Budaya sungkan dan basa-basi menghambat komunikasi orang dengan autisme
- Written by Nirma Yossa, Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
● Standar kesopanan Indonesia yang sarat akan isyarat dan basa-basi amat melelahkan bagi orang dengan autisme.
● Hambatan komunikasi kerap terjadi karena masyarakat pada umumnya gagal memahami perbedaan cara berkomunikasi.
● Untuk membangun inklusivitas, kita perlu melepaskan standar kesopanan yang kaku dan membangun ruang aman berbasis kepercayaan.
Menurut etika percakapan yang lazim di Indonesia, jeda sering dianggap sebagai tanda ketidaktertarikan[1] pada lawan bicara, sehingga orang diharapkan terus merespons dan berbicara.
Selain itu, orang juga harus menyaring setiap kata yang diucapkan agar terdengar sopan dan tidak menyinggung.
Bagi individu dengan autisme (beberapa orang menyebutnya dengan istilah neurodivergent—individu dengan struktur dan cara kerja otak yang beragam[2]), pola komunikasi semacam ini memicu kelelahan luar biasa.
Masyarakat cenderung menganggap hambatan komunikasi orang neurodivergent terjadi karena “defisit” atau kegagalan fungsi saraf individu yang bersangkutan.
Padahal, riset terbaru kami pada 2026 menunjukkan bahwa masalahnya bukan pada individu dengan autisme, melainkan pada ketidaksiapan masyarakat neurotipikal—(individu dengan struktur, perkembangan, dan fungsi otak yang dianggap “normal” oleh masyarakat)—untuk beradaptasi dengan gaya komunikasi yang berbeda.[4][5][6]
Sementara, sebagai bagian dari kelompok neurodivergent[7] orang dengan autisme memproses informasi, pengalaman sensoris, dan interaksi sosial dengan cara yang berbeda dari neurotipikal.
Read more: Bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan autisme?[8]
Jebakan budaya ‘high-context’ di Indonesia
Indonesia, seperti halnya banyak negara di Asia dan Afrika, berkomunikasi dengan gaya high-context[9].
Dalam budaya ini, pesan tidak hanya disampaikan melalui kata-kata, tetapi sangat bergantung pada isyarat non-verbal, relasi dan status sosial, nada bicara, serta hal-hal yang tidak diungkapkan secara langsung.
Orang diharapkan bisa “membaca situasi” tanpa perlu penjelasan gamblang. Akibatnya, orang yang berkomunikasi secara lugas atau tidak menangkap isyarat tersirat—seperti banyak individu dengan autisme—sering disalahpahami.
Dalam konteks budaya Indonesia, perilaku alami neurodivergent kerap disalahartikan sebagai:
1. Keheningan atau ‘silence’: Individu neurotipikal sering merasa tidak nyaman dengan keheningan dalam percakapan, sehingga cenderung berupaya mengisinya dengan obrolan ringan.
Padahal, bagi individu dengan autisme, diam justru menjadi ruang untuk memproses informasi dan menenangkan pengalaman sensoris. Diam atau keheningan bukan tanda mereka tidak peduli atau tidak tertarik.
2. Kejujuran literal: Komunikasi neurodivergent yang cenderung langsung ke inti dan apa adanya sering dianggap “kasar” atau “tidak sopan”. Padahal, gaya ini bertujuan menyampaikan pesan sejelas mungkin, bukan untuk melukai perasaan lawan bicara.
3. Hambatan sensorik: Sikap orang dengan autisme yang tampak seperti menarik diri dari obrolan atau pergaulan sering kali dianggap antisosial. Padahal, ini merupakan mekanisme perlindungan diri dari lingkungan yang terlalu bising atau rangsangan berlebih.
Dalam konteks budaya Indonesia yang menekankan nilai sungkan (enggak enakan) dan keharusan menjaga harmoni (kerukunan), standar komunikasi yang berkembang cenderung sangat tersirat.
Bagi neurodivergent yang mengutamakan efisiensi informasi dalam berkomunikasi, pola seperti ini sangat menguras energi.
Demi menyesuaikan diri dengan lingkungan, mereka akhirnya terdorong melakukan masking—upaya meniru perilaku yang dianggap umum, seperti memaksakan kontak mata yang hangat, tersenyum, atau basa-basi[10] agar tidak dicap “aneh” atau “tidak sopan”.
Read more: Mengenal gangguan spektrum autisme: Pentingnya menghargai keberagaman orang 'neurodivergent'[11]
Melawan empati ganda
Selama ini, anggapan umum di masyarakat masih didominasi oleh sudut pandang neurotipikal—memposisikan cara berkomunikasi individu neurotipikal sebagai satu-satunya standar yang benar.[12] Mereka menganggap aneh cara komunikasi neurodivergent sehingga merasa perlu memperbaiki.
Sayangnya, intervensi komunikasi masih berat sebelah. Orang dengan autisme terus dilatih untuk mengerti individu neurotipikal, tapi jarang sekali ada edukasi publik yang mendorong individu neurotipikal untuk mengerti cara berpikir dan berkomunikasi orang dengan autisme.
Beban untuk “memahami” selama ini lebih sering diberikan kepada kelompok neurodivergent[13] sementara penyesuaian dari pihak neurotipikal umumnya dilakukan dari kacamata mereka.
