Asian Spectator

Men's Weekly

.

Agama, budaya, dan sistem: Riset ungkap mengapa laki-laki minim terlibat dalam pekerjaan rumah tangga

  • Written by Muhammad Zawil Kiram, Doctoral researcher, University of Sheffield
Agama, budaya, dan sistem: Riset ungkap mengapa laki-laki minim terlibat dalam pekerjaan rumah tangga

● Perempuan masih menanggung beban kerja domestik lebih berat dari laki-laki, akibat norma dan kebijakan patriarki.

● Agama memungkinkan tafsiran gender yang setara, tapi tak otomatis mengubah praktik domestik.

● Keadilan gender butuh perubahan norma sosial, kebijakan keluarga, dan dialog pasangan.

Perdebatan soal apakah hanya perempuan yang harus mengurus pekerjaan rumah tangga seolah tak pernah selesai.

Curhatan seorang istri melalui akun X @yappingfess[1] yang sempat viral baru-baru ini, misalnya. Ia menceritakan pengalamannya harus mencuci berember-ember pakaian sendirian. Apa yang dialami perempuan tersebut bahkan sempat membuat ayahnya menangis, karena merasa anaknya tidak diperlakukan dengan adil.

Adanya kesenjangan gender peran domestik saya temukan dalam penelitian terbaru saya[2], yang berbasis survei terhadap 250 pasangan di Pulau Jawa dan Provinsi Aceh.

Pada hari kerja, perempuan di Indonesia rata-rata menghabiskan sekitar 4,2 jam per hari untuk pekerjaan rumah tangga, ditambah hampir 3,7 jam untuk merawat anak. Dalam kegiatan yang sama, laki-laki hanya mengalokasikan sekitar 40 menit dan 26 menit.

Kesenjangan ini tidak hilang saat akhir pekan. Perempuan masih menghabiskan sekitar 4,1 jam untuk tugas domestik dan hampir 1,8 jam untuk merawat anak. Sementara laki-laki menghabiskan sekitar 1,7 jam dan 54 menit.

Mengapa kesenjangan ini terus terjadi?

Penelitian terbaru saya menemukan norma dan kebijakan saat ini justru menghambat pembagian kerja rumah tangga dan pengasuhan yang adil. Sementara agama justru mendukung pembagian kerja rumah tangga yang setara.

Agama dan penafsiran baru

Nilai agama[3] Islam berperan kuat dalam membentuk pembagian tugas dan peran di dalam keluarga.

Salah satu rujukannya adalah Al-Qur'an Surah An-Nisa ayat 34[4]. Ayat ini menyebut laki-laki sebagai qawwam: sering dimaknai sebagai pelindung serta penanggung jawab nafkah keluarga. Sementara perempuan sering dikaitkan dengan nilai ketaatan kepada suami, menjaga rumah, serta memelihara kehormatan keluarga.

Read more: Pandemi memperburuk ketidaksetaraan gender dalam pembagian tugas rumah tangga[5]

Namun, interpretasi ini bukan satu-satunya[6]. Sejumlah kajian menunjukkan adanya pembacaan nilai-nilai Islam yang lebih menekankan kemitraan dan keadilan dalam keluarga.

Contohnya praktik Nabi Muhammad yang tercatat[7] gemar melakukan pekerjaan rumah tangga. Catatan ini memantik anggapan bahwa keterlibatan laki-laki di ranah domestik sejalan dengan sunnah[8] atau meneladani Nabi.

Perspektif ini membuka pemahaman baru bahwa peran domestik bukanlah kodrat perempuan semata, melainkan hasil tafsir sosial-keagamaan yang dapat berubah seiring waktu dan konteks.

Sayangnya, pemahaman ini tidak otomatis meningkatkan keterlibatan laki-laki dalam pekerjaan rumah tangga. Norma budaya di Indonesia masih sangat kuat dalam memengaruhi pembagian tugas rumah tangga.

