Alkitab sedikit menceritakan masa kecil Yesus, tapi umat kristen abad pertengahan menikmati kisah yang menggambarkannya sebagai sosok suci yang “nakal”
- Written by Mary Dzon, Associate Professor of English, University of Tennessee
Adegan kelahiran Yesus Kristus (Manger scenes) yang ramai dalam waktu Natal biasanya digambarkan dengan kehadiran lembu dan keledai di samping bayi Yesus. Menurut Injil Lukas[1], saat itu tidak ada ruangan yang tersedia untuk Bunda Maria dan bayi Yesus. Akhirnya Bunda Maria membaringkan bayinya di bak beralas jerami.
Kehadiran lembu dan keledai dalam adegan ini sebenarnya bukan sekadar sebagai pengasuh. Kehadiran ini bisa merujuk pada kitab Yesaya 1:3 yang ditafsirkan oleh umat Kristen awal sebagai nubuat kelahiran kristus[2].
Dalam sejumlah karya seni awal, lembu dan keledai kerap digambarkan berlutut untuk menunjukkan bentuk penghormatan. Gestur ini merupakan sebuah pengakuan bahwa bayi yang dibedong dan lahir di dunia dengan kesederhanaan tersebut merupakan sosok Tuhan.
Injil-injil kanonik dalam Perjanjian Baru sebenarnya tidak menceritakan kehadiran hewan-hewan yang menyambut kelahiran Yesus seperti gambaran sebelumnya. Akan tetapi, karya seni sejak abad keempat[3] memperlihatkan hal ini.
Teks apokrif[4]—cerita-cerita Kristen kuno yang tidak masuk dalam kanon Alkitab, juga memopulerkan penggambaran tersebut. Contohnya Injil Pseudo-Matius[5], yang kemungkinan besar ditulis oleh seorang rahib anonim pada abad ketujuh. Injil ini banyak mengisahkan masa anak-anak Yesus.
Setelah membahas kelahiran, Alkitab hampir sepenuhnya tidak membahas mengenai masa kecil Yesus. Walaupun begitu, kisah masa-masa awal Yesus tetap menyebar luas pada abad pertengahan.
Hal inilah yang menjadi fokus dalam buku saya pada 2017[6]. Meskipun kisah mengenai lembu dan keledai cukup populer di kalangan umat Kristen, saat ini sangat sedikit yang menyadari bahwa masih ada kisah-kisah mengejutkan lainnya yang diwariskan oleh teks apokrif[7].
Pembuat mukjizat
Alkitab hanya memuat satu kisah terkenal dari masa remaja Yesus. Kisah tersebut menggambarkan Yesus yang berusia 12 tahun dan tertinggal di Bait Suci di Yerusalem[9] tanpa diketahui orang tuanya.
Setelah mencari dengan cemas, mereka menemukan Yesus tengah berbincang dengan para pengajar agama. Di sana, Yesus terlihat mengajukan beberapa pertanyaan dan mengejutkan para pengajar agama dengan jawaban-jawaban yang kemudian keluar dari dirinya sendiri.
Dalam lukisan abad ke-14 karya Simone Martini berjudul Christ Discovered in the Temple, Yesus digambarkan berdiri dengan tangan yang menyilang di depan orang tuanya. Yesus terlihat sebagai anak muda keras kepala yang tidak merasa bersalah karena telah membuat orang tuanya cemas berhari-hari.
Teks apokrif, sementara itu, mengisahkan masa kecil Yesus yang lain. Misalnya cerita mengenai tahun-tahun ketika Yesus masih kecil yang terdapat pada Injil apokrif Pseudo-Matius[10]. Injil tersebut mengambil materinya dari injil apokrif yang lebih awal seperti Injil Kanak-Kanak Thomas[11].
Seperti kisah bait suci, Injil apokrif mengisahkan Yesus sebagai anak yang kadang menyulitkan tetapi memiliki kebijaksanaan yang mengagumkan. Bahkan, kebijaksanaan tersebut kadang sampai menyinggung calon gurunya.
