Bagaimana mendampingi anak melewati peristiwa traumatis?
- Written by Reneta Kristiani, PhD Candidate in Early Childhood Education Monash University, Psikolog Klinis di Konsultan Psikologi Pelangi dan Kancil, Dosen di Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya Jakarta, Monash University
PERINGATAN: Artikel ini memuat konten yang berkaitan dengan bunuh diri, melukai diri sendiri, dan kekerasan terhadap orang lain.
● Peristiwa traumatis yang dialami langsung maupun didengar lewat media dapat mengganggu kesehatan mental anak.
● Dukungan kesehatan mental dan psikososial diperlukan agar anak merasa aman dan dapat beraktivitas normal kembali.
● Pendekatan ini dilakukan dengan menyampaikan informasi secara jujur hingga memvalidasi emosi anak.
Sepanjang akhir 2025, kita menyaksikan rentetan tragedi kekerasan yang melibatkan anak. Mulai dari ledakan bom di SMAN 72 Jakarta[1], penembakan massal di Bondi Beach, Australia[2], hingga Brown University, Amerika Serikat[3].
Selain dapat menimbulkan trauma[4], menerima paparan informasi soal tragedi tersebut secara intens bisa mengganggu kesehatan mental anak dan remaja[5].
Untuk mencegah anak mengalami masalah psikologis, mereka yang mengalami dan mendengar peristiwa traumatis secara berulang (seperti kekerasan, bencana, kecelakaan, dan kematian) perlu mendapatkan dukungan kesehatan mental dan psikososial atau mental health and psychosocial support (MHPSS)[6].
Orang dewasa di sekitar anak (terutama orang tua) bisa memberikan dukungan psikososial secara langsung.
Fokus pendekatan ini bukan hanya mencegah anak mengalami gangguan mental pascatrauma, tapi juga memulihkan rasa aman agar anak bisa beraktivitas normal dan kembali beradaptasi di lingkungan sosial.
Kenali tanda anak mengalami trauma
Cara anak menilai sebuah ancaman[7] sangat memengaruhi reaksi emosional mereka terhadap suatu peristiwa traumatis. Kehadiran dan dukungan orang tua pun berpengaruh besar.
Anak bisa memunculkan respons emosional yang beragam[8]. Anak usia dini[9] cenderung mengekspresikan reaksi emosional seperti mengalami regresi perkembangan (kehilangan keterampilan yang sebelumnya dikuasai), tantrum, kecemasan berpisah, dan gangguan tidur.
Read more: Rentan terabaikan, anak perlu dukungan psikologis sejak dini dalam situasi bencana[10]
Adapun anak usia sekolah dan remaja[11] lebih sering menunjukkan reaksi emosional berupa sulit konsentrasi dalam belajar, perubahan suasana hati, menarik diri dari lingkungan sosial, serta perilaku menyakiti diri sendiri.
Meski sangat mengganggu, sebagian besar reaksi ini dapat dikelola dan bisa membaik seiring waktu[12]. Namun, pada sebagian anak, reaksi tersebut dapat menetap dan mengganggu fungsi sehari-hari. Oleh karena itu, pendampingan dan dukungan psikososial bagi anak sangatlah penting[13].
Dukungan psikososial bagi anak
Pendekatan MHPSS[14] menekankan bantuan secara bertahap, dengan memprioritaskan dukungan psikososial dasar dari orang tua.
Prinsip-prinsip utama dukungan kesehatan mental dan psikososial[15] meliputi:
1. Membangun rasa aman
Kita perlu meyakinkan anak bahwa mereka aman dan terjaga. Persepsi aman membantu menurunkan respons stres berlebihan pada anak. Misalnya, katakanlah bahwa mereka tidak sendirian.
Pastikan pula kita selalu ada saat anak merasa tidak nyaman dengan membangun percakapan yang empatik.
“Kejadian seperti ini jarang terjadi. Kalau kamu merasa takut, pegang tangan ibu ya. Ibu akan terus menjagamu sampai kamu merasa tenang kembali.”
Kehadiran emosional orang tua dan informasi yang menenangkan membantu anak merasa kembali memiliki kendali.
2. Sampaikan informasi dengan jujur
Anak butuh penjelasan masuk akal untuk mengurangi kecemasan akibat ketidakpastian. Informasi sederhana, jujur, realistis, dan tidak berlebihan dapat membantu mengurangi pikiran negatif anak[16].
Misalnya, ketika anak bertanya kenapa kakeknya yang terbaring di rumah sakit harus dipasangi banyak selang infus.
“Selang-selang itu membantu kakek bernapas dan memasukkan obat ke tubuhnya. Karena tubuh kakek saat ini sedang sangat lemah untuk melakukannya sendiri. Ayah belum tahu kapan kakek akan sembuh, tapi dokter sedang berusaha terus untuk membantu kakek.”
Penjelasan yang jujur dan realistis membantu anak memahami situasi tanpa menambah rasa takut.
3. Validasi emosi anak
Anak perlu dibantu untuk mengenali dan mengekspresikan emosi mereka. Hindari melarang mereka dalam mengekspresikan amarah, ketakutan, atau kesedihan.
Sebaliknya, validasi emosi anak dengan menerima perasaan mereka tanpa menghakimi, sehingga mereka merasa didengarkan dan dipahami.