Pengaruh nilai budaya

Pekerjaan domestik kerap dipandang sebagai perpanjangan peran “alami” perempuan sebagai istri dan ibu[9]. Pandangan ini diperkuat oleh ungkapan populer seperti “tugas perempuan itu di sumur, kasur, dapur[10]”.

Anggapan dan ungkapan itu seakan[11], mencerminkan norma sosial yang membentuk cara orang menilai diri sendiri dan orang lain. Hal ini terlihat dalam penelitian saya, yang mendapati bahwa laki-laki yang terlalu aktif di dapur atau terlalu sering mengurus anak bisa dianggap “tidak biasa” atau “takut istri”.

Sementara perempuan yang memprioritaskan karier sering dinilai kurang menjalankan peran keluarga dan tidak “cakap” mengurus rumah tangga. Sebagaimana diungkapkan oleh Nur (bukan nama sebenarnya) salah satu responden penelitian saya dalam wawancara mendalam:

…ketika seorang suami membantu pekerjaan domestik seperti memasak atau membersihkan rumah, terkadang muncul komentar dari anggota keluarga. Tampaknya ada persepsi bahwa jika suami turut membantu, itu berarti sang istri malas atau tidak melakukan kewajibannya.

Read more: Punya anak atau tidak itu pilihan, namun perempuan masih menghadapi paksaan sosial untuk menjadi ibu[12]

Norma inilah yang membuat masyarakat mewajarkan ketimpangan pembagian kerja domestik, bahkan ketika banyak pasangan sebenarnya menginginkan hubungan yang lebih setara.

Kebijakan tidak mendukung

Kebijakan pemerintah juga berperan penting dalam membentuk pembagian peran di dalam keluarga. Di Indonesia, kebijakan terkait kerja dan keluarga masih belum sepenuhnya mendukung keterlibatan laki-laki dalam pengasuhan anak dan pekerjaan domestik.

Contohnya adalah kebijakan cuti orang tua[13]. Ibu mendapatkan cuti melahirkan yang relatif lebih panjang (3 bulan). Sementara cuti bagi ayah biasanya sangat singkat (2 hari).

Pengaturan ini mengesankan bahwa pengasuhan bayi adalah tanggung jawab utama ibu, sedangkan ayah hanyalah peran pendukung.

Sejak awal kehidupan anak, pola ini sudah membentuk kebiasaan bahwa ibu yang paling dekat dengan tugas perawatan harian. Tidak heran jika Indonesia kerap disebut sebagai negara yang mengalami fenomena fatherless[14], yakni minimnya keterlibatan ayah dalam pengasuhan sehari-hari.

Budaya kerja di banyak tempat juga masih menekankan jam kerja panjang dan ketersediaan penuh. Sehingga tidak banyak lak-laki yang mengambil pekerjaan paruh waktu.[15] Laki-laki yang ingin mengambil cuti atau mengurangi jam kerja demi keluarga juga bisa menghadapi stigma sebagai kurang berkomitmen pada pekerjaan[16].

Akibatnya, meskipun laki-laki menginginkan lebih terlibat di rumah, struktur kebijakan dan dunia kerja[17] justru mempersulit pilihan itu.

Dengan kata lain, ketimpangan domestik bukan hanya hasil keputusan individu, tetapi juga diproduksi oleh aturan dan sistem yang belum dirancang dengan asumsi bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab bersama.

Apa yang perlu diubah?

Perubahan sebenarnya mulai terlihat. Semakin banyak laki-laki muda yang menyadari bahwa pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak bukan sekadar “membantu istri”, tetapi bagian dari tanggung jawab bersama dalam keluarga[18].

Seiring dengan itu, muncul pula interpretasi nilai-nilai keagamaan yang lebih menekankan kemitraan, keadilan, dan kerja sama antara suami dan istri.[19]

Kendati begitu, kita juga memerlukan dukungan sosial dan struktural.

