Asian Spectator

Men's Weekly

.

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?

  • Written by Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

● Virus Nipah sudah lama terdeteksi pada kelelawar di Indonesia, tapi belum ada kasus infeksi pada manusia.

● Keterbatasan sistem deteksi dini berpotensi membuat kasus pada manusia tak teridentifikasi.

● Pemerintah perlu memperkuat deteksi dini dan koordinasi lintas sektor sebelum terjadi penularan pada manusia.

Penyebaran virus Nipah (NiV), disusul kematian dua orang di India[1] dan Bangladesh[2], mendorong sejumlah negara di Asia Selatan dan Tenggara—termasuk Malaysia, Singapura, dan Filipina—memperketat sistem deteksi dini dan pengendalian penyakit.

Sejak ditemukan tahun 1998, Nipah telah menginfeksi lebih dari 754 orang[3] di kelima negara tersebut, serta menyebabkan lebih dari 435 kematian[4].

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mewanti-wanti tingginya risiko kematian manusia akibat infeksi virus Nipah, yakni mencapai 40-75%[5]. Artinya, sekitar 4-8 orang dari 10 manusia yang terinfeksi bisa meninggal dunia.

Infeksi Nipah pada tahap awal sering kali menimbulkan gejala yang tidak spesifik, seperti demam tinggi, sakit kepala berat, mual, muntah, hingga nyeri otot. Namun, sebagian pasien juga bisa mengalami ensefalitis[6] (radang otak) mendadak—yang menyebabkan gangguan napas, kejang, hilang kesadaran, hingga kematian.

Sayangnya, belum ada vaksin[7] dan obat efektif untuk mencegah dan mengatasi infeksi virus zoonosis (menular dari hewan ke manusia) ini. Penularan Nipah terjadi lewat air liur dan urine manusia ataupun hewan yang terinfeksi[8] (seperti kelelawar, babi, dan kuda) maupun pakan hewan tersebut.

Secara ekologis, dengan kawasan hutan tropis yang luas dan populasi kelelawar[9] berlimpah, Indonesia berisiko tinggi[10] terhadap penularan Nipah.

Apalagi berbagai penelitian di negara kita mengungkap bahwa materi genetik (RNA) virus Nipah sudah ditemukan pada berbagai jenis kelelawar di sejumlah daerah, seperti Sumatra Utara[11], Jawa Tengah[12], hingga Kalimantan[13].

Namun, mengapa hingga hari ini Indonesia belum melaporkan satu pun kasus infeksi Nipah pada manusia[14]?

Penyebaran Nipah di Indonesia

Sejumlah penelitian virologi[15] di Indonesia sejak 2013 menunjukkan bahwa virus Nipah telah lama menular secara alami dan berulang pada populasi kelelawar (Gambar 1).

Peneliti menemukan materi genetik virus maupun antibodi spesifik Nipah pada sampel kelelawar yang hidup di gua[16] maupun yang diperjualbelikan di pasar satwa[17].

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?
Gambar 1. Virus Nipah telah terdeteksi pada kelelawar di sejumlah wilayah di Tanah Air berdasarkan berbagai publikasi ilmiah oleh peneliti Indonesia. Author provided (no reuse)

Menariknya, kelelawar yang terinfeksi virus Nipah tidak menunjukkan gejala klinis[18] yang jelas. Alhasil, virus bisa menetap lama pada tubuh kelelawar, tanpa memunculkan tanda-tanda terinfeksi penyakit.

Read more: Wabah virus Nipah di India: sejauh mana terobosan riset vaksin dan obat untuk melawannya?[19]

Kelelawar pembawa virus Nipah hidup berdampingan dengan manusia, terutama di kawasan perekonomian yang bersinggungan langsung dengan habitat satwa liar. Contohnya, pasar satwa[20], kebun buah, peternakan, serta area permukiman di sekitar hutan.

Area tersebut menjadi titik-titik potensial terjadinya interaksi tidak langsung antara manusia dan kelelawar[21]. Misalnya, dengan mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi[22], ataupun buah yang terkontaminasi air liur atau urine kelelawar.

Penggundulan hutan, alih fungsi lahan, serta ekspansi pertanian kian memperbesar risiko penularan Nipah ke manusia[23]. Aktivitas ini melenyapkan habitat alami kelelawar[24], sehingga mendorong mereka mencari sumber pakan di kebun, ladang, hingga permukiman warga.

Sistem deteksi lemah hingga keberuntungan ekologis

Pemerintah Indonesia seharusnya lebih serius menanggapi penyebaran virus Nipah pada kelelawar lokal sebagai sinyal peringatan dini. Ketiadaan laporan kasus Nipah pada manusia di Tanah Air[25] tidak serta-merta meniadakan risiko penularan.

