Asian Spectator

Men's Weekly

.

Memahami tren populisme dan otoritarianisme melalui pemikiran Hannah Arendt

  • Written by Martinus Ariya Seta, Dosen, Universitas Sanata Dharma
The Origins of Totalitarianism

● Menurut Hannah Arendt, populisme dan otoritarianisme berakar pada ‘worldlessness’: runtuhnya ruang publik dan ikatan kolektif.

● Arendt menekankan bahwa hakikat politik adalah ‘freedom’ (tindakan di ruang publik), bukan ‘liberation’ (pembebasan).

● Populisme dan otoritarianisme masa kini...

Magazine

Female genital cutting: why Southeast Asia should follow Africa’s lead in challenging religious and cultural justifications

Illustration of campaign against Female Genital Mutilation (FGM).Tunatura/ShutterstockFemale genital mutilation or cutting (FGM/C) remains a threat to the rights of women in Southeast Asia, often reli...

Manfaat tempe juga bisa menyehatkan tulang: Mengapa pengakuan dari UNESCO saja tidak cukup?

● Sejumlah negara (seperti Belgia dan Jepang) merekomendasikan warganya memperbanyak konsumsi tempe. ● Tempe punya banyak manfaat kesehatan, termasuk bagi kesehatan tulang.● Pemerint...

Pemberdayaan warga jadi solusi efektif meredam abrasi: Pelajaran dari pesisir Bulukumba

● Indonesia memiliki banyak kawasan pesisir rawan abrasi ekstrem, seperti di Bulukumba, Sulawesi Selatan.● Pemberdayaan masyarakat setempat amat krusial untuk mencegah abrasi.● Pemba...