Representasi laki-laki yang aktif di rumah perlu dinormalisasi melalui media, pendidikan, dan percakapan sehari-hari, sehingga kerja domestik tidak lagi dianggap mengurangi maskulinitas.

Pada saat yang sama, penguatan wacana keagamaan yang berperspektif kesetaraan dapat membantu masyarakat melihat bahwa berbagi peran domestik selaras dengan nilai tanggung jawab dan kasih sayang dalam keluarga.

Dari sisi kebijakan, perlu ada reformasi yang lebih ramah keluarga, seperti cuti ayah lebih panjang dan pengaturan kerja fleksibel, agar laki-laki berkesempatan untuk terlibat dalam pengasuhan sejak awal.

Pasangan pun perlu lebih terbuka membicarakan pembagian kerja sebagai tanggung jawab bersama, bukan sekadar mengikuti kebiasaan lama. Ketika kesadaran individu bertemu dengan perubahan norma sosial dan dukungan kebijakan, pembagian kerja domestik yang lebih setara menjadi semakin mungkin terwujud.

Read more: Cuti ayah bermanfaat tidak hanya untuk ibu dan bayi, tapi juga organisasi, kebijakan publik, dan perekonomian keluarga[20]

References

  1. ^ akun X @yappingfess (x.com)
  2. ^ penelitian terbaru saya (www.tandfonline.com)
  3. ^ agama (dx.doi.org)
  4. ^ An-Nisa ayat 34 (quran.nu.or.id)
  5. ^ Pandemi memperburuk ketidaksetaraan gender dalam pembagian tugas rumah tangga (theconversation.com)
  6. ^ interpretasi ini bukan satu-satunya (www.tandfonline.com)
  7. ^ tercatat (muslim.or.id)
  8. ^ sunnah (doi.org)
  9. ^ sebagai istri dan ibu (doi.org)
  10. ^ sumur, kasur, dapur (doi.org)
  11. ^ Anggapan dan ungkapan itu seakan (www.tandfonline.com)
  12. ^ Punya anak atau tidak itu pilihan, namun perempuan masih menghadapi paksaan sosial untuk menjadi ibu (theconversation.com)
  13. ^ kebijakan cuti orang tua (www.worldpolicycenter.org)
  14. ^ fenomena fatherless (doi.org)
  15. ^ Sehingga tidak banyak lak-laki yang mengambil pekerjaan paruh waktu. (reports.weforum.org)
  16. ^ kurang berkomitmen pada pekerjaan (doi.org)
  17. ^ struktur kebijakan dan dunia kerja (doi.org)
  18. ^ tanggung jawab bersama dalam keluarga (doi.org)
  19. ^ kerja sama antara suami dan istri. (doi.org)
  20. ^ Cuti ayah bermanfaat tidak hanya untuk ibu dan bayi, tapi juga organisasi, kebijakan publik, dan perekonomian keluarga (theconversation.com)

Authors: Muhammad Zawil Kiram, Doctoral researcher, University of Sheffield

Read more https://theconversation.com/agama-budaya-dan-sistem-riset-ungkap-mengapa-laki-laki-minim-terlibat-dalam-pekerjaan-rumah-tangga-273921

Magazine

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?

● Virus Nipah sudah lama terdeteksi pada kelelawar di Indonesia, tapi belum ada kasus infeksi pada manusia. ● Keterbatasan sistem deteksi dini berpotensi membuat kasus pada manusia tak ter...

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

Beberapa contoh tayangan drama Cina.Dimas Mandegani/The Conversation Indonesia, CC BY● Genre drama Cina kerap dicap receh, penuh klise, tidak realistis, tapi mampu mencapai popularitas global.&#...

Agama, budaya, dan sistem: Riset ungkap mengapa laki-laki minim terlibat dalam pekerjaan rumah tangga

Tumpukan baju kotor pada keranjang(Shutterstock)● Perempuan masih menanggung beban kerja domestik lebih berat dari laki-laki, akibat norma dan kebijakan patriarki.● Agama memungkinkan tafs...