Asian Spectator

Men's Weekly

.

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata

  • Written by Kaveh Madani, Director of the Institute for Water, Environment and Health, United Nations University

Di tengah perubahan iklim, dunia masih saja menggunakan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, kita mencapai titik yang disebut sebagai era kebangkrutan air[1]. Banyak wilayah kini tidak lagi mampu pulih dari krisis air berkepanjangan.

Sekitar 4 miliar orang—hampir setengah dari populasi global—mengalami kelangkaan air parah setidaknya selama satu bulan dalam setahun[2]. Mereka hidup tanpa akses air yang cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar.

Kini, semakin banyak orang yang merasakan kelangkaan air. Dampaknya jelas, mulai dari waduk yang mengering, kota-kota yang amblas, gagal panen, pembatasan air, hingga meningkatnya frekuensi kebakaran hutan dan badai debu[3] di wilayah-wilayah yang gersang.

Tanda-tanda kebangkrutan air terlihat di mana-mana. Di Teheran[4], kekeringan dan penggunaan air yang tidak berkelanjutan telah menguras waduk yang menjadi tumpuan ibu kota Iran tersebut, sampai-sampai memicu ketegangan politik.

Di Amerika Serikat (AS)[5], permintaan air telah melampaui ketersediaan pasokan Sungai Colorado[6], sumber air minum dan irigasi vital bagi tujuh negara bagian.

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata
Kekeringan telah membuat warga sulit mendapat air untuk ternak, dan menyebabkan malnutrisi yang meluas di beberapa wilayah Ethiopia dalam beberapa tahun terakhir. Pada tahun 2022, UNICEF memperkirakan bahwa sebanyak 600.000 anak memerlukan perawatan untuk malnutrisi berat. Demissew Bizuwerk/UNICEF Ethiopia, CC BY[7]

Istilah kebangkrutan air ini bukan sekadar metafora atau kiasan[8] untuk menggambarkan kekurangan air. Ini adalah kondisi kronis[9] yang muncul ketika suatu wilayah menggunakan lebih banyak air daripada yang bisa disediakan oleh alam.

Kondisi ini semakin parah ketika kerusakan pada ‘aset alam’ yang berfungsi menyimpan dan menyaring air—seperti akuifer (air tanah) dan lahan basah—sudah sulit dipulihkan.

Sebuah penelitian terbaru yang saya pimpin[10] bersama United Nations University Institute for Water, Environment and Health[11] menyimpulkan bahwa dunia telah melampaui krisis air yang bersifat sementara.

Banyak sistem air alami sudah tidak bisa lagi pulih ke kondisi awalnya. Sistem-sistem ini sudah berada dalam fase kegagalan—sehingga terjadi kebangkrutan air[12].

Kaveh Madani, Direktur Institut Air, Lingkungan, dan Kesehatan Universitas Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan konsep “kebangkrutan air”.TVRI World.

Read more: Cuaca makin ekstrem, saatnya rombak sistem tata kelola air kita[13]

Seperti apa kebangkrutan air dalam kehidupan nyata?

Dalam dunia keuangan, tanda-tanda kebangkrutan awal sering kali terasa masih bisa dikendalikan. Misalnya, seseorang atau perusahaan awalnya mulai terlambat membayar tagihan, berutang, hingga menjual aset atau barang-barang simpanan.

Namun lama kelamaan, saat semua itu sudah tidak mampu lagi menutupi kebutuhan, situasi menjadi semakin terjepit.

Kebangkrutan air memiliki tahapan serupa. Awalnya, kita mengambil sedikit lebih banyak air tanah saat musim kering. Kita menggunakan pompa yang lebih besar dan menggali sumur lebih dalam.

Kita lantas mengalihkan aliran air[14] dari satu cekungan ke cekungan lain. Kita mengeringkan lahan basah dan meluruskan sungai demi memberi ruang bagi lahan pertanian dan perkotaan.

Lalu, “biaya tersembunyi” dari semua tindakan itu mulai terlihat. Danau-danau menyusut[15] dari tahun ke tahun. Sumur-sumur mesti digali lebih dalam[16].

Sungai yang dulunya mengalir sepanjang tahun berubah menjadi musiman[17]. Air asin mulai merembes ke air tanah[18] dekat pantai. Bahkan permukaan tanah pun mulai amblas[19].

