Asian Spectator

.

.

Bagaimana cara semut melawan grativasi dan merayap di dinding?

  • Written by Deby Cassill, Associate Professor of Integrative Biology, University of South Florida
Bagaimana cara semut melawan grativasi dan merayap di dinding?

Bagaimana semut melawan grativasi dan merayap di dinding? – Ethan, umur 9, Dallas, Texas, Amerika Serikat

Saat saya pertama kali memulai pekerjaan sebagai ahli biologi[1] di University of South Florida, Amerika Serikat, saya mengendarai mobil Jeep saya ke lapangan berumput, menggali gundukan semut api, dan menggunakan sekop untuk memasukannya ke ember lima galon. Seketika, ribuan semut dengan bebas keluar dari tanah dan naik ke dinding ember. Untungnya saya memegang tutup ember.

Bagaimana semut dengan sangat mudah merayap di dinding, langit-langit, dan permukaan lainnya? Saya telah mempelajari semut selama 30 tahun[2], dan kemampuan merayap mereka selalu membuat saya takjub.

Semut pekerja – yang semuanya betina[3] – memiliki seperangkat alat cakat, tulang belakang, dan bulu[4] yang mengesankan dan bantalan lengket di kaki mereka yang memungkinkan mereka untuk memanjat hampir semua permukaan.

Tangan manusia lawan kaki semut

Untuk memahami kaki semut, sebaiknya kita membandingkannya dengan tangan manusia. Tangan kamu memiliki satu bagian yang luas, yaitu telapak tangan dengan empat jari dan ibu jari yang berlawanan. Setiap jari memiliki tiga bagian, sedangkan ibu jari hanya memiliki dua bagian. Kuku yang keras tumbuh dari ujung jari dan ibu jari kamu.

Manusia memiliki dua tangan – semut memiliki enam kaki. Kaki semut mirip dengan tangan manusia, tetapi mereka lebih kompleks, dengan tambahan beberapa bagian-bagian yang terlihat aneh untuk menyempurnakannya.

Tampilan satu kaki semut yang beruas-ruas dari jarak dekat. Setiap kaki dilapisi dengan alat runcing yang membantu mencengkeram hampir semua permukaan. Deby Cassill, CC BY-ND[5]

Kaki semut memiliki lima bagian bersendi, dengan bagian ujung yang memiliki sepasang cakar. Cakarnya berbentuk seperti cakar kucing dan dapat mencengkeram permukaan tidak rata di dinding. Setiap bagian kaki juga memiliki tulang runcing dan rambut tebal dan tipis yang memberikan daya penarik tambahan dengan menempel pada lubang mikroskopis pada permukaan bertekstur seperti kulit kayu. Cakar dan tulang runcing memiliki manfaat tambahan untuk melindungi kaki semut dari permukaan yang panas dan benda tajam, seperti halnya kaki manusia yang dilindungi oleh sepatu.

Namun, ciri yang benar-benar membedakan tangan manusia dari kaki semut adalah bantalan lengket yang dapat mengembang, yang disebut arolia.

Kaki yang lengket

Arolia terletak di antara cakar di ujung setiap kaki semut[6]. Bantalan seperti balon ini memungkinkan semut melawan gravitasi dan merayap di langit-langit atau permukaan yang sangat keras seperti kaca.

Tampilan mikroskopis kaki semut api. Bagian ujungnya menunjukkan dua cakar yang ditarik dan memperlihatkan struktur seperti bantal yang mengembang.
Bantalan tempel yang dapat mengembang membawa cling. Deby Cassill, CC BY-ND[7]

Ketika seekor semut berjalan di dinding atau langit-langit, gravitasi menyebabkan cakarnya berayun lebar dan menarik ke belakang. Pada saat yang sama, otot-otot kak semut memompa cairan ke bantalan di ujung kakinya, menyebabkannya mengembang. Cairan tubuh ini disebut hemolimfa[8], yaitu cairan lengket yang mirip dengan darah manusia yang beredar di seluruh tubuh semut.

