Bukan hanya pemilik mobil mewah, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi bakal dirasakan semua orang
- Written by Angga Marditama Sultan Sufanir, Assistant Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung
● Para pengguna pertamax turbo dan solar nonsubsidi harus gigit jari karena kenaikan harganya sangat tinggi.
● Kenaikan harga ini seolah hanya berdampak pada kalangan menengah ke atas.
● Sebenarnya efek ini bakal terasa lebih luas sampai ke gula pasir dan minyak goreng.
Secara kasat mata, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 98 dan solar nonsubsidi[1] memang ditujukan pada spesifikasi kendaraan berkompresi dan berteknologi terkini—umumnya dimiliki oleh kalangan menengah ke atas.
Jadi, tidak salah kalau ada anggapan kenaikan harga BBM yang baru ditetapkan akhir pekan lalu itu hanya bakal berdampak pada kelompok ekonomi atas. Terlebih jika persoalan ini dilihat dari penggunaan kendaraan pribadi.
Namun, asumsi itu tidak bisa dibenarkan sepenuhnya. Kenaikan BBM ini nonsubsidi bisa berimbas luas dan membawa pengaruh buruk sampai ke kalangan menengah ke bawah. Sebab, sistem ekonomi modern sangat bergantung pergerakan orang maupun penyaluran barang yang saling terhubung dan tak bisa terpisahkan satu sama lain[2].
Biaya energi merupakan salah satu komponen penting dalam sistem transportasi. Ketika harga BBM nonsubsidi naik, dampaknya tidak berhenti pada konsumsi langsung, melainkan berpotensi merembet ke berbagai sektor yang bergantung pada pergerakan barang dan jasa.
Sektor transportasi di ujung tanduk
Penelitian terbaru berjudul “Logistics, energy, and inflation in trade-dependent economies[3]” (2025) membuktikan bahwa kenaikan harga energi naik menyebabkan biaya transportasi naik, sehingga harga barang pun ikut naik dan memicu inflasi.
Riset lain[4], “Impact of the energy commodity global prices on the disaggregated inflation” (2023) menegaskan bahwa sektor transportasi merupakan salah satu kanal utama dampak kenaikan harga energi tersebut.
Karena itulah sektor transportasi sangat sensitif terhadap perubahan harga energi. Begitu harga naik, pelaku logistik dan transportasi komersial langsung menaikkan harga jasanya untuk menutupi beban operasional.
Sektor penting termasuk transportasi[6] bersama sektor pertanian, perikanan, dan pelayanan umum dasar memang mendapat jatah penggunaan solar subsidi.
Tapi kondisi ini tidak sepenuhnya aman karena tergantung pada daya tahan anggaran pemerintah untuk memberikan subsidi dan ketersediaan pasokan. Selain itu, penyaluran subsidi, tak terkecuali bagi BBM saban tahun juga sering terkena intaian Badan Pemeriksa Keuangan[7] (BPK) lantaran kerap terjadi kebocoran penyaluran subsidi.
Sekalipun pemerintah bisa menjamin ketersediaan bahan bakar, sektor transportasi darat saat ini tak bisa mengelak dari dampak lain tak terhindarkan dari perang Iran. Salah satunya adalah kenaikan harga nafta[8] (produk turunan minyak bumi untuk bahan baku karet sintetis) hingga 45% yang memengaruhi harga ban.
Belum lagi kenaikan harga suku cadang impor yang rantai pasoknya sudah pasti terganggu.
Read more: Perang Iran bikin harga minyak membara: Bisakah kebijakan biodiesel dan bioetanol jadi solusi mandiri energi?[9]
Tetap akan menggrogoti sektor lain dan hajat hidup masyarakat
Dan yang perlu kita ketahui, tidak semua industri mendapatkan akses solar bersubsidi (biosolar). Kebijakan distribusi BBM membatasi penggunaan solar subsidi[10] agar tepat sasaran. Besarannya bervariasi dari 50 hingga 200 liter per hari, tergantung jenis kendaraan.
Apalagi kendaraan angkutan barang berkapasitas besar untuk armada perkebunan seperti minyak kelapa sawit, tebu, karet, dan pertambangan[11] tidak boleh menggunakan BBM bersubsidi.