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata
Bagaimana Laut Aral di Asia Tengah menyusut dari tahun 2000 hingga 2011. Dahulu, bentuknya lebih mendekati oval, menutupi area berwarna terang hingga tahun 1980-an, tapi penggunaan berlebihan untuk pertanian oleh beberapa negara menyebabkan penyusutannya. NASA[20]

Fenomena lainnya adalah penurunan muka tanah[21], yang sering kali mengejutkan banyak orang. Namun, ini adalah ciri khas dari kebangkrutan air.

Ketika air tanah dipompa secara berlebihan[22], struktur bawah tanah yang menopang air (seperti spons) bisa runtuh. Di Kota Meksiko[23], permukaan tanah turun sekitar 25 sentimeter per tahun. Sekali pori tanah tersebut memadat, mereka tidak bisa diisi ulang begitu saja dengan air.

Laporan Kebangkrutan Air Global[24], yang diterbitkan pada 20 Januari 2026 mendokumentasikan betapa luasnya fenomena ini.

Ekstraksi air tanah menyebabkan[25] penurunan muka tanah yang signifikan di lebih dari 6 juta kilometer persegi wilayah dunia, termasuk area perkotaan yang dihuni hampir 2 miliar orang. Jakarta[26], Bangkok[27] dan Ho Chi Minh[28] adalah beberapa contoh di Asia yang mengalami situasi tersebut.

Sebuah lubang besar di dekat ladang pertanian.
Sebuah lubang ambles di kawasan pertanian utama Turki menunjukkan bukti runtuhnya bentang alam akibat pengambilan air tanah yang berlebihan. Ekrem07, 2023, Wikimedia Commons, CC BY[29][30]

Sektor pertanian adalah pengguna air terbesar di dunia, yang bertanggung jawab atas sekitar 70% dari penyedotan air tawar global[31]. Ketika suatu wilayah mengalami kebangkrutan air, maka bertani akan lebih sulit dan mahal. Petani kehilangan pekerjaan, ketegangan meningkat, dan ketahanan nasional bisa terancam[32].

Sekitar 3 miliar orang dan lebih dari setengah produksi pangan global[33] terkonsentrasi di daerah yang cadangan airnya terus menurun atau tidak stabil. Lebih dari 1,7 juta kilometer persegi lahan pertanian beririgasi berada di bawah tekanan air yang tinggi. Hal ini mengancam stabilitas rantai pasok pangan di seluruh dunia.

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata
Di California, AS, kekeringan parah memaksa petani mencabut pohon almond yang membutuhkan banyak air. Robyn Beck/AFP via Getty Images[34]

Kekeringan juga semakin meningkat[35], baik secara frekuensi[36] maupun intensitas[37] seiring meningkatnya suhu global. Lebih dari 1,8 miliar orang[38]—hampir 1 dari 4 manusia—menghadapi kondisi kekeringan di berbagai waktu sepanjang 2022 hingga 2023.

Angka-angka ini berujung pada masalah nyata: harga pangan yang melonjak[39], kekurangan listrik tenaga air (hidroelektrik)[40], risiko kesehatan, pengangguran, tekanan migrasi[41], hingga konflik sosial.

Apakah dunia siap menghadapi risiko keamanan nasional yang berkaitan dengan air? CNN.

Bagaimana kita sampai di titik ini?

Setiap tahun, alam memberikan “sumber pendapatan air” kepada setiap wilayah melalui hujan dan salju. Anggaplah ini sebagai rekening giro. Inilah jumlah air yang kita terima setiap tahun untuk digunakan dan dibagi kembali dengan alam.

Saat kebutuhan meningkat, kita mulai meminjam dari “rekening tabungan”. Kita mengambil lebih banyak air tanah daripada yang bisa diisi ulang. Kita “mencuri” jatah air yang dibutuhkan alam dan mengeringkan lahan basah dalam prosesnya.

Hal ini mungkin berhasil untuk sementara, persis seperti utang yang bisa membiayai gaya hidup boros dalam jangka pendek.

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata
Pantai yang terpapar di Bendungan Latyan menunjukkan tingkat air yang sangat rendah di dekat Teheran pada 10 November 2025. Bendungan tersebut, yang memasok sebagian air minum ibu kota, mengalami penurunan drastis akibat kekeringan berkepanjangan dan peningkatan permintaan di wilayah tersebut. Bahram/Middle East Images/AFP via Getty Images[42]

Namun sekarang, sumber air jangka panjang tersebut mulai menghilang. Dunia telah kehilangan lebih dari 4,1 juta kilometer persegi[43] lahan basah alami dalam lima dekade terakhir. Padahal, lahan basah bukan hanya penampung air; mereka juga menyaring air, meredam banjir, serta menyokong kehidupan flora dan fauna.

