Asian Spectator

.
Commercial Property

.

Delirium adalah sindrom klinis yang sementara, bukan penyakit

  • Written by Christina Aggar, Associate Professor of Nursing, Southern Cross University
Delirium adalah sindrom klinis yang sementara, bukan penyakit

Delirium adalah kondisi penurunan fungsi mental seseorang secara mendadak. Kondisi ini terjadi pada saat penerimaan dan pemberian sinyal di otak terganggu yang menyebabkan kebingungan dalam berpikir serta perubahan kelakuan atau tingkat kesadaran.

Delirium bukan sebuah penyakit, kondisi ini termasuk sebagai sindrom klinis atau kondisi yang sementara dan dapat diobati. Kondisi ini seringkali disalahpahami sebagai demensia yang memiliki gejala yang hampir sama seperti munculnya delusi, agitasi, dan kelingungan. Jika yang merawat seorang pasien delirium tidak benar benar mengenali seluk beluk pasiennya, bisa saja terjadi kebingungan dalam membedakan.

Hampir sepertiga [1] lansia yang masuk ke rumah sakit terdiagnosis dengan delirium. Hal ini dapat menaikan potensi terjadinya kehilangan fungsi tubuh yang tidak diperlukan, meningkatnya waktu inap, kejatuhan, kewajiban untuk masuk ke perawatan lansia, dan kematian

Namun, dengan mengidentifikasi kondisi ini seawal mungkin, potensi risiko-risiko di atas untuk terjadi dapat berkurang. Delirium juga bisa dicegah dengan mengidentifikasi orang mana yang paling rawan untuk terjangkit serta mencari solusi untuk mengurangi kerawanan orang-orang tersebut.

Apa yang menyebabkan kondisi delirium?

Delirium biasanya disebabkan oleh beberapa penyakit akut (jangka pendek) dan beberapa komplikasi medis. Orang lanjut usia adalah kelompok yang rawan terjangkit delirium[2] dikarenakan tubuh mereka memiliki lebih sedikit ketahanan tubuh daripada kebanyakan anak muda. Orang yang terjangkit demensia adalah yang paling rawan.

Beberapa faktor yang dapat menyebabkan atau meningkatkan kemungkinan terjadinya delirium di antaranya:

  • malnutrisi
  • dehidrasi
  • Pengobatan terbaru
  • Jatuh
  • operasi
  • infeksi
  • Efek dari perawatan ICU
  • Ranjang tidur yang terus berganti
  • rasa sakit.
Orang tua mendinginkan dahinya karena efek dari delirium
Dehidrasi merupakan faktor yang menyebabkan delirium. Shutterstock[3]

Diagnosis terhadap delirium ditetapkan berdasarkan catatan kesehatan, pengamatan perilaku, dan penilaian kognitif oleh dokter yang ahli dalam bidang delirium.

Para pasien, keluarga, serta perawatnya juga wajib ditanyakan mengenai perubahan dalam berpikir dan berperilaku baru apa sajakah yang terjadi pada pasien itu.

Jadi, bagaimana cara mencegah atau mengobati delirium?

Perawatan klinis yang berfokus pada pencegahan delirium, manajemen risiko dari faktor dan gejala, serta pengurangan potensi terjadinya komplikasi yang dapat memperpanjang atau memperburuk kondisi adalah beberapa solusinya.

Untuk dapat membantu pencegahan delirium, kita bisa:

  • Sesering mungkin untuk memberi tahu orang yang terjangkit mengenai jam, tanggal dan lokasi mereka pada saat itu
  • Menganjurkan orang tersebut untuk keluar dari tempat tidur dan berjalan keliling di sekitar (tentunya dengan pengawasan yang benar)
  • Mengendalikan rasa sakit mereka
  • Memastikan asupan nutrisi dan hidrasi mereka
  • Mengurangi beban kerusakan indra tubuh mereka (contohnya: membantu memakaikan kacamata, alat bantu dengar, dan memastikan mereka untuk melakukan sesuatu)
  • Memastikan jam tidur yang baik.

Mengapa hanya sedikit orang yang diagnosis mengalami delirium?

Walaupun memiliki potensi untuk dicegah, kondisi delirium jarang teridentifikasi[4] bahkan sering terjadi salah identifikasi. Hal ini terjadi karena kurangnya pengetahuan mengenai delirium oleh para staf rumah sakit, kurangnya rutinitas screening dan assesment, serta kurang mengenal pasien secara baik.

Mendiagnosis delirium pada seseorang akan menjadi sulit apabila gejala yang dialami orang itu berubah-ubah dalam satu hari[5]. Perubahan dalam tingkat perhatian seseorang dapat terjadi dengan cepat, biasanya ada orang yang di pagi hari mempunyai tingkat perhatian yang tinggi namun tidak pada malam harinya.

‘Kehadiran’ delirium yang berbeda pada orang-orang juga menjadi alasan lain kenapa kondisi ini jarang dikenali. Delirium bisa ‘hadir’ dalam bentuk hiperaktivitas (halusinasi, delusi, atau perilaku yang tidak mau nurut) dan hypoactivity (kurangnya gairah yang bisa dianggap sebagai keletihan atau depresi) atau juga bisa campuran keduanya.

