Mengapa film horor mendominasi bahkan menyokong bisnis bioskop daerah?
- Written by Renata Jati Nirmala, Dosen Administrasi Publik, Universitas Diponegoro
● Horor merupakan genre yang paling efisien dan berpotensi cuan tinggi.
● Genre inilah yang ternyata menopang kelangsungan bisnis bioskop di daerah.
● Alhasil, deretan film terlaris nasional turut didominasi film horor.
Film merupakan salah satu ekspresi seni populer yang bisa ditonton jutaan orang[1] dan menghasilkan triliunan rupiah[2]. Tidak heran seni ini telah menjadi industri mapan dan memiliki ekosistem ekonominya sendiri.
Hingga saat ini, tak terhitung jumlah film beragam genre yang muncul di bioskop. Namun, ada satu pola yang menarik. Meski bukan yang paling banyak mendapat pujian bahkan sering disebut kampungan[3], film horor merupakan genre dengan rataan cuan[4] tertinggi dibandingkan genre lainnya.
Tak mengherankan, genre seram ini jadi pilihan rasional bagi pelaku industri perfilman. Tren global[5] ini juga terjadi di industri film dalam negeri yang ternyata jadi penyokong bisnis bioskop-bioskop di daerah.
Read more: Kesuksesan film lokal Indonesia dan Malaysia dan dampaknya pada layanan streaming, Netflix dan HBO[6]
Dalam konteks ini, reputasi film horor terbentuk bukan hanya karena selera penonton, melainkan pertemuan antara hitungan keberlanjutan bisnis, selera penonton, dan tantangan yang dihadapi industri perfilman di daerah yang berbeda dari kota besar.
Modal kecil dan banyak penonton
Film horor adalah bukti nyata dari hukum ekonomi dasar yang berlaku optimal. Dengan modal yang cenderung kecil, film horor memiliki ceruk margin profit (return of investment/ROI) yang tinggi karena ditonton oleh banyak orang.
Kita ambil contoh film Paranormal Activity[7] yang hanya bermodalkan US$15 ribu (Rp252,8 juta) tapi bisa menghasilkan laba kotor sebesar US$190 juta (Rp3,2 triliun). Begitu juga dengan The Blair Witch Project[8] yang bisa meraup omzet US$240 juta (Rp4 triliun) hanya dengan modal US$100 ribu atau senilai Rp1,7 miliar.
Pola serupa juga terlihat di Tanah Air. Film KKN di Desa Penari[9] memakan bujet produksi sebesar Rp15 miliar berujung cuan Rp240 miliar. Estimasi ini diambil dari simulasi harga tiket bioskop yang dipatok Rp40 ribu per lembar dikalikan jumlah penonton film tersebut sebanyak lebih dari 7 juta penonton.
Persamaan antara Paranormal Activity, KKN di Desa Penari, dan kebanyakan film horor lainnya adalah efisiensi modal produksi dari ongkos set, lokasi, hingga visual efek mahal seperti computer generated imaginary (CGI[10]).
Pun jika kita perhatikan, penggunaan aktor dalam genre ini tidak melulu menghadirkan bintang papan atas. Film lebih berfokus menonjolkan atmosfer dan ritme cerita, bukan persona selebritas.
Sebagai perbandingan, produksi film aksi atau animasi yang menggunakan deretan artis mahal atau teknik khusus seperti The Raid 2: Berandal[11] dan Jumbo[12] menelan biaya puluhan miliar rupiah.
Menyokong bisnis bioskop di daerah
Keunggulan komersial horor semakin terlihat jika merujuk pada pola musiman. Film Pabrik Gula[13] bisa jadi pilihan 2,6 juta penonton ketika ditayangkan pada momen libur lebaran 2025. Artinya, horor memiliki fleksibilitas kalender: ia tidak bergantung pada musim tertentu seperti film keluarga saat liburan sekolah atau film romantis saat hari Valentine.
Tentunya, untuk bisa menjadi yang terlaris, sebuah film harus bisa menggaet minat penonton di daerah. Tren inilah yang jadi basis ekspansi bisnis bioskop-bioskop di daerah yang menjadikan film horor sebagai produk jualan unggulannya.
Di titik inilah arah pembahasan ini bergeser dari topik umum mengenai larisnya film bergenre horor menjadi mengapa horor selalu jadi andalan bioskop di daerah.
Read more: Mulai enek dengan ‘reboot’? Tayangan nostalgia memanfaatkan kenangan masa kecil Milenial dan Gen Z[14]
Kondisi bisnis dan operasional bioskop daerah berbeda dibandingkan jaringan besar di kota metropolitan. Jaringan bioskop di daerah menghadapi berbagai tantangan[15] seperti jumlah layar lebih terbatas, rotasi film lebih lambat, dan risiko kerugian lebih terasa ketika satu judul gagal menarik penonton.
