Asian Spectator

Men's Weekly

.

Lumpur sisa banjir tidak boleh dibuang sembarangan, bisa dimanfaatkan atau dijual

  • Written by Dian Fiantis, Professor of Soil Science, Universitas Andalas

● Lumpur sisa banjir yang dibuang kembali ke sungai, bisa memperbesar risiko banjir di masa depan.

● Perlu penanganan khusus agar lumpur tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan.

● Pengelolaan lumpur dan sedimen sisa banjir harus masuk strategi mitigasi bencana.

Setiap kali banjir bandang melanda, perhatian publik biasanya fokus pada air yang meluap, rumah yang terendam, dan infrastruktur yang rusak.

Namun, ada satu “warisan” yang sering luput dari perhatian: lumpur dan sedimen—endapan material yang terbawa bah.

Lumpur kerap dianggap sekadar kotoran yang harus segera disingkirkan. Padahal, cara kita membersihkan lumpur ini akan sangat menentukan apakah risiko banjir berikutnya bakal lebih ringan—atau justru semakin parah.

Banjir tak usai saat air surut

Setelah banjir, orang biasanya segera bersih-bersih. Lumpur dikeruk dari jalanan dan rumah-rumah warga, lalu—sering kali tanpa disadari—dibuang kembali ke sungai karena dianggap sebagai tempat pembuangan paling mudah.

Cara ini tampaknya praktis, tetapi sesungguhnya berbahaya. Mengapa demikian?

Menimbun sedimen dan lumpur sedimen di sungai membuat dasar sungai menjadi semakin dangkal, sehingga tidak lagi mampu menampung air sebanyak sebelumnya[1].

Akibatnya, saat hujan deras datang lagi di kemudian hari, sungai akan lebih cepat meluap. Wilayah yang tergenang banjir bisa menjadi lebih luas.

Banjir Sumatra
Kondisi sungai sebelum dan sesudah banjir. Author provided

Kesalahan berulang dalam menangani lumpur akan membuat sebuah wilayah terjebak dalam siklus banjir yang tak berkesudahan.

Jadi, jika lumpur dan sedimen sisa banjir dibuang sembarangan ke sungai, maka kita sebenarnya sedang menyiapkan banjir berikutnya.

Read more: Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabat[2]

Seberapa besar muatan lumpur yang dibawa banjir?

Besarnya ancaman lumpur pascabanjir terlihat jelas dari hasil pengukuran di lapangan. Dua hari setelah banjir bandang melanda Sumatra Barat pada akhir tahun lalu, kami mengambil sampel air di Batang (Sungai) Kuranji, Kota Padang.

Hasil analisis menunjukkan nilai TSS (total suspended solids) atau kandungan lumpur di dalam air mencapai 8 gram per liter air atau setara dengan 8 kilogram sedimen per meter kubik air.

Angka ini tergolong sangat tinggi[3] dan menggambarkan betapa besar muatan lumpur dan material halus yang terbawa aliran banjir.

Sebagai perbandingan, dalam kondisi normal, sebagian besar sungai hanya membawa sedimen[4] dalam jumlah relatif kecil, di kisaran 20–100 miligram per liter[5]. Pada kondisi ini, air sungai masih tampak relatif jernih, dan sedimen yang terbawa didominasi partikel halus.

TSS yang melonjak hingga ratusan kali lipat saat banjir menandakan sungai sudah menjadi jalur transportasi lumpur dari hulu ke hilir. Inilah yang membuat dampak banjir bandang jauh lebih merusak dibanding banjir biasa.

Warga di sekitar Batang Kuranji melaporkan bahwa, setelah banjir besar 26-27 November 2025, terjadi pendangkalan 1-2 meter disertai pelebaran sungai[6].

Lumpur sisa banjir bisa berguna

Lumpur sisa banjir[7] sebenarnya bisa berguna jika dikelola dengan benar.

Sebagian lumpur—terutama yang berupa tanah, batu, pasir, dan kerikil—sebenarnya berasal dari material alami dari lereng dan hulu sungai.

Dengan pengelolaan yang tepat, material ini bisa dimanfaatkan untuk berbagai hal, mulai dari urukan untuk perbaikan jalan desa dan bahu jalan, memperkuat penataan bantaran sungai yang tergerus, memperbaiki struktur tanah[8], hingga menjadi bahan bangunan sederhana seperti batako[9] atau paving block.

Pemanfaatan lumpur sisa banjir ini bukan hanya mengurangi volume sedimen di sungai, tetapi juga bisa menekan biaya pemulihan pascabencana.

Banjir dan lumpur
Rumah-rumah hancur dan jalan-jalan tertutup lumpur dan air banjir akibat banjir Sumatra Desember lalu/ shutterstock[10]

Memang, ada jenis lumpur yang harus ditangani secara hati-hati, yaitu lumpur halus. Lumpur ini bisa tercampur limbah rumah tangga[11], sehingga tidak aman langsung digunakan dan tidak boleh dibuang sembarangan.