Kualitas air pun kian merosot. Polusi, intrusi air laut, dan salinasi atau peningkatan kadar garam tanah[44] menghasilkan air yang terlalu kotor dan asin untuk digunakan, yang pada akhirnya mempercepat kebangkrutan air.

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata Skor risiko air secara keseluruhan mencerminkan nilai agregat dari ketersediaan air, kualitas air, serta risiko regulasi dan reputasi yang terkait dengan pasokan air. Nilai yang lebih tinggi menunjukkan risiko yang lebih besar terkait dengan air. United Nations University Institute for Water, Environment and Health, based on Aqueduct 4.0, CC BY[45][46]

Perubahan iklim memperburuk situasi[47] dengan mengurangi curah hujan di banyak belahan dunia. Suhu yang lebih panas meningkatkan kebutuhan air untuk tanaman dan kebutuhan listrik untuk memompa air. Selain itu, pemanasan global juga mencairkan gletser[48] yang merupakan penyimpan cadangan air tawar.

Terlepas dari masalah ini, banyak negara terus menyedot air tanah untuk mendukung perluasan kota, lahan pertanian, industri, dan sekarang—pusat data (data center)[49].

Meskipun tidak semua wilayah mengalami kebangkrutan air, setiap wilayah saling terhubung melalui perdagangan, migrasi, dan iklim. Kebangkrutan air di satu tempat akan memberikan tekanan pada tempat lain dan meningkatkan ketegangan lokal maupun internasional.

Read more: Merawat air, merebut ruang hidup: kisah aksi warga empat kota[50]

Apa yang bisa kita lakukan?

Sama dengan kebangkrutan finansial yang bisa diakhiri dengan mengubah pola pengeluaran, kebangkrutan air juga membutuhkan pendekatan serupa[51]:

Seorang wanita mendorong gerobak yang berisi wadah berisi air tawar.
Di negara-negara pulau kecil seperti Maldives, kenaikan permukaan laut mengancam pasokan air ketika air laut masuk ke akuifer bawah tanah, merusak sumur-sumur. UNDP Maldives 2021, CC BY[56][57]
  • Gunakan lebih sedikit dan adil: Mengelola permintaan air[58] adalah hal yang tidak bisa ditawar. Namun, kita harus memastikan kebijakan tersebut tidak mengorbankan kelompok miskin demi kepentingan kaum elite. Langkah serius harus mencakup perlindungan sosial, dukungan bagi petani untuk beralih ke tanaman yang lebih hemat air, serta investasi dalam teknologi efisiensi air[59].

  • Tentukan apa yang penting: Masih banyak negara yang mengelola air tanpa data yang utuh. Teknologi satelit remote sensing[60] bisa membantu memantau pasokan dan tren air, serta memberikan peringatan dini tentang penurunan muka tanah, berkurangnya air tanah, hingga hilangnya lahan basah.

  • Hidup dengan sedikit air: Bagian tersulit dari kebangkrutan adalah masalah psikologis. Kita dipaksa meninggalkan gaya lama. Kebangkrutan air menuntut kita merancang ulang kota, sistem pangan, dan ekonomi agar bisa hidup dalam batasan baru sebelum batasan tersebut kian sempit.

Dalam urusan air, seperti halnya keuangan, kebangkrutan bisa menjadi titik balik. Dalam hal ini, manusia yang menentukan, apakah mereka akan terus berbelanja seolah-olah alam menawarkan kredit tanpa batas, atau mulai belajar untuk hidup sesuai dengan kemampuan sumber air yang tersedia.