Sekitar 50% dari orang yang dikeluarkan dari rumah sakit dengan gejala delirium yang tidak terobati[6] dapat memperpanjang gejala yang terjadi sampai berbulan-bulan setelahnya. Yang membuat hal ini mengkhawatirkan adalah gejala ini bisa membuat orang yang bergejala memiliki kerusakan pada salah satu atau beberapa indranya.

Dampak delirium terhadap perawat

Delirium menghabiskan dana pemerintah Australia sebanyak A$8.8 miliar atau sekitar Rp 90 milliar per tahunnya.

Namun biaya yang lebih tinggi ternyata ditanggung oleh pasien dan keluarganya. Perubahan yang terjadi secara mendadak pada orang yang terjangkit dapat menimbulkan tingkat stres yang tinggi bagi keluarga yang merawatnya.

Orang lansia yang terdampak kondisi delirium
Identifikasi dan perawatan delirium awal adalah hal yang penting. Shutterstock[7]

Perawat merawat lansia yang terdiagnosis delirium[8] telah melaporkan tingginya stres, kurangnya kesejahteraan, dan kepuasan diri[9] yang mereka alami dari tugas mereka merawat pasien.

Maka dari itu, identifikasi dan perawatan delirium adalah hal yang wajib dilakukan untuk menjaga keamanan dan kualitas perawatan para pasien serta keluarganya.

Bekerjasama dengan keluarga

Bekerja sama dengan keluarga bisa memperbaiki hasil akhir dari perawatan yang dilakukan terhadap para lansia di rumah sakit.

Pengasuh dan teman dari keluarga diikutsertakan untuk mendeteksi perubahan perilaku dan kognitif dari pasien. Karena anggota keluarga inti merupakan orang yang mempunyai hubungan paling intim dengan pasien, maka dari itu, anggota keluarga inti menjadi bagian yang paling penting dalam pengidentifikasian ini.

Namun sayangnya banyak pengasuh dari pasien delirium yang kurang mendapat saran dan anjuran yang diperlukan untuk perawatan selanjutnya setelah keluar dari rumah sakit. Walaupun standar klinis[10] terbaru merekomendasikan partisipasi pengasuh keluarga dalam perawatan, mereka seringkali diabaikan. Keadaan ini diperparah[11] dengan adanya pandemi COVID-19.

Untuk memperbaiki keadaan ini, kami telah mengembangkan sebuah model perawatan yang mendukung integrasi dengan pengasuh sebagai rekan dalam langkah pencegahan dan perawatan delirium untuk meningkatkan hasil ahkir dari perawatan yang dilakukan.

Menggunakan alat yang berbasis web, kami berharap alat tersebut dapat meningkatkan tingkat kesadaran dan pengetahuan para pengasuh kaum lansia di rumah sakit yang rawan terkena delirium. Alat ini juga digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan para perawat.

Alat ini sedang dalam masa percobaan dan evaluasi di Tweed Hospital, sebuah rumah sakit di New South Wales, Australia, dan jika berhasil, akan disebarkan ke seluruh rumah sakit yang ada di dunia.

Demetrius Adyatma Pangestu dari Universitas Bina Nusantara menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris

References

  1. ^ Hampir sepertiga (www.thelancet.com)
  2. ^ kelompok yang rawan terjangkit delirium (www.thelancet.com)
  3. ^ Shutterstock (www.shutterstock.com)
  4. ^ kondisi delirium jarang teridentifikasi (www.ncbi.nlm.nih.gov)
  5. ^ berubah-ubah dalam satu hari (www.nature.com)
  6. ^ gejala delirium yang tidak terobati (doi.org)
  7. ^ Shutterstock (www.shutterstock.com)
  8. ^ Perawat merawat lansia yang terdiagnosis delirium (academic.oup.com)
  9. ^ kepuasan diri (pubmed.ncbi.nlm.nih.gov)
  10. ^ standar klinis (www.safetyandquality.gov.au)
  11. ^ diperparah (associationofanaesthetists-publications.onlinelibrary.wiley.com)

Authors: Christina Aggar, Associate Professor of Nursing, Southern Cross University

Read more https://theconversation.com/delirium-adalah-sindrom-klinis-yang-sementara-bukan-penyakit-201566

Magazine

2 tahun perang di Ukraina: disinformasi agama dan retorika antisemit menyelimuti narasi pro-Rusia di Indonesia

shutterstockTomas Ragina/ShutterstockTepat 24 Februari dua tahun yang lalu, Rusia melancarkan serangan militer ke Ukraina. PBB memperkirakan sudah lebih dari 27 ribu warga sipil menjadi korban, baik m...

Seperti Palestina, Ukraina juga menanti solidaritas kemanusiaan dari Indonesia

Seorang perempuan Ukraina memeluk ketiga anaknya setelah mereka terpaksa meninggalkan negara mereka dan menjadi pengungsi.Marian Weyo/ShutterstockTepat dua tahun sudah Rusia melakukan invasi skala pen...

Indeks massa tubuh mungkin bukan indikator kesehatan terbaik - bagaimana cara memperbaikinya?

BMI dihitung dengan membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat.Christian Delbert/ ShutterstockIndeks massa tubuh atau BMI telah lama menjadi standar untuk mengukur kese...



NewsServices.com

Content & Technology Connecting Global Audiences

More Information - Less Opinion