Setelah hemolimfa memompa bantalan, sebagian darinya bocor ke luar bantalan, sehingga semut dapat menempel di dinding atau langit-langit. Namun, ketika seekor semut mengangkat kakinya, otot-otot kakinya berkontraksi dan menyedot sebagian besar cairan kembali ke bantalan dan kemudian kembali ke kaki. Dengan cara ini, darah semut digunakan berulang kali – dipompa dari kaki ke bantalan, lalu dihisap kembali ke kaki – sehingga tidak ada yang tertinggal.

imageKaki semut bergerak di atas kaca. Atas izin Deby Cassill.

Semut merupakan hewan yang sangat ringan, hal itu mengakibatkan enam bantalan yang lengket cukup untuk menahan mereka melawan tarikan gravitasi di permukaan apapun. Bahkan, di saat berada di bawah tanah yang menjadi rumah mereka, semut menggunakan bantalan lengket untuk tidur di langit-langit[9]. Dengan tidur di langit-langit, semut menghindari semut-semut lain yang sibuk bergerak di lantai rumah mereka.

Gaya berjalan yang unik

Saat kamu berjalan dan bergerak maju, kaki kiri dan kanan kamu bergerak secara bergantikan, dengan satu kaki menginjak tanah sementara kaki yang lain berada di udara. Semut juga menggerakkan kaki mereka secara bergantian, dengan tiga di permukaan dan tiga di udara sekaligus.

Simulasi komputer yang menunjukkan gaya berjalan semut yang unik. Dibuat oleh Shihui Guo.

Pola berjalan semut terbilang unik jika dibandingkan dengan serangga berkaki enam lainnya[10]. Pada semut, kaki kiri depan dan belakang berada di tanah dengan kaki kanan tengah, sedangkan kaki kanan depan dan belakang serta kaki kiri tengah berada di udara. Kemudian mereka bergantian. Kamu dapat mencoba meniru pola tiga bagian ini dengan menggunakan tiga jari di masing-masing tangan.

Jika setelah ini kamu melihat semut merayap di dinding, perhatikan baik-baik dan kamu mungkin akan menyaksikan betapa menariknya hal ini.

_Apakah kamu punya pertanyaan yang ingin dikembangkan ke ahli? Minta bantuan ke orang tua atau orang yang lebih dewasa untuk mengirim pertanyaanmu pada kami. Ketika mengirimkan pertanyaan, pastikan kamu sudah memasukkan nama pendek, umur, dan kota tempat tinggal. Kamu bisa:

Zalfa Imani Trijatna dari Universitas Indonesia menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Authors: Deby Cassill, Associate Professor of Integrative Biology, University of South Florida

Read more https://theconversation.com/bagaimana-cara-semut-melawan-grativasi-dan-merayap-di-dinding-191456

Magazine

Twitter mencabut larangan misinformasi COVID: ini risiko besar bagi kesehatan masyarakat

Pembatasan misinformasi COVID-19 di Twitter telah dinonaktifkan. Foto AP/Jeff ChiuPara peneliti dan pakar kesehatan masyarakat sangat prihatin tentang kemungkinan dampak dari keputusan Twitter untuk t...

Lessons from Cianjur: earthquake-prone Indonesia does not have seismic mitigation plan

The SAR team is looking for victims buried in an earthquake landslide in Cianjur Regency, West Java, Indonesia, November 24, 2022. BETWEEN PHOTOS/Yulius Satria Wijaya/hpMore than 340 people are dead o...

Upah minimum 2023 naik maksimal 10%: baik untuk pengusaha dan pekerja?

Kementerian Ketenagakerjaan mengumumkan upah minimum tahun 2023 naik maksimal 10%. Pengumuman ini tercantum dalam Peraturan Menteri Ketenagakerjaan (Permenaker) nomor 18 tahun 2022 tentang penetapan u...



NewsServices.com

Content & Technology Connecting Global Audiences

More Information - Less Opinion