Kenaikan harga BBM nonsubsidi bisa menambah ongkos operasional sektor kelapa sawit yang juga memasok bahan baku minyak goreng.
Selain itu, komoditas berbasis tebu seperti gula pasir juga berpotensi terdampak karena biaya pengangkutan tebu ke pabrik gula serta distribusi produk akhirnya. Pun pada sektor pertambangan, aktivitas hauling dari lokasi tambang ke titik distribusi memerlukan konsumsi BBM dalam jumlah besar.
Read more: Kebijakan WFH hemat energi: Hanya untuk kaum mampu tanpa keberpihakan kepada pekerja informal[12]
Meskipun sebagian angkutan pangan mendapatkan akses BBM bersubsidi, tekanan biaya tetap muncul dari sisi lain dalam rantai pasok.
Kenaikan biaya pada sektor hulu—terutama komoditas seperti batubara dan hasil perkebunan—serta pada segmen logistik non-subsidi tetap berpotensi memengaruhi harga di hilir—disebut cost push inflation[13].
Harga minyak goreng misalnya, kini sudah terpantau mengalami kenaikan[14] yang diklaim pemerintah terjadi karena kelangkaan bahan baku plastik.
Masalah struktural karena sangat bergantung pada minyak
Fenomena ini mencerminkan persoalan struktural dalam sistem transportasi dan distribusi Indonesia yang masih sangat bergantung pada BBM. Keterbatasan alternatif transportasi yang efisien dan terjangkau membuat setiap kenaikan harga energi berpotensi menimbulkan dampak berulang.
Tanpa perubahan mendasar—baik melalui efisiensi logistik maupun penguatan transportasi berkelanjutan—ketergantungan ini akan terus menjadi sumber kerentanan dalam sistem ekonomi.
Pada akhirnya, dampak kenaikan BBM nonsubsidi bermuara pada daya beli masyarakat. Meskipun tidak selalu dirasakan secara langsung, tekanan biaya yang terjadi di sepanjang rantai distribusi akan terakumulasi dalam bentuk kenaikan harga barang dan jasa.
Kenaikan BBM nonsubsidi, melalui rantai logistik yang panjang, pada akhirnya menjalar hingga ke meja makan—mendorong harga dari minyak goreng hingga beras, dan pada akhirnya menekan daya beli masyarakat secara luas.
Read more: Narasi “kebangkitan batu bara” bermunculan efek perang Iran, tapi data menunjukkan fakta sebaliknya[15]
References
- ^ kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis RON 98 dan solar nonsubsidi (www.cnbcindonesia.com)
- ^ pergerakan orang maupun penyaluran barang yang saling terhubung dan tak bisa terpisahkan satu sama lain (www.sciencedirect.com)
- ^ Logistics, energy, and inflation in trade-dependent economies (www.sciencedirect.com)
- ^ Riset lain (www.researchgate.net)
- ^ Grafis: Andi Ibnu (The Conversation Indonesia) (theconversation.com)
- ^ transportasi (industri.kontan.co.id)
- ^ Badan Pemeriksa Keuangan (www.bpk.go.id)
- ^ kenaikan harga nafta (www.kompas.id)
- ^ Perang Iran bikin harga minyak membara: Bisakah kebijakan biodiesel dan bioetanol jadi solusi mandiri energi? (theconversation.com)
- ^ membatasi penggunaan solar subsidi (www.cnbcindonesia.com)
- ^ armada perkebunan seperti minyak kelapa sawit, tebu, karet, dan pertambangan (www.hukumonline.com)
- ^ Kebijakan WFH hemat energi: Hanya untuk kaum mampu tanpa keberpihakan kepada pekerja informal (theconversation.com)
- ^ cost push inflation (ifgprogress.id)
- ^ mengalami kenaikan (money.kompas.com)
- ^ Narasi “kebangkitan batu bara” bermunculan efek perang Iran, tapi data menunjukkan fakta sebaliknya (theconversation.com)
Authors: Angga Marditama Sultan Sufanir, Assistant Professor of Transportation Engineering, Politeknik Negeri Bandung



