Asian Spectator

Times Advertising

Aksi seksisme di ruang digital memiliki pola tersendiri yang bisa kita pahami

  • Written by Sepita Hatami, Ph.D. in Comparative Literature, Western University

Seksime di internet sering kali dianggap sepele karena dianggap sekadar komentar-komentar buruk maupun lelucon yang kasar yang sayangnya kerap dimaklumi sebagai candaan semata.

Namun, apa yang tampaknya acak dan spontan ini kian hari makin menunjukkan pola tertentu. Komentar yang ada makin terstruktur, berulang, dan diperkuat dengan cara yang membuat dampaknya terasa jauh lebih besar.

Perubahan ini dapat dipahami melalui maskulinisme, pemikiran yang memandang laki-laki sebagai kelompok yang dirugikan[1]. Ideologi ini kerap melihat feminisme dan kesetaraan gender sebagai suatu ancaman.

Sekilas, komentar seksis yang ada mungkin tampak seperti berdiri sendiri. Namun, ada benang merah bernama maskulinisme yang menghubungkan dan memperkuat komentar-komentar tersebut di berbagai ruang digital.

Read more: Driven by social media, masculinism has moved from the fringes to the mainstream[2]

Misalnya, kelompok maskulinis seperti komunitas incel (involuntary celibate)[3], gerakan Men Going Their Own Way (MGTOW)[4], serta aktivis hak laki-laki Andrew Tate. Mereka secara terbuka menolak kesetaraan gender[5].

Dalam beberapa kasus, mereka bahkan mendorong kekerasan terhadap perempuan, sehingga seksisme tidak lagi sekadar sikap spontan, melainkan menjadi sesuatu yang lebih disengaja dan berdampak luas.

Pada Januari 2026, Dewan Tinggi Kesetaraan Gender Prancis memperingatkan[6] bahwa kelompok maskulinis di dunia maya bukan lagi kelompok kecil yang tidak berbahaya. Kelompok-kelompok yang terorganisasi ini kian berpengaruh dan dapat memengaruhi cara perempuan diperlakukan dalam masyarakat.

Untuk memahami mengapa ini penting, kita perlu melihat bagaimana perilaku atau wacana seksis sehari-hari saling terkait dan dapat berkembang menjadi gerakan terkoordinasi di dunia maya. Seksisme tidak lagi terbatas pada pandangan individu atau kelompok kecil di internet, tetapi kini tersebar dan dibagikan di berbagai platform digital.[7]

Pola di balik kebisingan

Sebagai peneliti teori feminis dan kajian gender yang berfokus pada analisis narasi serta representasi budaya, saya meneliti bagaimana gagasan tentang gender direpresentasikan, diproduksi, dan disebarkan di berbagai media.

Komentar seksis berseliweran di internet setiap hari dengan beragam bentuk mulai dari lelucon kasar hingga serangan terhadap feminisme atau klaim bahwa laki-laki adalah “korban yang sebenarnya” dalam masyarakat saat ini.

Karena sering terlihat santai dan tidak terencana, banyak orang menganggap komentar-komentar ini sebagai sesuatu yang acak, tidak berbahaya, atau sekadar opini pribadi. Namun, penelitian dalam ilmu sosial dan komunikasi menunjukkan bahwa penyebarannya ternyata bukan kebetulan. Sebaliknya, komentar-komentar ini mengikuti pola koordinasi yang longgar.[8].

Koordinasi semacam ini terjadi ketika orang-orang terus-menerus membagikan bahasa, gagasan, dan rasa tidak puas yang sama di ruang digital.

Pola ini berulang dan umum dilakukan di berbagai platform digital yang menggiring perubahan opini pribadi menjadi bagian dari pola yang lebih terorganisasi[9]. Meskipun begitu, para penggunanya sering kali tidak menyadari gambaran besar tersebut.

Seorang perempuan sedang menatap laptop dengan wajah cemberut.
Ketika pesan-pesan seksis muncul berulang kali di berbagai platform digital, apa yang terasa seperti opini pribadi berubah menjadi bagian dari pola yang lebih terorganisasi. Meski begitu, para penggunanya sering kali tidak menyadari gambaran besar tersebut. (Unsplash)

Kampanye yang masif

Dahulu aktivis hak laki-laki, komunitas anti-feminis, atau komunitas misoginis tak ada tajinya. Namun seiring waktu, sebagian dari mereka mulai membangun kehadiran yang semakin kuat di berbagai platform media sosial populer, podcast, dan kanal video.

Gagasan mereka kini kian meluas. Influencer seperti Justin Waller dan Sneako (yang tampil dalam dokumenter terbaru Louis Theroux di Netflix, (Inside the Manosphere)[10] turut berperan besar dalam mempopulerkan ide-ide maskulinis.

Konten mereka kerap memadukan pesan pengembangan diri dengan narasi yang menggambarkan perempuan sebagai manipulatif atau laki-laki sebagai kaum yang sebenarnya tertindas. Tate sendiri telah mengumpulkan miliaran tayangan di berbagai platform, mencerminkan besarnya skala penyebaran ide-ide tersebut.

Pesan yang memicu kemarahan atau rasa ketidakadilan ini cenderung lebih mudah dibagikan. Penelitian dalam psikologi dan ilmu kognitif menunjukkan bahwa bahasa yang sarat emosi dan moral membuat pesan politik lebih mudah menyebar[11], bahkan di kalangan orang yang tidak sepakat dengannya.