Dalam situasi seperti ini, pilihan genre bukan lagi persoalan estetika, melainkan strategi mitigasi risiko. Horor menjadi pilihan karena memiliki tingkat keberhasilan yang relatif konsisten.
Dalam perspektif bisnis, bioskop daerah mengandalkan stabilitas arus kas yang berkesinambungan[16]. Tingkat okupansi 40–60% secara konsisten yang diisi oleh penonton film horor lebih bernilai daripada okupansi 100% sesaat dari film mahakarya dengan pasar yang niche alias dinikmati kelompok tertentu saja.
Sebab pada dasarnya, bisnis bioskop bertumpu pada stabilitas keterisian kursi dan arus kas harian, bukan semata dari lonjakan penonton sesaat.
Rasa takut bersifat universal
Dari sisi psikologi konsumen, horor menawarkan pengalaman yang sederhana tetapi universal yakni sensasi tegang. Film horor memantik respons fisiologis seperti peningkatan detak jantung atau kewaspadaan. Sementara penerimaan film komedi dan drama bergantung banyak hal seperti selera, usia, dan tingkat pendidikan.
Asumsi ini dibuktikan dalam kajian psikologi media tahun 2000[17] yang berlandaskan teori excitation transfer dan mood management. Kajian ini membuktikan bahwa ketegangan dan pelepasan emosi dapat dinikmati secara luas oleh penonton lintas latar belakang.
Perspektif neuropsikologi[18] juga menegaskan pembuktian tentang rasa takut pada sistem emosi dasar manusia—terkait respons amigdala (bagian otak yang berperan dalam fungsi emosional, perilaku, dan ingatan)[19]—yang relatif universal.
Pendekatan psikologi konsumen ini bersanding dengan konsep pemasaran hiburan berlandaskan predictable emotional outcome[20] atau kajian tentang prediksi produk (dalam hal ini film horor) yang bisa memicu reaksi emosional penggunanya (penonton).
Konsumen bioskop di daerah juga berlatar belakang usia dan tingkat pendidikan yang beragam. Film horor bisa menangkap potensi ini secara optimal karena tidak membutuhkan referensi budaya kompleks atau selera yang spesifik.
Dengan kata lain, bagi penonton yang memiliki preferensi genre di luar horor, ketersediaan pilihan di bioskop kota kecil atau kabupaten akan lebih terbatas.
Hal ini bukan semata soal selera, melainkan konsekuensi dari strategi pemilihan film yang menitikberatkan pada stabilitas jumlah penonton dan mitigasi risiko operasional layar lebar.
Read more: Jadikan sukses Jumbo momen pembangunan industri animasi nasional[21]
References
- ^ ditonton jutaan orang (www.detik.com)
- ^ triliunan rupiah (www.cnnindonesia.com)
- ^ kampungan (scholarhub.ui.ac.id)
- ^ film horor merupakan genre dengan rataan cuan (stephenfollows.com)
- ^ Tren global (americanfilmmarket.com)
- ^ Kesuksesan film lokal Indonesia dan Malaysia dan dampaknya pada layanan streaming, Netflix dan HBO (theconversation.com)
- ^ Paranormal Activity (movieweb.com)
- ^ The Blair Witch Project (movieweb.com)
- ^ KKN di Desa Penari (www.cnnindonesia.com)
- ^ CGI (kumparan.com)
- ^ The Raid 2: Berandal (www.inilah.com)
- ^ Jumbo (kumparan.com)
- ^ Pabrik Gula (mdentertainment.com)
- ^ Mulai enek dengan ‘reboot’? Tayangan nostalgia memanfaatkan kenangan masa kecil Milenial dan Gen Z (theconversation.com)
- ^ berbagai tantangan (leisure.harianjogja.com)
- ^ stabilitas arus kas yang berkesinambungan (www.researchgate.net)
- ^ kajian psikologi media tahun 2000 (www.researchgate.net)
- ^ Perspektif neuropsikologi (www.annualreviews.org)
- ^ amigdala (bagian otak yang berperan dalam fungsi emosional, perilaku, dan ingatan) (www.communicationcache.com)
- ^ predictable emotional outcome (academic.oup.com)
- ^ Jadikan sukses Jumbo momen pembangunan industri animasi nasional (theconversation.com)
Authors: Renata Jati Nirmala, Dosen Administrasi Publik, Universitas Diponegoro