“Wajar banget kalau kamu merasa takut dengar berita itu. Ibu juga merasakannya. Kalau kamu mau menangis karena takut, enggak apa-apa kok.”
Anak mungkin baru mau bercerita beberapa hari setelahnya. Jadi, cobalah untuk tetap terbuka dengan memberitahukan bahwa mereka boleh bercerita kapan pun mereka siap dan kita selalu ada untuk mereka.
4. Bermain bersama
Anak terkadang lebih mudah mengekspresikan perasaan melalui bermain daripada berbicara. Karena itu, luangkan waktu untuk bermain bersama mereka.
5. Batasi paparan media
Pembatasan dan pendampingan akses media membantu mencegah trauma, terutama pada anak usia dini.
Anak usia dini sebaiknya dilindungi dari paparan media. Sementara anak yang lebih besar sebaiknya mengakses berita dengan pendampingan orang dewasa.
Menonton atau membaca bersama, lalu membicarakan isinya membantu anak memahami informasi tanpa merasa kewalahan.
Read more: Anakmu kecanduan 'game'? Memperbaiki pola asuh dan relasi bisa jadi solusi[18]
6. Lakukan kembali rutinitas harian
Doronglah anak untuk melakukan kegiatan yang dahulu mereka senangi. Pertahankan rutinitas harian tersebut. Misalnya, libatkan anak kembali ke dalam aktivitas sekolah, bermain, dan berinteraksi dengan teman-temannya.
Kegiatan yang teratur di rumah dan sekolah sangat menenangkan bagi anak dan remaja karena memberi mereka rasa aman, kendali, dan kontrol atas hidup mereka.
7. Melihat sisi lain tragedi secara positif
Membantu anak melihat sisi baik dari sebuah kejadian buruk sangat penting untuk memulihkan mental mereka dalam jangka panjang. Ajak anak untuk melihat banyak orang yang saling membantu dalam melewati sebuah tragedi, misalnya tenaga medis dan pemadam kebakaran.
Perspektif ini akan membantu anak merasakan bahwa dunia merupakan tempat yang aman dan penuh kasih sayang, sehingga mereka tidak tumbuh menjadi pribadi yang diliputi rasa takut.
8. Beri contoh nyata
Anak mudah menangkap kecemasan orang dewasa dan meniru cara kita bereaksi.
Karena itu, saat berbagi perasaan dengan anak, tunjukkan pada mereka bahwa emosi tersebut dapat dikelola. Ini membuat anak belajar cara menghadapi situasi sulit secara sehat.
Kapan dukungan profesional diperlukan?
Bantuan dari tenaga profesional[19] (seperti psikolog, konselor, dan psikiater) dalam memberikan dukungan psikososial, dibutuhkan ketika reaksi emosional anak tidak kunjung hilang, makin parah, hingga mengganggu kegiatan sehari-hari.
Sebab, hal yang paling utama dan dibutuhkan anak untuk melewati peristiwa traumatis adalah dukungan dan kasih sayang dari keluarga dan orang-orang terdekatnya.
Noridha Weningsari, Tenaga Ahli Psikolog Klinis, Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak Provinsi DKI Jakarta, turut berkontribusi dalam tulisan ini.
Jika artikel ini membuatmu khawatir, atau jika kamu khawatir tentang seseorang yang kamu kenal, bicarakanlah dengan orang tepercaya atau profesional kesehatan.
References
- ^ ledakan bom di SMAN 72 Jakarta (nasional.kompas.com)
- ^ Bondi Beach, Australia (theconversation.com)
- ^ Brown University, Amerika Serikat (edition.cnn.com)
- ^ menimbulkan trauma (www.apa.org)
- ^ kesehatan mental anak dan remaja (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
- ^ mental health and psychosocial support (MHPSS) (interagencystandingcommittee.org)
- ^ Cara anak menilai sebuah ancaman (link.springer.com)
- ^ respons emosional yang beragam (www.nimh.nih.gov)
- ^ Anak usia dini (www.nimh.nih.gov)
- ^ Rentan terabaikan, anak perlu dukungan psikologis sejak dini dalam situasi bencana (theconversation.com)
- ^ anak usia sekolah dan remaja (www.nimh.nih.gov)
- ^ bisa membaik seiring waktu (interagencystandingcommittee.org)
- ^ pendampingan dan dukungan psikososial bagi anak sangatlah penting (knowledge.unicef.org)
- ^ MHPSS (interagencystandingcommittee.org)
- ^ Prinsip-prinsip utama dukungan kesehatan mental dan psikososial (psychology.org.au)
- ^ mengurangi pikiran negatif anak (www.thelancet.com)
- ^ FAMILY STOCK / Shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ Anakmu kecanduan 'game'? Memperbaiki pola asuh dan relasi bisa jadi solusi (theconversation.com)
- ^ Bantuan dari tenaga profesional (interagencystandingcommittee.org)
Authors: Reneta Kristiani, PhD Candidate in Early Childhood Education Monash University, Psikolog Klinis di Konsultan Psikologi Pelangi dan Kancil, Dosen di Fakultas Psikologi UNIKA Atma Jaya Jakarta, Monash University
Read more https://theconversation.com/bagaimana-mendampingi-anak-melewati-peristiwa-traumatis-272565