Dengan lebih dramatis, cerita dalam teks apokrif ini juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil yang telah menunjukkan kuasa ilahi sejak usia dini.
Sama seperti kisah Yesus dewasa dalam Injil Perjanjian Baru, teks apokrif menggambarkan Yesus anak-anak sering melakukan keajaiban untuk menolong orang-orang yang membutuhkan.
Sebagai contoh, Injil Matius mengisahkan Bunda Maria dan Yusuf membawa bayi Yesus ke Mesir. Tindakan ini dilakukan setelah malaikat memberitahu bahwa Herodes, raja dari Judea, akan membunuh bayi tersebut[14].
Injil Pseudo-Matius kemudian menceritakan, saat Yesus belum berusia dua tahun, dengan berani ia berdiri dengan kakinya sebelum naga-naga keluar dari sebuah gua tempat keluarganya berhenti untuk istirahat.
Naga-naga yang mengerikan itu kemudian malah menyembahnya dan memutuskan untuk pergi[15]. Sementara itu, Yesus meyakinkan orang-orang di sekelilingnya, bahwa ia adalah “manusia sempurna” yang bisa “menaklukan segala jenis binatang buas”.
Yesus kemudian memerintahkan pohon kurma untuk merunduk agar Bunda Maria yang kelelahan dapat memetik buahnya. Selain itu, secara ajaib Yesus juga memperpendek perjalanan mereka saat berada di padang pasir.
Sebenarnya, terkadang dalam kisah-kisah ini Yesus justru dipersalahkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Misalnya, pengggambaran dalam panel keramik Tring Tiles[16] sejak abad ke-14. Panel yang berada di British Museum tersebut menggambarkan teman Yesus yang sedang ditahan oleh ayahnya di sebuah menara. Yesus berupaya menarik temannya keluar melalui sebuah celah kecil layaknya seorang ksatria abad pertengahan ketika menyelamatkan perempuan dari bahaya.
Ayah dari teman Yesus rupanya berusaha untuk menghindarkan putranya dari pengaruh Yesus. Sikap ini sebenarnya sangat dapat dipahami, mengingat banyak kisah menceritakan bagaimana Yesus menyebabkan kematian bagi teman-teman atau anak-anak lain di sekitar yang menyinggung perasaannya.
Dalam kisah lainnya,[17] yang dinamai oleh seorang peneliti sebagai “kematian akibat senggolan”[18], mengisahkan bahwa seorang anak laki-laki menabrak Yesus. Hal itu membuat Yesus mengutuk anak tersebut hingga si anak meninggal di tempat. Setelah itu, Yesus menghidupkan kembali anak tersebut karena mendapat teguran singkat dari Yusuf.
Salah satu keramik dekoratif Tring yang dibuat pada abad ke-14. Keramik ini menampilkan Yesus yang menolong temannya keluar dari sebuah menara.
© The Trustees of the British Museum, CC BY-NC-SA[19][20]
Dalam kisah lain yang terdapat lewat manuskrip bergambar dalam narasi Anglo-Norman[21], Yesus diceritakan melepas jubah dan meletakan jubah tersebut di atas sinar matahari.
Yesus kemudian duduk di atasnya dan membuat anak-anak lain yang melihatnya, “berpikir ingin melakukan hal yang sama. Akan tetapi, anak-anak tersebut terlalu terburu-buru. Mereka akhirnya terjatuh bersamaan. Satu persatu dari mereka melompat terlalu cepat ke atas sinar matahari dan mereka pun akhirnya berakhir buruk. Satu persatu dari leher mereka kemudian patah.”
Yesus kemudian mengobati anak-anak tersebut atas permintaan dari orang tuanya.
Yusuf kemudian mengakui kepada tetangga bahwa Yesus “memang terlalu liar”. Oleh karena itu ia memutuskan untuk mengirim Yesus untuk pergi. Yesus yang berusia tujuh tahun kemudian menjadi murid seorang ahli pewarna kain.
