksanakan pengujian. Hasilnya menjadi dasar penentuan tanggal kedaluwarsa.

Produsen melakukan uji stabilitas setelah produk dikemas. Kemasan berfungsi melindungi produk dari pengaruh lingkungan[11].

Beda ‘expired date’ dan PAO kosmetik

Selain tanggal kedaluwarsa, produk kecantikan biasanya juga mencantumkan period after opening (PAO).

PAO menggambarkan batas waktu aman sebuah produk boleh digunakan sejak kemasannya dibuka pertama kali. PAO ditetapkan berdasarkan analisis risiko produk terhadap kontaminasi mikroorganisme.

Setelah kemasan[12] dibuka, produk lebih mudah terkontaminasi akibat faktor pengguna (seperti sentuhan tangan) ataupun faktor kemasan (penggunaan tutup botol lebih mudah masuk udara dan air). Kedua faktor tersebut meningkatkan risiko cemaran mikroorganisme.

Contoh PAO.
Contoh PAO. simplevect / Shutterstock[13]

Label PAO biasanya berupa simbol wadah terbuka. Contoh, 12M berarti produk aman digunakan selama 12 bulan sejak pertama kali kemasan dibuka.

PAO umumnya lebih pendek dibandingkan dengan masa simpan atau tanggal kedaluwarsa.

Lantas, patokan mana yang harus kita ikuti?

Aturannya sederhana: batas aman penggunaan produk mengikuti batas waktu yang paling cepat habis.

Sebagai contoh, sebuah produk kosmetik mencantumkan tanggal kedaluwarsa 11/2027 dan PAO 12 bulan.

Jika produk awal digunakan saat kemasan pertama dibuka pada Januari 2025, maka batas aman produk mengikuti PAO—terhitung 12 bulan setelah bulan Januari, yaitu Desember 2025.

Akan tetapi, jika produk awal digunakan pada Januari 2027, maka batas aman penggunaannya mengikuti tanggal kedaluwarsa pada November 2027—yang lebih dulu tercapai daripada PAO pada Januari 2028.

Jadi tanggung jawab bersama

Keamanan kosmetik adalah tanggung jawab bersama. Produsen atau pelaku usaha bertanggung jawab melakukan uji stabilitas dengan benar, serta memberikan informasi yang jelas dan transparan kepada konsumen.

Pemerintah melalui BPOM[14] bertanggung jawab mengawasi dan memberi izin edar berupa notifikasi dari produk kosmetik di pasaran. BPOM menetapkan standar, kriteria atas produk, dan melakukan pengawasan—baik sebelum dan setelah produk diedarkan.

Konsumen juga bertanggung jawab memilih, menyimpan, dan menggunakan produk kosmetik dengan benar. Termasuk dengan mengecek tanggal kedaluwarsa sebelum membeli produk kosmetik, memperhatikan simbol PAO, dan menyimpan produk sesuai label.

Hal yang terpenting adalah jaga kesehatan diri dengan tidak menggunakan produk ketika sudah muncul tanda-tanda kerusakan, seperti perubahan warna dan tekstur.

Detria Wulandari, konsultan industri kosmetik, turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

References

  1. ^ media sosial (www.instagram.com)
  2. ^ video tersebut (www.instagram.com)
  3. ^ BPOM (jdih.pom.go.id)
  4. ^ Uji stabilitas (www.iso.org)
  5. ^ cepat (eprints.bournemouth.ac.uk)
  6. ^ produk (pubs.acs.org)
  7. ^ Risiko kontaminasi mikroorganisme (link.springer.com)
  8. ^ air (link.springer.com)
  9. ^ dipercepat (www.iso.org)
  10. ^ pedoman internasional (www.ich.org)
  11. ^ pengaruh lingkungan (www.sciencedirect.com)
  12. ^ Setelah kemasan (www.cosmeticsandtoiletries.com)
  13. ^ simplevect / Shutterstock (www.shutterstock.com)
  14. ^ BPOM (waskos.pom.go.id)

Authors: Azhoma Gumala, Lecturer, Departemen Teknologi Farmasi, Fakultas Farmasi, Universitas Andalas

Read more https://theconversation.com/tanggal-kedaluwarsa-produk-kosmetik-bukan-akal-akalan-marketing-ada-standar-ilmiah-di-baliknya-282479

Magazine

Tanggal kedaluwarsa produk kosmetik bukan akal-akalan ‘marketing’: Ada standar ilmiah di baliknya

● Tanggal kedaluwarsa menunjukkan batas waktu resmi sebuah produk masih dapat digunakan.● Period after opening (PAO) menandakan batas waktu aman produk boleh digunakan sejak kemasannya dib...

Setelah PAMSIMAS berhenti: Mengapa layanan air perdesaan tak jadi prioritas seperti MBG dan Kopdes?

● Program PAMSIMAS yang menyediakan akses air bersih bagi puluhan juta warga desa berhenti sejak 2022.● Padahal, setengah dari layanan PAMSIMAS berada di wilayah yang rawan kekeringan. ...

Akibat kebelet viral, tempat wisata potensial kerap layu sebelum berkembang

● Bagi tempat pariwisata, jadi viral memang salah satu strategi mujarab mendatangkan wisatawan.● Sayangnya banyak yang menjadikan viralitas jadi prioritas utama dalam strategi pengembangan...

hacklink hack forum hacklink film izle hacklink testsahabetslot gacoronwinsahabetbets10sahabetgalabetTaraftarium24padişahbetgalabet girişTophillbetagb99Tophillbetbetasus girişcasibomzlibrarycasibomdizipalgrandpashabetjojobetcasibomjojobetdeneme bonusu veren sitelermeritkingcasibomjojobetjojobet