Meski begitu, lumpur halus masih bisa dimanfaatkan secara terbatas untuk reklamasi lahan nonpangan atau penguatan tanggul darurat, asalkan dikeringkan terlebih dahulu dan diuji keamanannya[12].

Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menyatakan ada pihak swasta yang berminat membeli lumpur[13] endapan banjir dan mempersilakan pemerintah daerah terdampak untuk menjualnya.

Jika minat tersebut nyata dan dikelola dengan baik, langkah ini layak dipertimbangkan. Tentu pengawasannya harus ketat dan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan serta kesehatan masyarakat.

Pengalaman erupsi Gunung Semeru menunjukkan bahwa material vulkanik yang dimuntahkan gunung, seperti pasir, kerikil, dan batu, bisa menjadi sumber penghasilan[14] warga di saat pemulihan pascabencana.

Read more: Indonesia tak lagi bebas siklon, kapan pemerintah serius bangun sistem manajemen bencana?[15]

Dari sekadar pembersihan ke rencana mitigasi

Salah satu pelajaran penting dari banjir bandang yang terjadi di Indonesia belakangan ini adalah: pengelolaan sedimen harus menjadi bagian dari mitigasi bencana, bukan sekadar respons darurat.

Pengelolaan lumpur pascabanjir harus dirancang sejak awal, termasuk lokasi penampungan sementara, pemilahan jenis material, pemanfaatan yang aman, serta pembuangan akhir yang terkendali. Semua ini perlu masuk dalam rencana mitigasi bencana yang terintegrasi.

Di wilayah rawan hujan ekstrem[16], pengelolaan sedimen di hilir, bersamaan dengan penghijauan dan kolam pengendap[17] di hulu harus menjadi strategi utama. Sehingga, saat longsor atau hujan ekstrem, sedimen (pasir, batu, lumpur kasar) bisa tertahan di kolam, tidak langsung turun ke hilir.

Lumpur sisa banjir tidak boleh dibuang sembarangan, bisa dimanfaatkan atau dijual
Daerah terdampak banjir Sumbar. Sebagian besar lumpur sisa banjir yang turun ke wilayah Kota Padang berasal dari daerah hulu sungai (DAS), terutama dari aliran Batang Kuranji dan turun ke dataran rendah. Author provided

Jadi, banjir bandang tidak berhenti saat air surut. Lumpur yang tertinggal adalah bagian dari cerita bencana—dan sekaligus petunjuk bagaimana risiko itu bisa dikurangi di masa depan.

Jika dikelola sembarangan, lumpur menjadi bibit bencana berikutnya. Jika dikelola dengan bijak, ia bisa menjadi bagian dari solusi.

References

  1. ^ tidak lagi mampu menampung air sebanyak sebelumnya (www.sciencedirect.com)
  2. ^ Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabat (theconversation.com)
  3. ^ sangat tinggi (www.mdpi.com)
  4. ^ sungai hanya membawa sedimen (www.sciencedirect.com)
  5. ^ di kisaran 20–100 miligram per liter (www.pjoes.com)
  6. ^ pelebaran sungai (www.antaranews.com)
  7. ^ Lumpur sisa banjir (www.mdpi.com)
  8. ^ memperbaiki struktur tanah (link.springer.com)
  9. ^ seperti batako (link.springer.com)
  10. ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
  11. ^ limbah rumah tangga (www.sciencedirect.com)
  12. ^ diuji keamanannya (www.sciencedirect.com)
  13. ^ membeli lumpur (www.tempo.co)
  14. ^ sumber penghasilan (trobos.co)
  15. ^ Indonesia tak lagi bebas siklon, kapan pemerintah serius bangun sistem manajemen bencana? (theconversation.com)
  16. ^ hujan ekstrem (link.springer.com)
  17. ^ kolam pengendap (www.epa.gov)

Authors: Dian Fiantis, Professor of Soil Science, Universitas Andalas

Read more https://theconversation.com/lumpur-sisa-banjir-tidak-boleh-dibuang-sembarangan-bisa-dimanfaatkan-atau-dijual-272816

Magazine

Bali kian disesaki turis: Wisata desa jadi alternatif menjanjikan

● Banyak desa wisata potensial tapi kurang dilirik wisatawan.● Padahal desa wisata bisa jadi alternatif bahkan subtitusi titik pariwisata nasional.● Selain promosi dan akses, pengemb...

Lumpur sisa banjir tidak boleh dibuang sembarangan, bisa dimanfaatkan atau dijual

● Lumpur sisa banjir yang dibuang kembali ke sungai, bisa memperbesar risiko banjir di masa depan. ● Perlu penanganan khusus agar lumpur tidak membahayakan lingkungan dan kesehatan.●...

Ketika publik tak lagi percaya ahli, bagaimana memulihkan Indonesia dari krisis kepakaran?

● Cina mewajibkan kualifikasi akademis bagi ‘content creator’ untuk menegaskan nilai kepakaran.● Di Indonesia, krisis kepakaran dipicu lemahnya ekosistem pengetahuan, budaya ri...