Salah satu penjelasan paling masuk akal mengenai ketiadaan kasus Nipah pada manusia, yaitu karena adanya keterbatasan surveilans (sistem deteksi dini penyakit)[26].

Pemeriksaan rutin terhadap virus Nipah belum menjadi bagian standar dalam penanganan kasus ensefalitis akut atau sesak napas dengan penyebab tidak jelas.

Gejala klinis Nipah[27] pun bisa menyerupai infeksi virus lain yang lebih umum, sehingga terkadang ada kemungkinan terjadi salah diagnosis.

Selain itu, penularan lintas spesies[28] juga bisa dipengaruhi oleh kombinasi faktor yang sangat spesifik, seperti tingginya jumlah virus, rute paparan yang sesuai, serta kondisi inang (manusia).

Virus Nipah yang terdeteksi pada kelelawar di Indonesia belum tentu memiliki karakteristik genetik dan tingkat virulensi (keganasan virus) yang sama dengan galur yang menyebabkan wabah besar di Malaysia, Singapura[29], Bangladesh, atau India.

Perbedaan kecil dalam struktur genom[30] dapat memengaruhi kemampuan virus untuk berikatan dengan reseptor sel manusia, bereplikasi secara efisien, dan menular antarmanusia.

Faktor lainnya, struktur peternakan[31], pola konsumsi, serta bentuk interaksi manusia dengan satwa liar di Tanah Air tidak sepenuhnya identik dengan kelima negara dari Asia Selatan dan Tenggara. Artinya, kombinasi faktor ekologis dan sosial yang memicu penularan penyakit ke manusia dalam skala besar mungkin memang belum terbentuk.

Untuk benar-benar bisa memastikan besarnya risiko penularan Nipah pada manusia di Indonesia, kita perlu melakukan penelitian genetik yang mendalam[32] dan memantau darah kelompok orang yang paling berisiko tinggi tertular Nipah.

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?
Manusia bisa terinfeksi virus Nipah akibat mengonsumsi buah bekas kelelawar yang membawa virus tersebut. Riza Faryunanda / Shutterstock[33]

Belajar dari negara lain

Indonesia sebenarnya tidak perlu menunggu munculnya kasus manusia pertama untuk mulai bertindak. Kita bisa belajar dari Thailand yang aktif memantau penyebaran virus pada kelelawar[34] meskipun belum pernah mewabah di sana.

Sementara Singapura[35] mengandalkan sistem surveilans klinis yang sensitif dan kapasitas diagnostik molekuler (identifikasi penyakit lewat DNA dan RNA) yang cepat.

Adapun India[36]—yang beberapa kali mengalami wabah Nipah—mengembangkan protokol respons cepat untuk kasus ensefalitis akut, termasuk pelacakan kontak dan isolasi pasien secara ketat.

Kesamaan berbagai pendekatan tersebut adalah adanya upaya membangun sistem sebelum krisis terjadi, bukan menunggu hingga wabah muncul.

Perluas deteksi dini segera

Indonesia sebenarnya memiliki berbagai kerangka aturan[37] terkait kewaspadaan dini penyakit dan pengendalian zoonosis. Namun, fokus kebijakan kesehatan saat ini masih banyak diarahkan pada penyakit yang sudah lama menjadi endemik (selalu ada di suatu daerah), sehingga Nipah belum menjadi prioritas dalam praktik klinis sehari-hari.

Masalah lain yang menonjol adalah terpisahnya surveilans kesehatan manusia dengan satwa liar. Temuan virus pada kelelawar umumnya berasal dari riset akademis. Sementara sistem kesehatan manusia berjalan pada jalur yang berbeda.

Pertukaran data yang lamban dan keterbatasan operasional antarsektor menyebabkan sinyal peringatan dini sulit diterjemahkan menjadi tindakan pengendalian penyakit[38].

Di sisi lain, kapasitas diagnostik molekuler dengan standar biosafety (perlindungan laboratorium dan lingkungan) yang memadai juga belum merata[39] di tingkat daerah, membuat deteksi dini menjadi tantangan tersendiri.

Read more: Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya[40]

Dengan perubahan lingkungan yang cepat dan meningkatnya interaksi manusia dengan satwa liar, pemerintah perlu melakukan sejumlah langkah berikut guna mencegah penularan wabah Nipah pada manusia:

  • Perluas surveilans pada kasus ensefalitis akut, dengan memasukkan Nipah sebagai salah satu kemungkinan penyebab.
  • Prioritaskan surveilans pada wilayah dengan deforestasi tinggi dan interaksi intens[41] antara manusia dan kelelawar.
  • Wujudkan pendekatan One Health[42] lewat pertukaran data rutin dan respons dini yang jelas.
  • Lakukan edukasi publik[43], seperti mencuci buah sebelum dikonsumsi, tidak makan buah yang jatuh dari pohon, mengelola pasar lebih higienis, serta mengurangi kontak langsung dengan satwa liar.
  • Tingkatkan kemampuan deteksi dini laboratorium dan jaringan rujukan di daerah.

