Asian Spectator

Men's Weekly

.

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores

  • Written by Nick Scroxton, Research Fellow, Palaeoclimate, National University of Ireland Maynooth

Sekitar 50 ribu tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu kerabat hominin terakhirnya, Homo floresiensis—yang dijuluki “hobbit” karena tubuhnya yang mungil.

Setelah bertahan lebih dari satu juta tahun di pulau vulkanik terpencil di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), penyebab kepunahan mereka masih menjadi misteri besar hingga kini.

Bukti baru menunjukkan bahwa periode kekeringan ekstrem yang dimulai sekitar 61 ribu tahun lalu kemungkinan turut memicu kepunahan “hobbit” tersebut.

Studi terbaru kami, yang terbit di jurnal Communications Earth & Environment[1], mengungkap kisah tentang pasang surut ekologi di sana. Kami telah menyusun catatan iklim paling mendetail hingga saat ini di lokasi tempat hominin kuno tersebut pernah hidup.

Ternyata, Homo floresiensis dan salah satu mangsa utama mereka—gajah purba kerdil—sama-sama terusir dari habitat mereka karena kekeringan yang berlangsung selama ribuan tahun.

Mungkin, kondisi ini juga yang membuat mereka bertemu langsung dengan spesies manusia yang jauh lebih besar: Homo sapiens.

Pulau dengan gua-gua yang dalam

Penemuan Homo floresiensis pada 2003[2] mengubah cara kita memaknai arti menjadi manusia. Meski berotak kecil dan hanya setinggi 1,1 meter, hominin mungil ini mampu membuat alat batu. Melawan segala rintangan, mereka berhasil mencapai Flores meski tampaknya tidak memiliki teknologi perahu.

Tulang belulang dan alat batu milik Homo floresiensis ditemukan di Liang Bua—sebuah gua yang tersembunyi di lembah kecil di dataran tinggi Flores. Sisa-sisa peninggalan ini diperkirakan berasal dari masa antara 190 - 50 ribu tahun yang lalu [3].

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores
Pemandangan hulu sungai Wae Racang jika dilihat dari Liang Bua ke arah Liang Luar. Garry K. Smith

Saat ini, Flores memiliki iklim monsun dengan curah hujan tinggi selama musim kemarau yang basah (terutama dari November hingga Maret) dan curah hujan lebih sedikit selama musim dingin yang lebih kering (Mei hingga September).

Namun, selama periode glasial terakhir, terjadi variasi yang signifikan baik dalam jumlah curah hujan maupun waktu kedatangannya.

Untuk mengetahui kondisi hujan di masa itu, tim kami beralih ke sebuah gua yang terletak 700 meter di hulu Liang Bua bernama Liang Luar. Secara kebetulan, di kedalaman gua tersebut terdapat stalagmit yang tumbuh tepat selama interval waktu hilangnya Homo floresiensis. Stalagmit tumbuh lapis demi lapis dari tetesan air, sehingga perubahan komposisi kimianya turut mencatat sejarah perubahan iklim.

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores
Tim penelusur gua di bagian dalam Gua Liang Luar yang gelap dan sunyi pada 2006. Garry K. Smith.

Pakar paleoklimatologi memiliki dua instrumen geokimia untuk merekonstruksi curah hujan masa lalu dari stalagmit. Kita dapat melihat perubahan kekuatan monsun melalui pengukuran oksigen spesifik yang dikenal sebagai d18O[4]. Sementara itu, rasio magnesium terhadap kalsium menunjukkan jumlah curah hujan total.

Kami memasangkan kedua pengukuran ini pada sampel yang sama, menetapkan penanggalan waktu yang presisi, lalu menyusun ulang jumlah curah hujan tahunan serta musim panas dan dingin. Semua ini memberikan wawasan baru yang mendalam tentang variabilitas iklim musiman.

Kami menemukan tiga fase iklim utama. Pertama, kondisi sepanjang tahun jauh lebih basah dibanding hari ini pada medio 91-76 ribu tahun lalu. Kedua monsun menjadi sangat musiman—dengan musim panas yang lebih basah dan musim dingin yang lebih kering yang terjadi 76-61 ribu tahun lalu, .

Kemudian, antara 61 ribu hingga 47 ribu tahun lalu, iklim berubah menjadi jauh lebih kering di musim panas.

Pindah mengikuti mangsa

Kami telah memiliki catatan yang akurat mengenai perubahan iklim besar di masa lalu, tapi bagaimana dengan dampak ekologisnya? Untuk menjawab itu, kami harus menyusun lini masa yang presisi dari bukti fosil Homo floresiensis di Liang Bua.

Jawaban tersebut datang secara tak terduga dari analisis d18O pada email gigi fosil Stegodon florensis insularis—kerabat jauh gajah modern bertubuh kerdil yang telah punah.

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores Tulang rahang dan geraham bergerigi dari Stegodon florensis dewasa, leluhur bertubuh besar dari Stegodon florensis insularis. Batang skala menunjukkan 10 cm. Gerrit van den Berg

Gajah purba kerdil yang masih muda merupakan salah satu mangsa utama “Hobbit”, sebagaimana terungkap melalui temuan bekas sayatan pada tulang-tulang di Liang Bua.[5]

Menariknya, pola d18O pada stalagmit di Liang Luar dan pada gigi-gigi yang ditemukan di lapisan sedimen Liang Bua menunjukkan keselarasan yang sempurna. Temuan ini memungkinkan kami untuk menentukan penanggalan fosil Stegodon serta sisa-sisa Homo floresiensis yang menyertainya secara presisi.

