PSN tambak udang di Kebumen rusak ekosistem pesisir, akan terulang juga di Sumba Timur?
- Written by M. Afiqul Adib, Dosen Universitas Islam Lamongan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga
● Kerusakan pesisir akibat PSN tambak udang (shrimp estate) di Kebumen mengancam kelangsungan hidup penyu dan ekosistem pesisir.
● Proyek shrimp estate juga mengganggu mata pencaharian masyarakat.
● Rencana ekspansi ke Sumba Timur berisiko mengulang kerusakan yang sama.
Beberapa tahun lalu, saya sempat mampir ke sebuah lokasi konservasi penyu di pesisir selatan Pulau Jawa. Kebetulan, di pantai tersebut ada 4 jenis penyu[1] yang biasa bertelur, yakni penyu belimbing, penyu sisik, penyu lekang, dan penyu hijau.
Di sana, saya bertemu seorang warga lokal yang bercerita panjang tentang keunikan perilaku penyu yang pada umumnya hanya bertelur setahun sekali[2]
Penyu-penyu itu selalu kembali ke pantai asal tempat mereka menetas untuk bertelur setelah dewasa (usia 15 tahun). Mereka memiliki naluri alamiah untuk menyembunyikan telur-telurnya di balik pasir sampai waktu menetas tiba.[3][4]
Fakta-fakta itu membuat saya terkagum-kagum pada spesies ini. Mereka tidak pernah lupa jalan pulang meski sudah berkelana jauh ke samudra luas.
Namun kini, cerita mulai berubah. Penyu-penyu kehilangan jalan pulang karena “rumah” yang mereka kenal dahulu telah berubah. Pantai dikaveling-kaveling menjadi tembok-tembok tambak udang, seperti yang terjadi di Kabupaten Kebumen, Jawa Tengah.
Proyek Strategis Nasional (PSN) budi daya udang yang disebut shrimp estate[6] itu telah merusak habitat penyu.
Sebelum Tambak Budidaya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) ini hadir pada 2021, para pegiat pelestarian satwa masih bisa menyaksikan puluhan penyu mendarat setiap malam untuk bertelur[7] di Pantai Petanahan, Kebumen. Kini semuanya lenyap.
Pun berdasarkan pantauan citra satelit Copernicus[8], sedikitnya empat gundukan pasir setinggi 2 – 10 meter di Pantai Petanahan sudah rata sejak 2020. Padahal tempat tersebut selama ini menjadi lokasi penyu bertelur.
Peluang hidup penyu itu tipis sekali. Dari seratus tukik yang berenang ke laut, kalau ada lima saja yang berhasil tumbuh dan kembali bertelur[9], itu sudah dianggap ‘bejo’ alias untung.
Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), sebagian besar spesies penyu laut saat ini sudah masuk dalam kategori terancam punah[10]. Selain perburuan, ancaman nyata pada mereka datang dari degradasi habitat pesisir akibat aktivitas manusia seperti tambak udang ini.
Turut mengancam mata pencaharian masyarakat lokal
Tak hanya berhenti pada aspek ekologis saja, PSN tambak udang ini juga berdampak pada aspek kehidupan masyarakat setempat. Ketika ekosistem pesisir rusak, sumber penghidupan masyarakat otomatis ikut terancam.
Masyarakat setempat amat bergantung pada sumber daya laut, baik untuk konsumsi maupun niaga. Alhasil, nelayan kini juga harus melaut lebih jauh karena mendapati tangkapan ikan menyusut akibat limbah yang mencemari air. Ekosistem yang rusak perlahan juga mulai mengancam daya tarik wisata laut yang selama ini jadi primadona.
Parahnya lagi, setelah merusak ekosistem pesisir dan pendapatan warga, proyek yang menelan anggaran senilai Rp175 miliar itu pun sempat berhenti beroperasi berbulan-bulan sejak Agustus 2025[11] hingga Februari 2026.
Dan seperti yang sudah-sudah, pada Mei lalu pemerintah mengklaim fasilitas tambak sudah kembali panen[12] usai ramai pemberitaan mangkraknya proyek tersebut.
Read more: Bisik terakhir gumuk pasir Kebumen, terancam lenyap oleh proyek tambak udang[13]
Pelajaran dari Kebumen untuk Sumba Timur
Kritik terhadap PSN tambak udang di Kebumen tak membuat pemerintah surut. Kini pemerintah menyiapkan rencana ekspansi PSN tambak udang di wilayah Indonesia Timur, termasuk Sumba Timur[14].