References

  1. ^ era kebangkrutan air (collections.unu.edu)
  2. ^ satu bulan dalam setahun (www.weforum.org)
  3. ^ badai debu (www.forbes.com)
  4. ^ Teheran (theconversation.com)
  5. ^ Amerika Serikat (AS) (theconversation.com)
  6. ^ melampaui ketersediaan pasokan Sungai Colorado (theconversation.com)
  7. ^ CC BY (creativecommons.org)
  8. ^ metafora atau kiasan (doi.org)
  9. ^ Ini adalah kondisi kronis (indonesia.un.org)
  10. ^ yang saya pimpin (scholar.google.com)
  11. ^ United Nations University Institute for Water, Environment and Health (unu.edu)
  12. ^ kebangkrutan air (collections.unu.edu)
  13. ^ Cuaca makin ekstrem, saatnya rombak sistem tata kelola air kita (theconversation.com)
  14. ^ mengalihkan aliran air (www.theguardian.com)
  15. ^ Danau-danau menyusut (theconversation.com)
  16. ^ mesti digali lebih dalam (www.watercanada.net)
  17. ^ musiman (www.youtube.com)
  18. ^ mulai merembes ke air tanah (eastasiaforum.org)
  19. ^ pun mulai amblas (grist.org)
  20. ^ NASA (svs.gsfc.nasa.gov)
  21. ^ penurunan muka tanah (unu.edu)
  22. ^ berlebihan (www.bbc.co.uk)
  23. ^ Kota Meksiko (doi.org)
  24. ^ Kebangkrutan Air Global (unu.edu)
  25. ^ menyebabkan (www.weforum.org)
  26. ^ Jakarta (www.youtube.com)
  27. ^ Bangkok (youtu.be)
  28. ^ Ho Chi Minh (doi.org)
  29. ^ Ekrem07, 2023, Wikimedia Commons (unu.edu)
  30. ^ CC BY (creativecommons.org)
  31. ^ 70% dari penyedotan air tawar global (www.unesco.org)
  32. ^ ketahanan nasional bisa terancam (youtu.be)
  33. ^ setengah produksi pangan global (unu.edu)
  34. ^ Robyn Beck/AFP via Getty Images (www.gettyimages.com)
  35. ^ semakin meningkat (www.unccd.int)
  36. ^ frekuensi (doi.org)
  37. ^ intensitas (doi.org)
  38. ^ 1,8 miliar orang (www.unccd.int)
  39. ^ harga pangan yang melonjak (www.theguardian.com)
  40. ^ kekurangan listrik tenaga air (hidroelektrik) (www.weforum.org)
  41. ^ tekanan migrasi (youtu.be)
  42. ^ Bahram/Middle East Images/AFP via Getty Images (www.gettyimages.com)
  43. ^ 4,1 juta kilometer persegi (unu.edu)
  44. ^ salinasi atau peningkatan kadar garam tanah (openknowledge.fao.org)
  45. ^ United Nations University Institute for Water, Environment and Health, based on Aqueduct 4.0 (unu.edu)
  46. ^ CC BY (creativecommons.org)
  47. ^ memperburuk situasi (unu.edu)
  48. ^ mencairkan gletser (wgms.ch)
  49. ^ (data center) (theconversation.com)
  50. ^ Merawat air, merebut ruang hidup: kisah aksi warga empat kota (theconversation.com)
  51. ^ kebangkrutan air juga membutuhkan pendekatan serupa (unu.edu)
  52. ^ batas penggunaan air (link.springer.com)
  53. ^ memulihkan aliran sungai (www.bbc.com)
  54. ^ pengisian ulang air tanah (link.springer.com)
  55. ^ Hal ini sangat penting (unu.edu)
  56. ^ UNDP Maldives 2021 (unu.edu)
  57. ^ CC BY (creativecommons.org)
  58. ^ Mengelola permintaan air (www.brookings.edu)
  59. ^ efisiensi air (unu.edu)
  60. ^ Teknologi satelit remote sensing (agupubs.onlinelibrary.wiley.com)

Authors: Kaveh Madani, Director of the Institute for Water, Environment and Health, United Nations University

Read more https://theconversation.com/pbb-sebut-dunia-memasuki-era-kebangkrutan-air-tanda-tandanya-sudah-nyata-274117

Magazine

PBB sebut dunia memasuki era kebangkrutan air, tanda-tandanya sudah nyata

Di tengah perubahan iklim, dunia masih saja menggunakan air tawar dalam jumlah yang sangat besar. Akibatnya, kita mencapai titik yang disebut sebagai era kebangkrutan air. Banyak wilayah kini tidak la...

Transisi energi berkeadilan dimulai dari suaramu. Isi survei sekarang!

Isu transisi energi bukan cuma urusan pemerintah atau ahli kebijakan. Perubahan cara kita memproduksi dan menggunakan energi tentu membentuk arah ekonomi ke depan, mulai dari jenis lapangan kerja yang...

Menghilang 50.000 tahun lalu, riset ungkap apa yang terjadi pada habitat para ‘hobbit’ Flores

_Homo floresiensis_ skull.Wikimedia Commons, CC BY-SASekitar 50 ribu tahun lalu, umat manusia kehilangan salah satu kerabat hominin terakhirnya, Homo floresiensis—yang dijuluki “hobbit&rdq...