Alih-alih membahas jangkauan, risiko yang lebih besar justru terletak pada dampak paparan berulang dalam jangka panjang. Ketika kelompok tertentu, seperti perempuan atau feminis, terus-menerus digambarkan sebagai berbahaya atau tidak bermoral, orang bisa menjadi lebih menerima perlakuan keras terhadap mereka, bahkan tanpa adanya seruan terbuka untuk melakukan kekerasan[12].

Paparan rutin terhadap konten misoginis juga dapat membuat pengguna lebih mudah bergeser ke pandangan yang lebih ekstrem, termasuk konten sayap kanan. Radikalisasi tidak terjadi dalam semalam, melainkan merupakan hasil dari paparan yang terus-menerus dan normalisasi yang berlangsung secara bertahap dari waktu ke waktu[13].

Ketika orang terus-menerus melihat pesan yang sama, bahasa yang berbahaya perlahan kehilangan efek kejutnya dan mulai terasa wajar[14].

Yang mengkhawatirkan, dampak ini tidak berhenti di ruang digital.

Stiker di dinding dengan pesan feminis.
Kelompok seperti aktivis hak laki-laki, komunitas anti-feminis, atau komunitas misoginis dulu sering dianggap kecil dan tidak berpengaruh. Namun seiring waktu, sebagian dari mereka mulai membangun kehadiran yang semakin kuat di berbagai platform media sosial populer, podcast, dan kanal video. (Unsplash)

Bahaya nyata yang diwajarkan

Laporan menunjukkan bahwa bahasa dan sikap seksis semakin sering muncul di sekolah dan lingkungan keluarga[15].

Guru melaporkan bahwa siswa[16] mengulang pesan-pesan misoginis yang mereka lihat di media sosial atau platform video online, lalu menganggapnya sebagai lelucon atau ‘hal yang wajar’, bukan sebagai gagasan dan perilaku yang berbahaya.

Pola serupa juga dapat muncul di tempat kerja, di mana kontribusi perempuan bisa diremehkan lewat humor[17]. Ketika kita terbiasa dengan konten yang merugikan, kita pun berhenti mempertanyakannya.\

Memahami pola-pola ini bukan berarti orang tidak boleh berbeda pendapat soal kebijakan gender. Dalam masyarakat demokratis, perbedaan pandangan tentang cara mencapai kesetaraan justru penting. Namun, ada perbedaan antara perdebatan yang wajar dan narasi terorganisasi yang memandang kesetaraan gender sebagai ancaman serius.

Jika kita ingin mengatasi fenomena ini, kita perlu memahami dampak dari cara perempuan dan anak perempuan direpresentasikan di dunia maya, serta bagaimana konten seksis sehari-hari dapat memengaruhi cara mereka diperlakukan dalam kehidupan nyata.

Adinda Ghinashalsabilla Salman menerjemahkan artikel ini dari Bahasa Inggris

References

  1. ^ pemikiran yang memandang laki-laki sebagai kelompok yang dirugikan (www.france24.com)
  2. ^ Driven by social media, masculinism has moved from the fringes to the mainstream (theconversation.com)
  3. ^ komunitas incel (involuntary celibate) (theconversation.com)
  4. ^ Men Going Their Own Way (MGTOW) (www.splcenter.org)
  5. ^ Andrew Tate. Mereka secara terbuka menolak kesetaraan gender (www.bbc.com)
  6. ^ Dewan Tinggi Kesetaraan Gender Prancis memperingatkan (www.lemonde.fr)
  7. ^ kini tersebar dan dibagikan di berbagai platform digital. (doi.org)
  8. ^ pola koordinasi yang longgar. (doi.org)
  9. ^ menjadi bagian dari pola yang lebih terorganisasi (doi.org)
  10. ^ (Inside the Manosphere) (www.netflix.com)
  11. ^ membuat pesan politik lebih mudah menyebar (doi.org)
  12. ^ bahkan tanpa adanya seruan terbuka untuk melakukan kekerasan (doi.org)
  13. ^ berlangsung secara bertahap dari waktu ke waktu (doi.org)
  14. ^ mulai terasa wajar (datasociety.net)
  15. ^ sering muncul di sekolah dan lingkungan keluarga (ontherecordnews.ca)
  16. ^ Guru melaporkan bahwa siswa (doi.org)
  17. ^ diremehkan lewat humor (haskayne.ucalgary.ca)

Authors: Sepita Hatami, Ph.D. in Comparative Literature, Western University

Read more https://theconversation.com/aksi-seksisme-di-ruang-digital-memiliki-pola-tersendiri-yang-bisa-kita-pahami-280728

Magazine

Aksi seksisme di ruang digital memiliki pola tersendiri yang bisa kita pahami

Seksime di internet sering kali dianggap sepele karena dianggap sekadar komentar-komentar buruk maupun lelucon yang kasar yang sayangnya kerap dimaklumi sebagai candaan semata. Namun, apa yang tampakn...

Bukan hanya pemilik mobil mewah, dampak kenaikan harga BBM nonsubsidi bakal dirasakan semua orang

● Para pengguna pertamax turbo dan solar nonsubsidi harus gigit jari karena kenaikan harganya sangat tinggi.● Kenaikan harga ini seolah hanya berdampak pada kalangan menengah ke atas.χ...

Cuma ‘nyuci-ngepel’: Bagaimana bias gender melanggengkan eksploitasi PRT di Indonesia

Aksi protes mendukung pengesahan UU PPRT di depan gedung DPR RI(Bagus upc/Shutterstock)● Kelas menengah Indonesia amat tergantung pada pekerja rumah tangga untuk mendukung produktivitas.● ...