Sederet langkah tersebut tidak hanya membantu kita menghadapi virus Nipah, tapi juga ancaman penyakit zoonosis lainnya di masa depan.

References

  1. ^ India (www.independent.co.uk)
  2. ^ Bangladesh (www.theguardian.com)
  3. ^ 754 orang (www.sciencedirect.com)
  4. ^ 435 kematian (www.sciencedirect.com)
  5. ^ 40-75% (www.who.int)
  6. ^ mengalami ensefalitis (doi.org)
  7. ^ belum ada vaksin (cepi.net)
  8. ^ hewan yang terinfeksi (theconversation.com)
  9. ^ populasi kelelawar (doi.org)
  10. ^ berisiko tinggi (theconversation.com)
  11. ^ Sumatra Utara (journals.plos.org)
  12. ^ Jawa Tengah (wwwnc.cdc.gov)
  13. ^ Kalimantan (onehealthjournal.org)
  14. ^ belum melaporkan satu pun kasus infeksi Nipah pada manusia (www.detik.com)
  15. ^ Sejumlah penelitian virologi (doi.org)
  16. ^ gua (doi.org)
  17. ^ pasar satwa (doi.org)
  18. ^ tidak menunjukkan gejala klinis (doi.org)
  19. ^ Wabah virus Nipah di India: sejauh mana terobosan riset vaksin dan obat untuk melawannya? (theconversation.com)
  20. ^ pasar satwa (theconversation.com)
  21. ^ antara manusia dan kelelawar (doi.org)
  22. ^ mengonsumsi daging hewan yang terinfeksi (ayosehat.kemkes.go.id)
  23. ^ memperbesar risiko penularan Nipah ke manusia (doi.org)
  24. ^ melenyapkan habitat alami kelelawar (doi.org)
  25. ^ kasus Nipah pada manusia di Tanah Air (s.kemkes.go.id)
  26. ^ keterbatasan surveilans (sistem deteksi dini penyakit) (doi.org)
  27. ^ Gejala klinis Nipah (www.ecdc.europa.eu)
  28. ^ penularan lintas spesies (doi.org)
  29. ^ Malaysia, Singapura (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  30. ^ struktur genom (www.sciencedirect.com)
  31. ^ struktur peternakan (pmc.ncbi.nlm.nih.gov)
  32. ^ penelitian genetik yang mendalam (doi.org)
  33. ^ Riza Faryunanda / Shutterstock (shutterstock.com)
  34. ^ memantau penyebaran virus pada kelelawar (thailand.prd.go.th)
  35. ^ Singapura (www.cda.gov.sg)
  36. ^ India (www.who.int)
  37. ^ berbagai kerangka aturan (s.kemkes.go.id)
  38. ^ tindakan pengendalian penyakit (www.tempo.co)
  39. ^ belum merata (www.kompas.id)
  40. ^ Tanpa aturan yang jelas, pasar hewan Indonesia berisiko memicu pandemi berikutnya (theconversation.com)
  41. ^ deforestasi tinggi dan interaksi intens (www.kompas.id)
  42. ^ pendekatan One Health (doi.org)
  43. ^ edukasi publik (www.brin.go.id)

Authors: Arif Nur Muhammad Ansori, Peneliti, Sekolah Pascasarjana, Universitas Airlangga

Read more https://theconversation.com/virus-nipah-ditemukan-di-indonesia-tapi-mengapa-belum-ada-kasus-penularan-pada-manusia-275915

Magazine

Virus Nipah ditemukan di Indonesia, tapi mengapa belum ada kasus penularan pada manusia?

● Virus Nipah sudah lama terdeteksi pada kelelawar di Indonesia, tapi belum ada kasus infeksi pada manusia. ● Keterbatasan sistem deteksi dini berpotensi membuat kasus pada manusia tak ter...

Hidup tak seindah dracin: Ada delusi kemewahan dan propaganda, tapi penonton ketagihan

Beberapa contoh tayangan drama Cina.Dimas Mandegani/The Conversation Indonesia, CC BY● Genre drama Cina kerap dicap receh, penuh klise, tidak realistis, tapi mampu mencapai popularitas global.&#...

Agama, budaya, dan sistem: Riset ungkap mengapa laki-laki minim terlibat dalam pekerjaan rumah tangga

Tumpukan baju kotor pada keranjang(Shutterstock)● Perempuan masih menanggung beban kerja domestik lebih berat dari laki-laki, akibat norma dan kebijakan patriarki.● Agama memungkinkan tafs...