Ahli tersebut memberikannya petunjuk terperinci soal pewarnaan tiga kain di tiga wadah yang berbeda. Namun, saat gurunya pergi, Yesus mengabaikan perintahnya dan melempar semua kain kedalam satu wadah yang sama. Meski begitu, Yesus tetap berhasil mencapai hasil yang diinginkan.
Ketika sang guru kembali, ia sempat berfikir dirinya “dirusak oleh anak kecil nakal ini”. Namun, ia kemudian tersadar bahwa sebuah keajaiban telah terjadi.
Yesus duduk di atas sinar matahari, sementara anak laki-laki lain berusaha untuk melakukan hal yang sama. Terdapat dalam miniature dari manuskrip Seldren Supra 28 yang dibuat pada awal abad ke-14.
© Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford, CC BY-NC-SA[22][23]
Ikatan dengan hewan
Legenda-legenda apokrif juga menunjukkan bagaimana Yesus yang masih anak-anak memiliki kuasa[24] atas dunia hewan[25].
Misalnya, ketika Yesus memasuki gua singa yang amat ditakuti. Di gua itu, “anak-anak singa berlarian di kakinya, membelai, dan bermain dengannya. Sementara itu "singa-singa dewasa berdiri dari kejauhan dan menyembahnya, mereka mengibas-ngibaskan ekor di hadapan Yesus”.
Yesus mengatakan kepada orang-orang yang menyaksikan, bahwa binatang-binatang tersebut lebih baik daripada mereka. Hewan-hewan ini lebih baik karena mereka “mengenali dan memuliakan Tuhan mereka”
Kisah-kisah ini memang menggambarkan Yesus sebagai anak yang agak angkuh. Menyadari akan keilahian-Nya, Yesus tidak senang diperlakukan hanya sebagai anak biasa saja.
Namun, pada saat yang bersamaan, kisah-kisah tersebut juga menggambarkan Yesus sebagai anak kecil sungguhan yang senang bermain. Yesus kecil tampak keanak-anakan dengan caranya yang kerap bertindak spontan serta tidak terlalu memedulikan nasihat orang-orang yang lebih tua.
Manuskrip abad ke-14, the Klosterneuburger Evangelienwerk menunjukkan Yesus kecil bermain dengan singa.
Perpustakaan Kota Schaffhausen via Wikimedia Commons[26]
Kedekatan Yesus pada hewan juga membuatnya tampak keanak-anakan. Menariknya, hewan-hewan di teks-teks apokrif juga dimulai dengan kehadiran lembu dan keledai yang menyadari bahwa Yesus bukanlah anak kecil biasa. Mereka menyadari hal ini bahkan sebelum tokoh manusia menyadarinya.
Sebenarnya, terdapat sisipan licik pada legenda-legenda yang hadir terkait hubungan Yesus dan hewan ini. Legenda ini menyiratkan bahwa banyak orang Yahudi di sekitar Yesus tidak sepeka hewan-hewan di sekitarnya.
Narasi ini merupakan bagian dari produk antisemitisme yang meluas di Eropa abad pertengahan. Dalam sebuah khotbah pada abad ke-5[27], Quodvultdeus, Uskup Kartago[28], mempertanyakan kenapa pengakuan hewan-hewan terhadap Yesus saat ia bebaring di bak jerami tidak menjadi tanda-tanda yang cukup bagi orang-orang Yahudi.
Buku gambar Alkitab Holkham abad ke-14 menggambarkan Yesus melakukan tugas-tugas domestik di rumah (London, British Library, tambahan MS 47682, fol. 18).
Courtesy British Library[29]
Dalam Alkitab pun, Yesus diceritakan melakukan mukjizat pertamanya sebagai orang dewasa[30] dalam sebuah pesta pernikahan di Kana. Meskipun begitu, kisah-kisah apokrif menghadirkan gagasan bahwa sosok Tuhan yang menjelma menjadi manusia ini sudah menunjukkan kuasanya sejak dini.