Situasi ini diperparah oleh stigma lama yang masih melekat pada autisme—dianggap berkaitan dengan kekuatan supranatural atau kegagalan pengasuhan orang tua. Alhasil, fokus komunikasi bukan pada upaya saling memahami, melainkan pada penyembuhan agar anak terlihat normal.[14]
Di negara-negara maju, sistem pendukung bagi neurodivergent umumnya sudah terstruktur[15]. Contohnya program early intervention di Inggris yang menyediakan akses ke berbagai profesional, termasuk: psikolog, terapis wicara dan bahasa, ahli perkembangan anak, dan pekerja sosial untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan autisme.
Sementara di negara berkembang, dukungan seringkali bergantung pada komunitas lokal. Sayangnya, komunitas ini sering menuntut konformitas budaya—harus bisa bersosialisasi dengan cara tradisional[16].
Dalam komunitas tersebut, keluarga ditekan untuk mengikuti standar sosial tradisional agar anak terlihat “normal”. Mereka akhirnya memaksa anak dengan autisme untuk menghindari komunikasi atau ekspresi yang dianggap berbeda.
Hambatan ini disebut juga dengan double empathy problem[17]. Teori ini menegaskan bahwa kesulitan komunikasi muncul akibat ketidakselarasan perspektif antarkelompok dengan pengalaman hidup dan cara memaknai dunia yang berbeda.
Membangun kepercayaan
Inklusi tidak terjadi secara instan. Dalam riset kolaboratif kami[19], pembangunan kepercayaan (trust) adalah proses yang mendalam dan emosional. Kepercayaan tumbuh bukan melalui paksaan, melainkan melalui:
1. Keterbukaan: Kesediaan pihak neurotipikal untuk mengakui bias dalam berkomunikasi dan berhenti menjadi pihak yang merasa paling mengetahui apa yang terbaik bagi neurodivergent.
2. Memahami kebutuhan waktu: Dibutuhkan waktu bagi rekan dengan autisme untuk mulai merasa percaya dan aman menjadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.
Masyarakat neurotipikal perlu melakukan unlearning (melepaskan pengetahuan, kebiasaan, atau pola pikir lama yang sudah tidak relevan) dengan belajar untuk tidak mendominasi percakapan dan menghargai ritme komunikasi yang berbeda.
Keheningan tidak seharusnya dimaknai sebagai ketidakterlibatan, dan komunikasi yang langsung tidak semestinya dianggap tidak sopan. Dalam konteks budaya Indonesia yang menekankan harmoni, pemahaman perlu diposisikan sebagai tanggung jawab timbal balik.
Riset kami[20] menunjukkan bahwa ketika individu neurotipikal bersedia mengakui adanya bias dan melepaskan standar kesopanan yang kaku, ruang interaksi yang lebih adil dapat tercipta.
Karena itu, penting membangun ruang komunikasi yang aman bagi individu neurotipikal maupun neurodivergent melalui keluarga, sekolah, dan tempat kerja.
Kebijakan pendidikan inklusif yang dicanangkan pemerintah merupakan langkah awal yang penting, mengingat peran institusi pendidikan sebagai “laboratorium sosial”. Namun, kebijakan ini perlu dilengkapi dengan panduan praktis agar muncul dalam praktik sehari-hari.
Dengan begitu, keberagaman kognitif tidak seharusnya dipandang sebagai anomali. Inklusi perlu digeser dari upaya “memperbaiki” individu menjadi berkomunikasi untuk memahami.
Read more: Rasa, cipta, karsa: kunci peran guru dalam pendidikan inklusif[21]
References
- ^ jeda sering dianggap sebagai tanda ketidaktertarikan (doi.org)
- ^ neurodivergent—individu dengan struktur dan cara kerja otak yang beragam (doi.org)
- ^ MIA Studio/shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ riset terbaru kami pada 2026 (doi.org)
- ^ individu dengan struktur, perkembangan, dan fungsi otak yang dianggap “normal” oleh masyarakat (doi.org)
- ^ dengan gaya komunikasi yang berbeda. (doi.org)
- ^ sebagai bagian dari kelompok neurodivergent (doi.org)
- ^ Bagaimana seharusnya memperlakukan anak dengan autisme? (theconversation.com)
- ^ berkomunikasi dengan gaya high-context (www.researchgate.net)
- ^ upaya meniru perilaku yang dianggap umum, seperti memaksakan kontak mata yang hangat, tersenyum, atau basa-basi (doi.org)
- ^ Mengenal gangguan spektrum autisme: Pentingnya menghargai keberagaman orang 'neurodivergent' (theconversation.com)
- ^ satu-satunya standar yang benar. (doi.org)
- ^ lebih sering diberikan kepada kelompok neurodivergent (doi.org)
- ^ penyembuhan agar anak terlihat normal. (doi.org)
- ^ sistem pendukung bagi neurodivergent umumnya sudah terstruktur (doi.org)
- ^ menuntut konformitas budaya—harus bisa bersosialisasi dengan cara tradisional (doi.org)
- ^ double empathy problem (doi.org)
- ^ udeyismail/shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ riset kolaboratif kami (doi.org)
- ^ Riset kami (doi.org)
- ^ Rasa, cipta, karsa: kunci peran guru dalam pendidikan inklusif (theconversation.com)
Authors: Nirma Yossa, Peneliti Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)