Lini masa yang telah diperbarui menunjukkan bahwa sekitar 90% sisa-sisa gajah kerdil berasal dari masa 76–61 ribu tahun lalu, yakni periode dengan iklim musiman “Goldilocks” (tidak terlalu panas ataupun dingin) yang sangat kuat. Ini kemungkinan merupakan lingkungan ideal bagi gajah kerdil untuk merumput sekaligus bagi Homo floresiensis untuk memburu mereka.

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores Penampang melintang stalagmit yang digunakan dalam penelitian ini, menunjukkan lapisan-lapisan pertumbuhan dengan penanggalan yang presisi. Grafik di atasnya menampilkan pembaruan lini masa fosil Stegodon pada dua sektor ekskavasi di Liang Bua. Mike Gagan

Namun, kedua spesies tersebut hampir menghilang saat iklim berubah menjadi lebih kering.

Penurunan curah hujan yang terjadi bersamaan dengan menyusutnya populasi gajah kerdil dan “Hobbit” mengindikasikan bahwa berkurangnya sumber daya alam memainkan peran krusial dalam ditinggalkannya Liang Bua secara bertahap.

Seiring iklim yang kian kering, Wae Racang—sungai kecil yang menjadi sumber air utama saat musim kemarau—mungkin telah menyusut drastis hingga membuat Stegodon kehilangan akses air bersih. Hewan-hewan ini kemungkinan bermigrasi keluar dari kawasan tersebut, yang kemudian diikuti oleh Homo floresiensis.

Apakah erupsi gunung berapi turut berkontribusi?

Sisa-sisa fosil Stegodon dan alat batu terakhir di Liang Bua tertutup oleh lapisan abu vulkanik tebal yang berasal dari sekitar 50 ribu tahun lalu. Belum diketahui secara pasti apakah letusan gunung berapi di dekat lokasi tersebut menjadi “faktor pamungkas” yang memicu kepunahan “Hobbit” di Liang Bua.

Bukti arkeologis pertama yang merujuk pada Homo sapiens ditemukan di atas lapisan abu tersebut[6]. Meskipun belum ada cara untuk memastikan apakah Homo sapiens dan Homo floresiensis pernah bertemu, bukti arkeologis[7] dan DNA terbaru[8] menunjukkan bahwa Homo sapiens telah melakukan perjalanan antarpulau melintasi Indonesia menuju superbenua Sahul setidaknya sejak 60 ribu tahun yang lalu.

Jika tekanan ekologis memaksa Homo floresiensis keluar dari tempat persembunyian mereka menuju wilayah pesisir, ada kemungkinan mereka berinteraksi dengan manusia modern. Jika itu terjadi, mungkinkah persaingan, penyakit, atau bahkan predasi menjadi faktor penentu kepunahan mereka?

Apa pun penyebab utamanya, penelitian kami memberikan kerangka kerja bagi studi di masa depan untuk menelaah kepunahan Homo floresiensis yang ikonik dalam konteks perubahan iklim.

Peran krusial ketersediaan air tawar dalam hilangnya salah satu sepupu manusia ini mengingatkan kita bahwa sejarah kemanusiaan adalah sebuah eksperimen kelangsungan hidup yang rapuh. Ini menjadi bukti nyata bagaimana pergeseran pola curah hujan dapat membawa dampak yang sangat mendalam bagi eksistensi sebuah spesies.

References

  1. ^ jurnal Communications Earth & Environment (doi.org)
  2. ^ Penemuan Homo floresiensis pada 2003 (theconversation.com)
  3. ^ 190 - 50 ribu tahun yang lalu (theconversation.com)
  4. ^ d18O (en.wikipedia.org)
  5. ^ bekas sayatan pada tulang-tulang di Liang Bua. (www.sciencedirect.com)
  6. ^ di atas lapisan abu tersebut (www.sciencedirect.com)
  7. ^ bukti arkeologis (www.science.org)
  8. ^ DNA terbaru (www.nature.com)

Authors: Nick Scroxton, Research Fellow, Palaeoclimate, National University of Ireland Maynooth

Read more https://theconversation.com/menghilang-50-000-tahun-lalu-riset-ungkap-apa-yang-terjadi-pada-habitat-para-hobbit-flores-273382

Magazine

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata

Di tengah perubahan iklim, dunia masih saja menggunakan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, kita mencapai titik yang disebut sebagai era kebangkrutan air. Banyak wilayah kini tidak la...

Transisi energi berkeadilan dimulai dari suaramu. Isi survei sekarang!

Isu transisi energi bukan cuma urusan pemerintah atau ahli kebijakan. Perubahan cara kita memproduksi dan menggunakan energi tentu membentuk arah ekonomi ke depan, mulai dari jenis lapangan kerja yang...

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores

_Homo floresiensis_ skull.Wikimedia Commons, CC BY-SASekitar 50 ribu tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu kerabat hominin terakhirnya, Homo floresiensis—yang dijuluki “hobbit&rdq...