Di atas kertas, proyek ini memang ‘wangi’[15] dengan potensi peningkatan ekonomi, lapangan kerja, dan kontribusi terhadap ekspor. Namun, kasus di Kebumen menjadi contoh nyata bagaimana tambak skala besar dan masif dengan teknologi intensif sulit bertahan dalam jangka panjang akibat beban lingkungan yang ditimbulkan.
Pendekatan budi daya intensif seringkali menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Tanpa sistem pengelolaan limbah yang memadai, akumulasi bahan organik bisa memicu terjadinya eutrofikasi atau kondisi air yang “terlalu subur” akibat limbah organik.
Hal ini bisa menyebabkan ledakan pertumbuhan alga dan membunuh biota laut di sekitarnya. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa mendegradasi habitat ekosistem lain seperti karang dan mangrove.
Bahkan, risiko proyek tambak udang terintegrasi di Sumba Timur bisa jauh lebih besar karena luasnya mencapai 20 kali lipat dari proyek Kebumen. Anggarannya pun jauh lebih besar, yakni sekitar Rp7,2 triliun.
Jika berbasis produksi semata tanpa memperhatikan kelangsungan ekosistem pesisir, proyek ini hanya akan mengulang masalah yang sama seperti yang terjadi di Kebumen[16]. Seberapa banyak hasil panennya kelak takkan sebanding dengan kerusakan lingkungan yang ditimbulkan.
Read more: Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangrove[17]
Agar tidak jatuh di lubang yang sama, pembangunan proyek tambak udang di Sumba Timur bisa mengadopsi pendekatan budi daya berbasis ekosistem atau ecosystem-based aquaculture[18]. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara produksi, perlindungan lingkungan, dan keberlanjutan sosial ekonomi.
Beberapa langkah penting yang dapat dilakukan seperti melakukan analisis daya dukung lingkungan sebelum pembangunan dimulai dengan menerapkan pengelolaan limbah yang ketat, termasuk sistem Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Pemerintah juga perlu memastikan adanya analisis sosial ekonomi yang komprehensif. Harapannya, manfaat pembangunan dapat dirasakan secara adil oleh masyarakat lokal. Proses perencanaan dan pengelolaannya pun perlu melibatkan masyarakat pesisir.
Pada akhirnya, keberhasilan shrimp estate tidak bisa hanya diukur dari jumlah produksi udang, tetapi dari kemampuannya menjaga keseimbangan ekosistem pesisir.
Pemerintah mestinya melakukan audit komprehensif proyek Kebumen sebelum melanjutkan ekspansi ke wilayah lain. Dengan begitu, Sumba Timur bisa belajar untuk tidak mengulang kesalahan di Kebumen dan membangun model akuakultur yang lebih berkelanjutan.
Artikel ini merupakan hasil kolaborasi dari ‘Workshop SEA Journalist-Academia Dialogue yang bekerja sama dengan Pulitzer Center.
References
- ^ ada 4 jenis penyu (mongabay.co.id)
- ^ bertelur setahun sekali (doi.org)
- ^ 15 tahun (royalsocietypublishing.org)
- ^ menyembunyikan telur-telurnya di balik pasir sampai waktu menetas tiba. (doi.org)
- ^ shutterstock (www.shutterstock.com)
- ^ shrimp estate (jaring.id)
- ^ untuk bertelur (www.tempo.co)
- ^ Copernicus (browser.dataspace.copernicus.eu)
- ^ berhasil tumbuh dan kembali bertelur (www.taylorfrancis.com)
- ^ terancam punah (www.iucnredlist.org)
- ^ sejak Agustus 2025 (www.tempo.co)
- ^ kembali panen (www.tribunnews.com)
- ^ Bisik terakhir gumuk pasir Kebumen, terancam lenyap oleh proyek tambak udang (theconversation.com)
- ^ Sumba Timur (ntt.bpk.go.id)
- ^ ‘wangi’ (www.kkp.go.id)
- ^ Kebumen (pulitzercenter.org)
- ^ Model baru restorasi agar tambak udang bisa berdampingan dengan pemulihan mangrove (theconversation.com)
- ^ ecosystem-based aquaculture (openknowledge.fao.org)
Authors: M. Afiqul Adib, Dosen Universitas Islam Lamongan, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga



