Asian Spectator

Men's Weekly

.

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

  • Written by Anwar Kurniawan, Lecturer, Institut Seni Indonesia Surakarta

● Genre drama Cina kerap dicap receh, penuh klise, tidak realistis, tapi mampu mencapai popularitas global.

● Logika dracin tidak hanya melayani fantasi romantik, tetapi juga gairah ekonomi-politik.

● Dracin menggambarkan bagaimana soft power Cina bekerja secara paripurna.

“Harta, Tahta, Drama Cina,” demikian bunyi tajuk laporan Harian Kompas[1] ketika merangkum fenomena masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi drama Cina (dracin).

Dracin kabarnya telah menjadi guilty pleasure[2], alias kesenangan yang berbalut rasa bersalah warga Indonesia. Mulai dari profesional, akademisi, mahasiswa, hingga pekerja lepas, mereka menonton kisah-kisah dalam Dracin.

Meski begitu, tak sedikit yang merasa malu mengakuinya di ruang publik. Alasannya sangat bisa dipahami. Genre ini dicap receh, penuh klise, dan kurang memiliki prestise artistik[3] layaknya serial Barat atau realisme sinema serius.

Menganggap dracin sebatas hiburan selera rendah sebetulnya adalah kekeliruan besar. Di pentas global, popularitas Dracin nyatanya mampu mengguncang ruang hiburan layar kaca[4].

Popularitas drama Cina sudah mulai mengglobal.
Cuplikan tayangan drama pendek Cina berjudul My Little Happiness. IMDB, CC BY[5][6]

Jika lapisan guilty pleasure ini dikupas lebih dalam, kita akan menemukan persimpangan menarik antara kerapuhan psikologis kelas menengah Indonesia dan diplomasi budaya canggih dari negara adidaya yang sedang bangkit tersebut.

Mengapa dracin ini populer bagi audiens Indonesia?

1. CEO Trope dan gairah ekonomi

Seperti diungkap Ien Ang[7], pakar kajian budaya dari Western Sydney University, konsumsi melodrama bukan soal rendahnya selera penonton, melainkan tentang realisme emosional.

Logika ini berlaku juga untuk dracin. Ia membentangkan pertunjukan ideal kehidupan berkeadilan nan sejahtera[8]. Trope yang berulang—misalnya tentang kuasa CEO menentukan jodoh[9]—bukan semata melayani fantasi romantik, tetapi juga gairah ekonomi-politik.

Lebih dari itu, plot dracin yang dianggap begitu-begitu saja[10] justru memberikan kenyamanan ketika penonton menyaksikan orang jahat dipermalukan, orang baik mendapat imbalan, dan kekayaan seolah tak terbatas.

Hal itu jelas bermakna signifikan bagi penonton Indonesia. Mereka membutuhkan tontonan dengan akhir cerita bahagia di tengah perjuangan menavigasi ketahanan ekonomi pasca-pandemi yang penuh ketidakpastian dan stagnasi, serta ketidakadilan struktural, liminalitas mobilitas sosial, dan kesenjangan kelas.

2. Delusi kemewahan

Cina dalam representasi dracin adalah utopia hipermodern, bebas dari polusi, kemacetan, atau kritik politik. Padahal, dinamika yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari bisa jauh lebih kompleks.

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan
Cuplikan tayangan drama Cina berjudul Meet Yourself. IMDB, CC BY[11][12]

Selain itu, daya tarik visual Dracin rupanya bekerja dengan logika estetika tertentu. Dracin dikonsumsi secara massif oleh warga Indonesia[13] karena ia menawarkan perayaan kemewahan secara eksplisit.

Hal ini jelas kontras dengan bagaimana representasi Cina di (ruang media) Indonesia[14] yang secara historis punya pengalaman traumatis terhadap bagaimana rezim militeristik Soeharto mendiskriminasi warga etnis Tionghoa.

Dampaknya, menjadi kaya bagi warga Tionghoa seolah merupakan aurat sosial yang musti ditutup rapat.

Dalam semesta dracin, yang terjadi adalah sebaliknya. Kekayaan harus terlihat, berkilau, higenis, dan sebisa mungkin simetris. Kepuasan, atau rasa malu, yang dirasakan publik saat menontonnya berasal dari alam bawah sadar bahwa kita sedang menikmati delusi, dan kelegaan yang dibawanya terlalu adiktif untuk dihentikan.

Di sini, dracin menawarkan kebalikan dari tren quiet luxury, atau kekayaan terselubung ala orang kaya lama. Ini bisa dijumpai dan sering dikaitkan dengan fenomena taipan lokal yang hanya memakai kaos oblong ketika mengunjungi pusat perbelanjaan.[15][16]

Cara Cina mengekspor fantasi

Selain menjadi media eskapisme kultural, ternyata dracin juga menjadi instrumen konsolidasi pengaruh geopolitik.

Di titik ini, hal yang personal menjadi politis. Ada ironi mendalam di balik ledakan fantasi kapitalis yang ditawarkan dracin.

Di negeri di mana dracin diproduksi, Partai Komunis Tiongkok di bawah Xi Jinping[17] justru berwajah garang menindak industri hiburan sejak akhir 2010-an. Mulai dari kampanye “Kemakmuran Bersama” (Common Prosperity) hingga larangan penggambaran “pria feminin” atau pamer kekayaan berlebihan (bai lan[18]).

Namun, seperti diamati cendekiawan Zheng Yongnian[19], penetrasi budaya Cina ke peradaban lain jarang berasal dari usaha ekspor ideologi. Sebaliknya, pengaruh itu sering muncul dari perjumpaan regulasi domestik dan sirkulasi budaya yang digerakkan pasar di luar negeri.

Contohnya, platform siaran seperti WeTV dan iQIYI. Meski bukan bagian produk kebijakan formal, keduanya mampu memperluas kehadiran budaya Cina yang selaras dengan ambisi konektivitas global mereka.

Apa yang diekspor bukanlah ideologi negara, tetapi fantasi seputar kenikmatan gaya hidup glamor.

Propaganda lunak

Saat diplomasi keras “Wolf Warrior[20]” Cina sering menimbulkan keresahan di tingkat pejabat lintas negara, budaya populer beroperasi di frekuensi yang berbeda.

Dracin menggambarkan bagaimana soft power atau diplomasi lunak bekerja secara paripurna. Titik tekannya menghujam pada aspek perasaan (afeksi), alih-alih melalui persuasi formal.

Logikanya begini: di saat Konfusius (lembaga promosi kebudayaan Cina) mungkin kesulitan menembus akar rumput masyarakat global, termasuk Indonesia, sebuah drama tentang pebisnis yang baik hati justru sukses memikat hati penontonnya.

Gambaran CEO yang berulang dalam dracin menjadi perantara budaya informal, menerjemahkan modernitas ekonomi Cina menjadi narasi yang intim dan mudah diterima secara emosional.

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan
Poster salah satu tayangan drama pendek Cina. IMDB, CC BY[21][22]

Suguhan narasi berulang-ulang ini seolah secara halus menormalisasi sentralitas ekonomi Cina. Alhasil, kekayaan, teknologi, dan modernitas negara Cina tampak sebagai sesuatu yang didambakan publik, bukan ancaman.

Pergeseran budaya yang terlanjur nyaman

Di level akar rumput, popularitas dracin di Indonesia menandakan pergeseran dalam konsumsi budaya kita. Kita telah bergerak dari American Dream ala Hollywood[23], main mata dengan gelombang Hallyu Korea[24], dan kini mulai nyaman dalam pelukan industri budaya Cina.

Di tengah dunia yang kacau, eskapisme merupakan mekanisme pertahanan diri yang sah. Menonton dracin adalah salah satunya.

Walakin, sebagai konsumen kritis, kita harus menyadari bahwa guilty pleasure bisa jadi bagian dari pertentangan pengaruh yang lebih besar.

Melalui Dracin, kita bukan saja mengonsumsi romansa, tetapi berpartisipasi dalam pergeseran budaya global.

Nyatanya, realitas kehidupan menjadi WNI tak seindah dramaturgi Dracin.

References

  1. ^ laporan Harian Kompas (www.kompas.id)
  2. ^ Dracin kabarnya telah menjadi guilty pleasure (www.kompas.id)
  3. ^ dicap receh, penuh klise, dan kurang memiliki prestise artistik (www.cnbc.com)
  4. ^ mengguncang ruang hiburan layar kaca (www.koreatimes.co.kr)
  5. ^ IMDB (www.imdb.com)
  6. ^ CC BY (creativecommons.org)
  7. ^ Ien Ang (www.jstor.org)
  8. ^ pertunjukan ideal kehidupan berkeadilan nan sejahtera (books.google.co.id)
  9. ^ kuasa CEO menentukan jodoh (www.euppublishing.com)
  10. ^ plot dracin yang dianggap begitu-begitu saja (www.tiktok.com)
  11. ^ IMDB (www.imdb.com)
  12. ^ CC BY (creativecommons.org)
  13. ^ Dracin dikonsumsi secara massif oleh warga Indonesia (www.antaranews.com)
  14. ^ representasi Cina di (ruang media) Indonesia (arielheryanto.com)
  15. ^ kebalikan dari tren quiet luxury (mojok.co)
  16. ^ fenomena taipan lokal yang hanya memakai kaos oblong ketika mengunjungi pusat perbelanjaan. (mojok.co)
  17. ^ Partai Komunis Tiongkok di bawah Xi Jinping (edition.cnn.com)
  18. ^ bai lan (www.theguardian.com)
  19. ^ Zheng Yongnian (www.routledge.com)
  20. ^ Wolf Warrior (www.nbr.org)
  21. ^ IMDB (www.imdb.com)
  22. ^ CC BY (creativecommons.org)
  23. ^ Hollywood (www.kompas.id)
  24. ^ gelombang Hallyu Korea (www.thejakartapost.com)

Authors: Anwar Kurniawan, Lecturer, Institut Seni Indonesia Surakarta

Read more https://theconversation.com/hidup-tak-seindah-dracin-ada-delusi-kemewahan-dan-propaganda-tapi-penonton-ketagihan-275821

Magazine

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?

● Virus Nipah sudah lama terdeteksi pada kelelawar di Indonesia, tapi belum ada kasus infeksi pada manusia. ● Keterbatasan sistem deteksi dini berpotensi membuat kasus pada manusia tak ter...

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

Beberapa contoh tayangan drama Cina.Dimas Mandegani/The Conversation Indonesia, CC BY● Genre drama Cina kerap dicap receh, penuh klise, tidak realistis, tapi mampu mencapai popularitas global.&#...

Agama, budaya, dan sistem: Riset ungkap mengapa laki-laki minim terlibat dalam pekerjaan rumah tangga

Tumpukan baju kotor pada keranjang(Shutterstock)● Perempuan masih menanggung beban kerja domestik lebih berat dari laki-laki, akibat norma dan kebijakan patriarki.● Agama memungkinkan tafs...