Legenda-legenda ini menyiratkan, bahwa sifat keanak-anakan Kristus mendistraksi banyak orang di sekelilingnya. Hal tersebut membuat mereka tidak menyimpulkan bahwa Kritstus merupakan Sang Mesiah.
Di satu sisi, hal ini membuat teks-teks apokrif menjadi tidak bertentangan dengan referensi Alkitab yang menyebut Yesus sebagai “anak tukang kayu” saja[31], sesuatu yang berkebalikan dari seorang anak yang berkmukjizat.
Setiap Natal, umat Kristen modern di dunia Barat merayakan kelahiran Yesus. Namun, di tengah-tengah perayaan tersebut, dengan cepatnya mereka melupakan tema tentang Yesus sebagai anak-anak.
Sebaliknya, umat Kristen di abad pertengahan terpersona oleh kisah-kisah tentang Sang Anak Allah yang tumbuh dewasa[32].
Meskipun berperan sebagai penjinak naga, tabib, maupun pesulap, sebagian besar peran Yesus dalam teks-teks apokrif ini seakan tak menonjol, karena keilahian Yesus seperti diselimuti dengan sifat-sifat keanak-anakan ala “anak nakal”.
Adinda Ghinashalsabila Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris.
References
- ^ Injil Lukas (www.biblegateway.com)
- ^ nubuat kelahiran kristus (www.biblegateway.com)
- ^ karya seni sejak abad keempat (commons.wikimedia.org)
- ^ Teks apokrif (www.harvard.com)
- ^ Injil Pseudo-Matius (wipfandstock.com)
- ^ buku saya pada 2017 (www.pennpress.org)
- ^ teks apokrif (global.oup.com)
- ^ Google Cultural Institute/Walker Art Gallery via Wikimedia Commons (commons.wikimedia.org)
- ^ tertinggal di Bait Suci di Yerusalem (www.biblegateway.com)
- ^ Injil apokrif Pseudo-Matius (wipfandstock.com)
- ^ apokrif yang lebih awal seperti Injil Kanak-Kanak Thomas (www.tonyburke.ca)
- ^ © Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford (digital.bodleian.ox.ac.uk)
- ^ CC BY-NC (creativecommons.org)
- ^ malaikat memberitahu bahwa Herodes, raja dari Judea, akan membunuh bayi tersebut (www.biblegateway.com)
- ^ menyembahnya dan memutuskan untuk pergi (wipfandstock.com)
- ^ panel keramik Tring Tiles (www.britishmuseum.org)
- ^ kisah lainnya, (wipfandstock.com)
- ^ “kematian akibat senggolan” (www.proquest.com)
- ^ © The Trustees of the British Museum (www.britishmuseum.org)
- ^ CC BY-NC-SA (creativecommons.org)
- ^ narasi Anglo-Norman (frenchofengland.ace.fordham.edu)
- ^ © Perpustakaan Bodleian, Universitas Oxford (digital.bodleian.ox.ac.uk)
- ^ CC BY-NC-SA (creativecommons.org)
- ^ memiliki kuasa (wipfandstock.com)
- ^ atas dunia hewan (theconversation.com)
- ^ Perpustakaan Kota Schaffhausen via Wikimedia Commons (commons.wikimedia.org)
- ^ sebuah khotbah pada abad ke-5 (www.brepols.net)
- ^ Quodvultdeus, Uskup Kartago (dacb.org)
- ^ Courtesy British Library (www.imagesonline.bl.uk)
- ^ melakukan mukjizat pertamanya sebagai orang dewasa (www.biblegateway.com)
- ^ “anak tukang kayu” saja (www.biblegateway.com)
- ^ terpersona oleh kisah-kisah tentang Sang Anak Allah yang tumbuh dewasa (www.pennpress.org)
Authors: Mary Dzon, Associate Professor of English, University of Tennessee





